Sabtu, 17 Februari 2018

TAPI APA YANG KAMU YAKINI?

Judulnya sengaja saya bikin agak aneh dengan kata-kata: "Tapi". Okey, abaikanlah itu. Sebab semua orang menyetujui begitu saja ketika agama dijadikan sebuah keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat, dimasukkan ke wilayah privacy, dipaketkan menjadi satu dengan hobby. Agama disamakan dengan hobby yang konsepnya: "suka-sukaku". Kamu suka mancing, aku suka sepakbola, hobby kita memang berbeda tapi sama-sama bisa menyenangkan hati. Agamamu Islam, agamaku Kristen, agama kita memang berbeda tapi sama-sama mengajarkan kebaikan.

Dasar hukumnya memang ada yaitu: UUD 1945, pasal 28:

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Di abad 17, ketika di Eropa diguncang oleh pemaksaan keagamaan Roma Katolik, banyak orang-orang di sana yang keluar meninggalkan Eropa, menuju ke dunia baru, yakni Amerika Serikat. Sejarah mencatat pelayaran kapal Mayflower, 1620, yang mengangkut kaum separatis Inggris ke Plymouth, Massachusetts. Di dunia baru Amerika Serikat itulah mulai ditanamkannya benih kebebasan dan hak asasi manusia, yang di tahun 1941 digaungkan kembali oleh presiden Franklin D. Roosevelt, tentang empat kebebasan yang diantaranya adalah Freedom of Religion atau kebebasan beragama.

Setiap orang diberikan kebebasan memilih agamanya. Agama adalah pilihan pribadi berdasarkan pada keyakinannya. Dari pada perang melawan orang Hindu atau Buddha, atau Islam atau Kristen, lebih baik berdamai dalam agama masing-masing. 

"Untukmulah agamamu, untukkulah agamaku" kata Muhammad; QS. 109:6.

Al Qur'an, Amerika Serikat dan Indonesia, menyerahkan agama sebagai pilihan masing-masing orang, yang harus dihormati. Saya tidak menentang di situ. Saya tidak suka perang, tidak suka kekerasan, benci dengan pemaksaan kehendak. Tapi saya hanya perlu mengingatkan dalam bentuk pertanyaan. Jika agama adalah keyakinanmu, maka pertanyaan saya adalah: memangnya apa yang kamu yakini itu?

Sebab para orangtua kaum teroris pasti berkeyakinan yang kuat kalau anak-anak mereka adalah anak-anak yang baik yang tidak mungkin terlibat terorisme. Keyakinan mereka di level "tidak mungkin" alias "mustahil". Tapi, sebaliknya, pihak kepolisian mempunyai keyakinan juga yang memastikan 100% "mungkin" dan "akurat" berdasarkan pembuktian. Dua keyakinan itu beradu, dan nyatanya keyakinan orangtua yang justru memiliki kedekatan hubungan dengan anaknyalah yang kalah, yang tidak benar. Pihak polisi yang tidak kenal-mengenal justru yang keyakinannya ampuh.

Di bidang agama ada banyak keyakinan. Ada keyakinan Islam, ada keyakinan Kristen, ada keyakinan Hindu, ada keyakinan Buddha, dan lain-lainnya. Ada yang yakin pada Awloh, ada yang yakin pada Yesus trinitas, ada yang yakin pada patung Buddha dan ada yang yakin pada dewa Syiwa. Yang yakin pada Awloh mengejek pada keyakinan Kristen yang menyembah manusia Yesus. Yang yakin pada Yesus mengejek pada keyakinan Buddha yang menyembah patung. Begitu seterusnya, satu sama lain saling mengejek.

Semua agama itu disebut keyakinan. Tapi apakah semua keyakinan itu sama-sama benarnya? Semua orang merasa benar dengan keyakinannya. Tapi apakah kebenaran itu benar-benar benar? Perlu atau tidak untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati, kebenaran yang tidak menipu, kebenaran yang berdasarkan bukti, kebenaran yang versi polisi?

Bagi saya, saya tidak mau memegang kebenaran yang semu, kebenaran yang tidak jelas, kebenaran yang palsu. Saya harus pastikan bahwa kebenaran saya adalah yang benar-benar benar.

Bukankah kasus-kasus penipuan yang marak sekarang ini kebanyakan didukung oleh sebuah keyakinan yang ternyata salah?! Kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi, kasus First Travel, kasus petugas PLN gadungan, dan lain-lainnya.

Oh, jangan-jangan keyakinanku atau keyakinanmu ada yang salah?

Image result for gambar agama-agama

1 komentar:

  1. Assalamualaikum 
    senang sekali saya bisa menulis kisah nyata kami 
    dan berbagi kepada teman-teman disini.

    Meski hidup dalam keprihatinan, karena hanya mengandalkan penghasilan dari jual gorengan, namun rumah tangga kami terbilang harmonis. Jika berselisih paham, kami selalu menempuh jalan musyawarah. Hal itu wajib kami terapkan untuk menutupi aib dan segala bentuk kekurangan yang ada dalam rumah tangga kami agar tidak terdengar oleh orang luar. Karena begitulah pesan dari para orang tua kami.

    Hari demi hari aku habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Hal itu aku lakukan, selain sadar akan tanggung jawabku sebagai orang tua , juga ingin menggapai harapan dan cita cita. Yah, mungkin dengan begitu ekonomi keluargaku dapat berubah dan aku bisa menyisihkan sedikit uang penghasilanku itu untuk masa depan anak-anakku dikemudian hari. Namun semua itu menjadi sirna.

    Selanjutnya kami pun melangkah untuk mencobanya minta bantuan melalui pesugiha dana gaib tanpa tumbal,alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan. 

    Jalan ini akan mengubah kemiskinan menjadi limpahan kekayaan secara halal dan tidak merugikan orang lain.

    Alhamdulillah semoga atas bantuan AKI ALI terbalaskan melebihi rasa syukur kami,
    saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami.
    Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan hubungi 
    AKI ALI di:+082 313 669 888
    Supaya lebih jelas kunjungi blog
    KLIK DI SINI



    BalasHapus