Sabtu, 31 Mei 2014

Inilah Kepalsuan Donasi Konstantin



Download:



Kepalsuan Donation Of Constantine pada abad ke delapan mengacaukan banyak hal.
Seperti ayahnya, Konstantine mendukung Kristen. Konstantin menghormati mereka sebagai kelompok yang mendukung perjuangannya menjaga tahta dari saudaranya Mexentius.
Sebelum pertempuran , Konstantin mendapat petunjuk. Dalam petunjuknya ia melihat sebuah salib bercahaya tergantung di langit dengan tulisan di bawahnya :
“ In Hoc Signo Vinces “ artinya “ Dengan Tanda Ini,Kalahkanlah “
Tradisi mencatat, untuk menghormati tanda yang didapat, ia memerintahkan pasukannya mengenakan seragam monogram Kristen-huruf Yunani Chi Rho, dua huruf pertama kata “Cristos”. Akibatnya kemenangan Konstantin atas Maxentius di Milvian Bridge diingat sejarah sebagai kemenangan agama Kristen atas Paganisme.
Menurut tradisi gereja, kejadian itulah yang “ mengubah “ Kekaisaran Romawi menjadi “ Kristen “.
PADAHAL KONSTANTIN TIDAK MELAKUKANNYA !
Pertama, Konstantine tidak berpindah ke Kristen. Ia tetap Paganis.
Ia mendapat visi di halaman Kuil Pagan Gallic Apollo di Vosges atau dekat Autun.
Saksi yang menemani Konstantin mengatakan, pengalaman itu sebenarnya muncul dalam bentuk Dewa Matahari – dengan nama : SOL INVICTUS ( Matahari Yang Tak Terkalahkan ).
Dan sebelum mendapatkan visi tersebut, Konstantin telah diinisiasi dalam sekte Sol Invcitus.
Setelah Perang , Senat Romawi mendirikan gerbang di Colosseum, bertuliskan : kemenangan Konstantin merupakan kemenangan “lewat bantuan dewa “.
Dewa tersebut adalah Sol Invictus.
Sepanjang hidupnya KOnstantin bertindak sebagai Kepala Pendeta. Kekaisarannya disebut “ Kekaisaran Matahari “ dan Sol Invictus terpampang termasuk bendera dan uang kerajaan.
Pendapat yang mengatakan Konstantin mengubah keyakinan menjadi Kristen adalah Salah Besar !

Kontantin sendiri belum dibaptis sampai tahun 337 M, ketika dalam keadaan sekarat dan terlalu lemah untuk memprotes. Ia juga tidak diberi piagam penghargaan monogram Chi Rho.
Bagi Kontantin, pemujaan Sol Invictus sederhana. Tujuan utamanya adalah kesatuan-dalam politis, agama dan teritori. Sebuah sekte atau agama Negara yang memasukkan segala pemujaan lainnya ke dalamnya, akan mempermudah jalannya kesatuan-Konstantin melihat, di bawah lindungan Sol Invictus, agama Kristen akan mendapatkan “kursi”.

Kristen Ortodoks memiliki banyak kesamaan dengan pemujaan Sol Invictus dan dibawah toleransi mereka saling menghormati
Dengan dekrit penyebaran pada tahun 321 M, Konstantin memerintahkan pengadilan hokum tutup pada hari “ Pemujaan Matahari “ dan memutuskan bahwa hari itu dijadikan hari istirahat 
Sebelumnya umat Kristen merayakan hari Sabbath bangsa Yahudi – Saturday ( hari Sabtu ) sebagai hari suci. 

Sekarang sesuai dekrit Konstantin hari suci itu diganti menjadi Sunday 
Dengan begitu pemeluk agama Kristen mengganti hari istirahat mereka dari Sabtu menjadi Minggu, dan hal itu membuat jarak dengan Yahudi makin lebar.

Hingga abad ke 4, ulang tahun Yesus dirayakan pada tanggal 6 Januari. 
Bagi pemuja Sol Invictus, hari penting mereka adalah tanggal 25 Desember, yang merupakan perayaan Natalis Invictus – Kelahiran Kembali Matahari.

Pemuja Sol Invictus senang bergabung dengan kaum Mithras, mereka dekat dan susah dibedakan. Keduanya menekankan pada kedudukan matahari, Keduanya menetapkan hari Sunday ( Hari Matahari ) sebagai hari suci. Keduanya sama-sama merayakan hari besar pada 25 Desember.
Sekte Mithras juga percaya pada jiwa yang abadi, pengadilan terakhir, dan kebangkitan kembali orang yang meninggal.
Pemeluk agama Kristen melihat kesamaan ini dan mersa cocok.

Dalam kepentingannya akan kesatuan, Konstantin memberikan toleransi yang besar pada pendewaan Yesus sebagai perwujudan Sol Invictus di bumi. Iapun membangun gereja dan bersamaan dengan patung Ibu Dewi Cybele dan Sol Invictus, yang kemudian menjadi imej dirinya sendiri.
Bagi Konstantin, keyakianan adalah urusan politik, dan keyakinan yang kondusif untuk persatuan dan kesatuan diperlakukan dengan baik.

Konstantin bukan pemeluk agama Kristen sebagaimana dikatakan 
, ia hanya menggabungkan beberapa keyakinan atas nama kesatuan dan keseragaman dalam bentuk Kristen Ortodoks.

Pada tahun 325 M, ia mengadakan KONSILI NICEA.
Pada Konsili itu hari PASKAH baru ditentukan.
Hukum dibatasi hingga menegaskan kewenangan uskup, karena itu dapat melicinkan jalan bagi pemusatan kekuasaan di tangan gereja.

Yang paling penting dari semuanya, keputusan Konsili Nicea diambil dengan pengambilan suara, bahwa Yesus adalah seorang dewa, bukan hanya sekadar nabi yang wafat.

Perlu ditekankan bahwa, pertimbangan terbesar Konstantin bukanlah kesalehan tetapi kesatuan dan kemanfaatan.
Sebagai seorang dewa Yesus dapat dihubungkan dengan Sol Invictus. Sebagai seorang nabi yang bisa wafat, ia lebih sulit menolong. Singkatnya ortodoksi ikut dalam kesatuan politis yang dikehendaki bersama dengan agama resmi Negara dan Konstantin memberi dukungan terhadap ortodoksi.

Setahun setelah Konsili Nicea, ia melegalkan perusakan semua karya yang menentang ortodoksi, yaitu karya pagan yang mengacu Yesus, dan orang Kristen penyebar bid’ah.
Ia juga mendanai gereja mendirikan keuskupan di Roma dan istana Lateran. Lalu tahun 331 M, membeli salinan kitab suci yang baru.

Sebelumnya, tahun 303 M, Kaisar Pagan – Diocletian telah memerintahkan untuk menghancurkan seluruh tulisan Kristen yang dapat ditemukan.
Akibatnya dokumen Kristen- di Roma menghilang.
Ketika KOnstantin memesan versi baru dokumen tersebut para pemelihara ortodoksi menuliskan kembali, mengedit dan meninjau materi tersebut.
Mereka melihat banyak sesuai ajaran mereka. Mungkin saat itulah “penggantian” pada Perjanjian Baru terjadi, dan sejak itulah Yesus mendapatkan status unik.

Tindakan Konstantin memesan versi baru karya Kristen tidak boleh dianggap remeh. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar