Sabtu, 12 Agustus 2017

DEMI ANAK LAWAN FULL DAY SCHOOL

"Ganti menteri ganti aturan", omel ibu-ibu yang kelabakan mengikuti selera individual para menteri, yang karena kedudukannya merasa sok pinter sehingga memposisikan dirinya sebagai pemain catur, sedangkan orang-orang lain diperlakukan sebagai buah caturnya.

Hasil gambar untuk gambar full day school

Full day school! Lima hari sekolah penuh dari jam 7 hingga jam 4 sore, dua hari libur penuh dalam setiap minggunya. Ooh, ada-ada saja!

Anak-anak? Itu adalah anak kita! Buah hati yang wajib kita kasih sayangi dan lindungi jiwanya. Masing-masing orangtua harus memiliki prinsip pemikiran sendiri untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Jangan ikut-ikutan orang, jangan ikut-ikutan tetangga, jangan dengar omongan orang dan abaikan suara pemerintah. Lebih-lebih pemerintah kita adalah kolam korupsi. Yang dipikirkan di otak para pejabat itu hanya uang, uang dan uang saja, bukan memikirkan anak-anak kita. Karena itu jangan berpikir bahwa program-program pemerintah itu selalu benarnya.

Anak-anak itu sesungguhnya adalah kita sendiri, sebab kita juga pernah sekolah. Nah, jika kita ketika sekolah malas dan jemu belajar, mengapakah anak-anak kita justru kita paksa sesuatu yang kita sendiri tidak sanggup memikulnya? Sekolah itu bukan nasi, sehingga anak yang lapar pasti mencarinya. Sekolah itu adalah sesuatu yang asing bagi jiwa alamiah kita. Itu sebabnya secara alami ada penolakan dari dalam jiwa kita, sehingga kita suka membolos, malas belajar dan membikin gaduh baik di rumah maupun di sekolah. Coba hitung, berapa gelintir siswa yang mencapai nilai tinggi dibandingkan dengan siswa yang nilainya rendah. Maka jika siswa yang nilainya rendah yang lebih dominan itu artinya kegagalan sekolah itu.

Apa sih sekolah itu? Apakah sebelum adanya lembaga sekolahan ada orang yang bersekolah? Apakah nenek-moyang kita di zaman purba bersekolah? Apakah pendiri sekolah itu bersekolah? Apakah para ilmuwan penemu rumus-rumus itu bersekolah sebelum adanya sekolahan? Tidak! Justru sekolahan itu dilahirkan oleh orang-orang yang tidak bersekolah. Para pendiri sekolahan adalah orang-orang yang mempelajari sesuatu secara otodidak, mereka menemukan suatu "ilmu", maka "ilmu" itulah yang ditularkannya melalui lembaga sekolahan. Mereka memposisikan sebagai guru sebagai permulaan berdirinya sekolahan. Tujuan mereka mendirikan sekolahan adalah untuk mencetak kader-kader secara praktis, secara singkat melalui penciptaan teori-teori metode pendidikannya.

Sebagai contoh, saya adalah tukang penambal ban atau memiliki keahlian mengukir. Anak-anak saya ajak menyaksikan saya bekerja, saya ajak membantu, lalu setelah cakap saya lepaskan dia bekerja menggantikan saya. Itu namanya sekolahan. Cuma saya tidak menerbitkan raport dan tidak memberikan nilai-nilai. Tapi sekalipun demikian saya bisa mengukur kemampuan mereka. Yang demikian ini namanya sekolahan informal atau tidak resmi.

Sedangkan sekolahan resmi adalah sekolahan yang mempunyai jam kerja atau jam sekolah, mempunyai program-program yang disebut kurikulum, menilai kemampuan siswa dengan angka-angka, dan memberikan kelulusan dengan tanda ijasah. Di sini anak-anak dipaksa masuk mengikuti irama program-program kurikulum itu. Lebih-lebih untuk sekolahan jenis sekolahan teori bukan jenis sekolah kejuruan yang menekankan prakteknya, maka hasilnya jelas anak-anak teori yang selalu gagap di praktek. Itu sebabnya anak-anak lulusan sekolahan itu ketika diterima bekerja, statusnya uji coba, belum mempunyai surat pengalaman kerja, gaji kecil, sering kali salah, sering kali dimarahi pimpinan, dan dibodoh-bodoh oleh teman-teman sekantornya yang sudah berpengalaman. Dan dari sana barulah mereka mempunyai surat pengalaman kerja. Ada jenjangnya; pengalaman kerja setahun, dua tahun, lima tahun, puluhan tahun, dan seterusnya. Sorry, faktanya lulusan sekolah harus diberi status: "Bego!"

Bandingkan dengan lulusan sekolah kejuruan. Aneh! Anak lulus sekolahan "bego" diagung-agungkan dan dibangga-banggakan, sedangkan anak lulusan sekolah kejuruan diremehkan. Padahal anak lulusan sekolah kejuruan bisa langsung kerja dengan gaji lebih baik. Mereka masuk kerja sudah langsung kerja menurut bidangnya, nggak bego-begoan begitu. Dan untuk urusan tehnik, perusahaan lebih mementingkan kenalan dari pada ijasah. Orang itu dikenal oleh si boss. Maksudnya, si boss sudah tahu kemampuan orang itu. Maka, tanpa surat lamaran, tanpa menanyakan ijasahnya, sudah langsung digaji besar. Malah si boss yang menanyainya: "Kamu minta digaji berapa?" Orang itu disegani boss, bukannya dijadikan terminal emosi.

Kasihani anakmu itu! Memang pendidikan harus dimulai dari usia dini. Otak anak-anak yang masih kosong itu perlu diisi dengan pengetahuan. Tapi jangan dipadati dan tak perlu ditarget. Bukan penuhnya otak yang penting, tapi kwalitasnya. Kwalitas dari apa yang kita ajarkan padanya. Dan itu memerlukan rasa enjoy si anak. Harus santai, bukannya tegang kayak ketentaraan, yang memberlakukan kedisiplinan. Kita harus seperti pemancing ikan, yang harus pandai memasang umpan supaya diminati oleh ikan. Kita harus pandai memancing minat anak untuk mempelajari sesuatu. Yah, orangtua memang perlu mikir, mikir tentang jiwa anak-anaknya. Jangan cuma bisa bikin anak tapi tak mempunyai kesiapan mendidik anak, lalu pilih jalan pintasnya, menyekolahkan mereka. Anak-anak kita, kita serahkan ke orang lain; guru! Memangnya siapa guru itu? Mereka adalah pekerja pencari nafkah. Yang dibutuhkan guru adalah duit! Gaji besar, bukan kasih pada anak-anak itu.

Bagi guru, yang penting dia sudah melakukan tugasnya mengajar. Perkara anak-anak itu jadi apa, rasanya belum sampai ke sana yang mereka pikirkan.

Sorry, anda adalah orangtua yang tidak bertanggungjawab, jika lebih memikirkan pekerjaan atau duit daripada memberikan perhatian serius kepada anak-anak anda sendiri. Harus anda pikir dan renungkan, mana yang lebih baik antara kaya tapi anak-anaknya rusak, dengan miskin tapi anak-anaknya bermartabat manusia.

Memasukkan pelajaran secara paksa ke dalam pikiran anak, bukanlah kehendak alamiah anak itu. Anak-anak tak merespon sesuatu yang asing baginya. Itu bagaikan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena itu anak-anak enggan masuk sekolah, malas belajar, dan akibatnya kenakalan. Dan itu dominan di antara anak-anak sekolah. Lihat saja nilai rata-ratanya, pasti tak pernah maksimal. Rajin sekolah, rajin belajar, mencapai ranking, itu adalah kehendak orangtua saja, kehendak sepihak saja. Anak-anak tak mempunyai kehendak di sana. Yang demikian itu namanya pemerkosaan. Anda memperkosa anak-anak anda sendiri!

Saya juga termasuk orangtua yang seperti itu. Kini kebodohan itu sangat saya sesalkan. Saya merasa berdosa baik pada TUHAN maupun pada anak-anak. Karena itu jika saya mempunyai kesempatan mengulang sejarah, hal-hal yang seperti itu takkan saya lakukan lagi.

Alkitab mengajarkan supaya kita mendidik anak-anak kita mengenal TUHAN;

Ul. 11:19Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;

Tapi bentuk pendidikannya adalah cerita. Menceritakan tentang pengalaman kita beriman pada TUHAN. Tak ada ulangan, tak ada acara ujian, tak ada nilai-nilai, tak ada raport dan tak ada ijasah. Yang penting adalah kita memberikan kesaksian atau testimoni, tanpa perlu memaksa si anak untuk mengerti atau pandai.

Soal masa depan dan rejeki anak itu sepenuhnya urusan TUHAN. Orangtua tak berkuasa mengatur jalan hidup anak. Orangtua harusnya mempunyai keinginan melihat anak-anaknya kelak menjadi orang yang berjiwa mulia, bukannya ingin melihat anak-anaknya mengenakan jas dan dasi, punya mobil, punya rumah mewah. Bukan keduniawiannya, tapi apakah anakku adalah manusia, bukannya binatang?!

Bagi pemikiran saya saat ini, apa sih salahnya jika anak saya berjualan gorengan dan hidup sederhana, daripada kaya menjadi incaran KPK?!

Jadi, sekolahan yang biasa saja harus saya tolak, lebih-lebih sekolahan model full day school. Harusnya sih pemerintah berkaca, introspeksi diri, bagaimana mengatasi menumpuknya pengangguran dari anak-anak yang sudah lulus sekolah. Jangan cuma bisa mencetak lulusan sekolahan tapi tak bisa menyalurkannya. Menteri pendidikannya juga harus memikirkan hasil sekolahan yang sekarang ini; mau dikemanakan mereka itu? Jangan memproduksi kalau tak mampu menjual. Mana ada pabrik macam begitu itu?!

Lebih baik anak-anak disuruh membantu bekerja mencari uang daripada disuruh sekolah. Sekolah hanya pengeluaran uang, investasi bodong. Sekolah hanya bikin pusing kepala para orangtua, tapi anak-anak yang bekerja bisa membuat tersenyum seluruh isi keluarga.

Coba hitung nilai ekonomisnya dari anak-anak lulusan sekolah yang pengangguran sekarang ini. Sekolah 10 tahun hasilnya menganggur. Lontang-lantung akhirnya masuk kerja menjadi Satpol PP, malah bikin pengangguran orang-orang yang sudah mempunyai pekerjaan. Dapat kerjaan tapi kerjaan yang bikin susah orang lain. Seandainya sedari kecil mereka dilatih bekerja, rasanya tak mungkin ada penduduk Indonesia yang sampai terpaksa memakan rumput, kayak kambing.

Hasil gambar untuk anak-anak yang bekerja

Hasil gambar untuk anak sekolah merokok

CALON SATPOL PP

Apa Itu Full Day School?

http://nusantaranews.co/apa-itu-full-day-school/

NUSANTARANEWS.CO, JakartaFull day school berasal dari bahasa Inggris yang berarti sekolah sehari penuh. Di Indonesia, pengertian full day school adalah sebuah sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh dimulai dari pukul 07.00-16.00 WIB.
Atas dasar keinginan pemerintah lebih menekankan pendidikan karakter, full day school kemudian segera diberlakukan pada kurikulum 2017/2018. Seperti diketahui, pada jenjang Sekolah Dasar (SD) mendapatkan pendidikan karakter 80 persen dan pengetahuan umum 20 persen. Sedangkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpenuhi 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuan umum.
Wacana Kemendikbud menerapkan full day school itu mendapat sorotan super tajam dari berbagai kalangan. Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus ialah soal waktu; full day school mengancam sekolah-sekolah diniyah!
Kendati wacana terus bergulir, Mendikbud masih terbuka untuk masukan-masukan dari masyarakat. Bahkan termasuk kondisi sosial dan geografis di mana saja di Indonesia yang dimungkinkan untuk diterapkannya full day school. Sebab, jika diterapkan secara nasional full day school tentunya akan banyak mendapat penolakan.
Namun pada intinya, Mendikbud ingin anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah ketimbang di rumah. Apalagi apabila orang tua masih bekerja. Tapi, alasan ini menjadi parsial bila dihadapkan pada kenyataan lain terutama di kawasan pedesaan di mana anak-anak justru membantu perekonomian orang tua dengan membantu kerja.
Belum lagi kalau bicara soal infrastruktur. Di pedesaan dan kota jelas jauh berbeda. Sehingga, wacana full day school memang perlu kajian yang komprehensif dan menyeluruh.
Terlepas dari itu, penerapan full day school sebetulnya bukan barang baru. Sedikitnya sudah ada 10 negara di dunia yang sukses menerapkan full day school ini seperti Singapura, Korea Selatan, Taiwan,  Inggris, Amerika Serikat, China, Jepang, Perancis, Jerman dan Spanyol.
Sekolah kesepuluh negara tersebut rata-rata menerapkan jam belajar hingga pukul 13.00 dan selebihnya dimanfaatkan untuk kegiatan ekstrakurikuler atau keterampilan siswa. (ed/berbagai sumber)

1 komentar:

  1. Awalnya saya hanya mencoba mengikuti program pesugihan akibat adanya hutang yang sangat banyak,dan akhirnya saya mencari jalan pintas meskipun itu dilarang agama,apa boleh buat dengan kondisi keuangan,dan akhirnya saya menemukan seorang dukun yang bisa membantu,saya di kasi pesugihan dana gaib tanpa tumbal sebesar 10M.alhamdulillah dengan seisin gusti allah dengan lantaran MBAH BUDI HARTONO,saya dapat mengubah hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya,berkat bantuan MBAH BUDI HARTONO dengan waktu yang singkat,saya sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup,bagi saudarah bisa membuktikan sendiri,silahkan hubungi MBAH BUDI HARTONO di no 085256077899 untuk info lebih lengkap buka blog mbah karna di dalam blognya sumuanya sudah di jelaskan klik PESUGIHAN DANA GAIB TANPA TUMBAL yang penting anda yakin dan percaya,dan jangan samakan dengan dukun yang lainnya,bantuan MBAH BUDI HARTONO tidak ada epek samping aman tanpa tumbal,dan meman tidak ada duanya,wassalam dari saya ibu herlina..

    BalasHapus