Kamis, 31 Oktober 2013

Khat Tanaman Terlarang Bekhasiat



Download:


Masyarakat tentu masih ingat dengan informasi tertangkapnya artis Raffi Akhmad di rumah kediamannya dan diduga mengkonsumsi barang terlarang, dari hasil penyidikan oleh BNN ditemukan barang bukti dalam bentuk serbuk yang mengandung katinona, yang berbahan dasar dari Narkoba khattumbuhan khat. Ternyata selain memiliki khasiat terlarang juga mempunyai khasiat khusus lainnya.
Masyarakat menyebut tanaman yang tingginya bisa mencapai 2 meter itu dengan nama khat, gat, qat, atau teh arab. Khat Catha edulis berasal dari Afrika tengah dan Timur Tengah terutama Yaman. Khat masuk ke Indonesia, khususnya daerah Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui para wisatawan dari Timur Tengah pada 2005. Sejak saat itu, masyarakat di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, mulai membudidayakan khat.
Amfetamin alami
Sedikit orang mengetahui bahwa pemerintah menetapkan zat katinona sebagai psikotropika sejak 1997. Kemudian statusnya berubah menjadi narkotika golongan I pada Undang-Undang No.35 tahun 2009. Asal-usul penetapan status narkotika bagi katinona berdasarkan penjabaran yang dijelaskan oleh dr Al Bachri Husein, SpKJ merujuk pada ketetapan WHO pada 1974 yang menetapkan katinona sebagai obat-obatan terlarang golongan I.
Dalam buku Mark Spirella The Psychopharmacology of Herbal Medicine: Plant Drugs That Alter Mind, Brain, and Behavior, terdapat lebih dari 40 alkaloids, glikosida, tanin, dan terpenoid di dalam khat. Selain itu, dua fenilalkilamin atau disebut katin (norpseudoephedrine) dan  katinona [S-(-)-alpha-aminopropiophenone] atau CNS stimulant effects.  Berdasarkan strukturnya, gugusan katinona mirip dengan amfetamin ungkap Kalix P dari Departemen Farmakologi, University of Geneva, Swiss.
Banyak ahli mengaitkan hubungan antara katinona yang terkandung dalam daun khat dengan zat penenang seperti amfetamin. Tak heran, bila khat pun sering disebutkan sebagai amfetamin alami.  Menurut direktur Rumahsakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, dr Laurentius Panggabean SpKJ, dampak penggunaan katinona sama dengan golongan zat stimulan pada umumnya. Efek katinona berpengaruh terhadap psikomotorik seseorang seperti euforia, hiperaktif, dan insomia. “Khat digolongkan menjadi narkotika, karena menyebabkan ketergantungan,” kata dokter spesialis kesehatan jiwa itu.
“Namun potensi dan ketergantungannya tidak separah penggunaan amfetamin,” kata alumnus Universitas Indonesia itu. Laurentius menjelaskan efek penggunaan katinona akan merangsang kerja sistem saraf pusat. Sebab, katinona menambah tingkat neurotransmitter pada sistem limbik otak.  Efeknya akan memperbanyak dopamin dan serotonin. Banyaknya dopamin mengakibatkan gejala-gejala euforia serta memicu peningkatan pernapasan, tekanan darah, dan denyut jantung, serta gelisah.
Peningkatan kerja organ dalam jangka panjang menyebabkan dehidrasi, sehingga memicu kerusakan organ tubuh. Menurut Laurentius khat tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan alkohol dan nikotin. Sayangnya, katinona sejak lama disintesis menjadi zat turunan, misalnya menjadi metkatinona yang ditemukan di Jerman pada 1928. Penggunaannya sebagai antidepresi di Rusia pada 1928—1930. Bahkan, metkathinon pernah dipatenkan di Amerika Serikat sebagai obat penekan nafsu makan.
Namun, kemudian zat itu dianggap lebih condong kepada penyalahgunaan dan ketergantungan sehingga akhirnya dilarang beredar. Hal seperti itulah yang menyebabkan perubahan status katinona dari psikoaktif yang fungsinya seperti stimulan layaknya kafeina pada kopi berubah mejadi narkotika sekelas amfetamin.
Fakta ilmiah
Menurut Laurentius masyarakat Timur Tengah sudah mengonsumsi khat sejak 1.000 tahun yang lalu. Penggunaan tanaman khat di negara seperti Yaman, Somalia, dan Kenya tak ubahnya seperti kebiasaan menyirih di Indonesia. Mereka mengunyah daun khat segar selama kurang lebih 30 menit dan mengeluarkan kembali ampasnya. Dengan khasiatnya yang dianggap stimulan, masyarakat negara setempat memanfaatkannya sebagi  peluruh lelah, sakit kepala, dan penyemangat kerja.
Mantan pekebun khat di Cisarua, Kabupaten Bogor,  Hambali, mengatakan bahwa  penggunaan tanaman khat tak ubahnya herbal bagi turis asing asal Timur Tengah. “Orang  Arab makan gat  untuk obat  menurunkan kolestrol, obat kuat,  dan untuk  mengurangi kantuk,” kata Hambali yang kebunnya dimusnahkan.
Hasil riset dari Wafa Ibrahim, Departemen Biologi dan Geologi, Ain Shams University, Saudi Arabia, menyatakan daun khat mengurangi jumlah serum kolestrol, tingkat konsentrasi, kolesterol jahat atau LDL, kadar kolesterol total, dan glukosa. Riset lain oleh Abdul Waheb dari Departemen Farmakologi, Addis Ababa University, mengemukakan bahwa ekstrak khat dengan dosis tinggi justru menghambat perilaku seksual. Sebaliknya penggunaan khat berdosis rendah meningkatkan motivasi seksual atau gairah.
Riset ilmiah membuktikan bahwa tanaman anggota famili Celastraceae itu terbukti manjur sebagai afrodisiak dan menekan kolesterol jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar