Kamis, 22 Agustus 2013

Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan



Download:

Tahun 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan

Pada abad kesembilan belas, liberalisme telah menekankan kemajuan manusia dan perubahan dalam dunia.

Namun jika manusia telah maju sebegitu jauh, mengapa ia harus terlibat dalam perang dunia? Jika penemuan-penemuannya dalam teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi begitu efektif, mengapa ia mengarahkan penemuan-penemuan itu kepada yang lain?

Manusia telah tersanjung dengan kemampuannya sendiri. Langkah-langkah panjang yang dicapai ilmu pengetahuan tampaknya membuat dunia menjadi tempat yang tidak misterius lagi. Daripada mencari Allah yang supranatural, banyak orang mencoba mewujudkan surga di atas bumi.

Darwin dan para ahli ilmu pengetahuan lainnya mempertanyakan unsur-unsur supranatural yang dikandung Alkitab. Apakah manusia sesungguhnya ciptaan khusus? Apakah mujizat benar-benar dapat terjadi? Apabila kita dapat mengatur sendiri alam ini, mengapa kita harus membutuhkan Allah? Teologi liberal pada zaman ini menggambarkan Allah tanpa murka, Kristus yang hanya mengajarkan etika, dan kerajaan dunia ini.

Akan tetapi, Perang Dunia I mempertanyakan semuanya itu. Dengan kemajuan Eropa Kristen yang masih meragukan, banyak orang melihat sifat kemerosotan pemikiran liberal. Salah satunya adalah seorang pendeta, Karl Barth. Karena berhadapan dengan kekejainan peperangan, pendeta liberal ini berpaling pada Surat Paulus untuk Jemaat Roma. Apa yang ia temukan di situ mengubah imannya dan mewujudkan gejolak dalam teologi yang mengingatkannya pada Agustinus, Luther dan Wesley.

Tafsiran Surat Roma, yang disebut "bom di tempat bermain para teolog liberal", menerangkan Allah sebagai yang berdaulat dan transenden. Kejatuhan manusia seperti yang ada dalam Kitab Kejadian 3 adalah benar, ujar Barth. Di situ, seluruh keberadaan manusia telah rusak karena dosa dan ia tak lagi dapat menemukan kebenaran Allah dengan usahanya sendiri. Allah harus menampakkan diri-Nya pada manusia, dan la melakukannya melalui Yesus Kristus.

Pernyataan ulang doktrin Barth ini, yang menggunakan istilah-istilah Protestan klasik, mengundang diskusi. Menjelang tahun 1930, pendeta tersebut telah menjadi profesor teologi di Jerman.

Bersama-sama dengan yang lain di Confessing Church (Gereja yang Mengaku), Barth menentang para Nazi dan menulis sebagian besar "Barmen Declaration" (Deklarasi Barmen), yang mengajak orang-orang Kristen menentang tipu muslihat Hitler yang dipakai untuk melawan Gereja. Satu tahun kemudian, pada tahun 1935, Barth diusir dari Jerman dan ia pergi ke Basel, Swiss, untuk mengajar teologi. Selama berada di sana ia banyak menulis, termasuk karya utamanya Church Dogmatics (Dogmatika Gereja), suatu mahakarya Protestan.

Ide-ide Barth menjadi dasar bagi neo-orthodoksi. Teologi abad kedua puluh ini antiliberal, dalam tekanannya pada studi Alkitab, dosa, dan dalam sikapnya terhadap kedaulatan Allah. Namun, teologi ini bersifat ambivalen terhadap historisitas Alkitab, khususnya pada Perjanjian Lama. Sambil menegaskan sebagian besar ajar-an Alkitab, teologi ini tidak perlu menerima bahwa setiap peristiwa dalam Alkitab terjadi dalam ruang dan waktu. Para pengkritiknya telah mengatakan bahwa neo-orthodoksi berupaya juga "menikmati hasilnya dari kedua sisi yang berbeda", dengan menegaskan doktrin tradisional, sementara memberi juga peluang bagi para skeptik yang meragukan sifat historis Kristen.

Para teolog seperti Emil Brunner, Gustaf Aulen, Reinhold, Richard Niebuhr dan Friedrich Gogarten sepaham dengan kepercayaan Barth tentang kedaulatan Allah dan dosa manusia, serta menekankan bahwa iman berarti lebih dari sekadar mengatakan ya terhadap beberapa proposisi teologis. Karena ne-oorthodoksi menerima perlunya "lompatan iman" untuk mengatasi kebenaran yang tampaknya sulit dan berkontradiksi, maka paham itu disebut teologi krisis.

Di dunia yang telah mengalami dua peperangan berat, ide-ide Barth membawa kembali gereja-gereja pada tema-tema dosa dan kedaulatan Allah. Banyak orang Kristen menganggap bahwa tulisan-tulisannya yang berjilid-jilid itu merangsang dan membingungkan. Barth bermain-main dengan universalisme, ide bahwa akhirnya Allah akan menyelamatkan semua orang, meskipun ia tidak pernah berbenturan dengan pertanyaan itu. Dalam teologinya yang berpusat pada Kristus, ia sering kali menempatkan Kristus dalam Perjanjian Lama di tempat-tempat yang mustahil. Ia juga tidak setuju bahwa Kitab Suci tidak dapat salah atau tidak dapat keliru.

Dari sisi positif, Barth mendorong pemahaman Alkitab yang serius, menekankan khotbah-khotbah yang dinamis dan mengembalikan manusia pada pengertian kebutuhannya akan Allah Yang Mahakuasa. Ketika banyak orang berpaling pada dunia untuk berharap, ia panggil mereka kembali untuk menatap kepada Kristus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar