Senin, 17 Juni 2013

Siapa Sebenarnya Suharto? (3)


Dari:


Rizki Ridyasmara – Minggu, 7 Desember 2008 07:06 WIB
Pasca Perang Dunia II, AS melihat Rusia sebagai satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia. Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia selatan, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kaya dengan sumber daya alam dan juga manusianya. AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Soviet. Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia-lah negara yang paling strategis dan paling kaya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.
Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan licin. Dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana CIA ikut terlibat langsung berbagai pemberontakan terhadap kekuasaan Bung Karno. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai politik demi kepentingannya (antara lain lewat PSI), membina sel binaannya di ketentaraan (local army friend) dan sebagainya. Setelah berkali-kali gagal mendongkel Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil disingkirkan.
Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Jenderal Suharto mengendalikan negeri ini. Pekan ketiga sampai dengan awal 1966, Jenderal Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yag dituduh kader atau simpatisan komunis (PKI),  tanpa melewati proses pengadilan yang fair. Media internasional bungkam terhadap kejahatan kemanusiaan yang melebihi kejahatan rezim Polpot di Kamboja ini, karena memang AS sangat diuntungkan.
Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat.
Benar saja, Nopember 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui para ’bos’ Yahudi Internasional di Swiss. Disertasi Doktoral Brad Sampson, dariNorthwestern University AS menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam The New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis:
“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia.
Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”
Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.
“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”
Masih dalam kutipan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”
“Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”
Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.
Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Oleh Suharto, rakyat dijejali dengan propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah proses pemiskinan bangsa secara sistematis yang dilakukan rezim Suharto.(bersambung/rd)

Ketika Indonesia Mulai Menjadi Kapitalis


http://yudiweb.wordpress.com/home/

Jangan Lagi Tabukan Pendidikan Seksualitas

Oleh Hivos | Newsroom Blog –  Sen, 10 Jun 2013
Susi, seorang siswi Madrasah Tsanawiyah di sebuah pesantren meringis kesakitan. Hari ini, ia mendapatkan menstruasi untuk pertama kali. Awalnya, ia merasa sedikit ketakutan menemukan bercak merah di celana dalamnya. 

Dan lambat laun jumlahnya semakin banyak sehingga beberapa kali ia harus mengganti pakaian dalamnya. Dengan was-was ia ceritakan hal itu kepada Haifa sahabatnya, yang untunglah telah memiliki pengetahuan soal itu karena ia telah terlebih dahulu mengalaminya. Lalu, ia mengajarkan pada  Susi bagaimana cara memasang pembalut wanita. Mungkin karena grogi, Susi tak lagi memperhatikannya dengan seksama. Ia terbalik memasangnya, sehingga justru bagian perekat pembalut itu melekat pada organ seksualnya.
 
Sementara itu Anto seorang remaja SMP, merasa ketakutan pada ibunya karena telah mengotori seprei Naruto favoritnya. Pagi ini, dia bangun tidur dalam keadaan basah seperti mengompol, setelah tadi malam bermimpi kencan dengan salah satu penyanyi girl-band pujaan hatinya. Ia bingung pada siapa harus bercerita. Ibunya pasti akan memarahinya dan menganggapnya kolokan, sementara ia takut kalau harus becerita pada ayahnya. Mau bercerita pada teman pun, ia khawatir jadi bahan olok-olok teman sekelasnya. 

Kisah Susi maupun Anto, sebenarnya hanya sedikit tentang beragam kisah remaja yang mengalami kegamangan karena minimnya akses informasi yang benar dan tepat terkait dengan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Selama ini, kebanyakan masyarakat menganggap bahwa perbincangan seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi adalah hal yang tabu. ’Saru’ kata orang Jawa, atau ’pamali’ kata orang Sunda. Singkat kata, tidak pantas. Oleh karenanya, orang tua baik ibu maupun ayah merasa kurang penting untuk memahami situasi maupun membicarakan secara terbuka tentang hal ini kepada anak-anaknya. 

Berapa banyak anak seperti Susi yang telah mengalami persiapan menghadapi menstruasi dari orang tuanya sendiri? Dan berapa  banyak pula remaja laki-laki seperti Anto  yang bisa  bercerita dengan nyaman pada sang ayah mengenai mimpi basah yang dialami? 

Banyak salah kaprah di masyarakat sehingga memandang ’seksualitas’ sebatas hubungan intim (baca: hubungan seksual) antara laki-laki dan perempuan dewasa, yang hanya dapat  dilakukan  setelah dilangsungkannya perkawinan. Soal menstruasi dan mimpi basah, soal alat dan fungsi organ reproduksi, seringkali menjadi domain pihak sekolah yang semestinya diajarkan oleh Guru Agama (terutama Fiqh) maupun Guru Biologi. 

Padahal, perkembangan jiwa yang dialami oleh seorang anak, bagaimana identitas gender ditanamkan, seringkali terjadi pada masa pubertas, di mana orang tua mestinya lebih bisa memantau perkembangan putra-putrinya. 

Tak heran, ide soal ”pendidikan seks” selalu memunculkan kontroversi. Gagasan untuk memasukkan materi pendidikan seks  dan kesehatan reproduksi di dalam kurikulum sekolah dituduh sebagai ajang penyebaran pornografi. Sehingga, pada tahun 1989 , Kejaksaan Tinggi Daerah husus Ibukota Jakarta memusnahkan lebih dari 8000 eksemplar buku pendidikan seks bagi anak-anak yang merupakan karya terjemahan yang disunting oleh seorang ahli pendidikan, Profesor Conny R. Semiawan bertajuk ’Adik Baru’. 

Sesungguhnya, ketertutupan masyarakat tentang pendidikan seks di kalangan anak dan remaja justru dapat memicu terjadinya bencana sosial. Ketidaktahuan anak akan praktik incest yang dilakukan oleh orang dewasa,  perkosaan ’atas nama cinta’  yang dilakukan oleh sang pacar,  kehamilan yang tak diinginkan (KTD) yang memicu tingginya kasus Married By Accident (MBA),  kejahatan seksual di dunia maya  maupun  yang diakibatkan oleh pergaulan dengan orang yang hanya dikenal melalui jejaring sosial, justru membuat anak-anak dan kaum remaja menjadi rentan korban. Selain itu, informasi yang salah kaprah justru membuat mereka menjadi sosok yang tidak memiliki perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab.

Seringkali didengungkan bahwa ’Pelajaran Agama’ ataupun ’Budi Pekerti’ yang berisi nilai-nilai adalah solusi jitu untuk mengatasi beragam problematika kekinian remaja terkait dengan soal seksualitas. Namun, tanpa visi dan perspektif yang baik mata pelajaran itu justru akan terjebak untuk menyampaikan sejumlah perintah dan larangan yang membuat remaja semakin terasing dari dunianya. 

Remaja perlu diajak untuk mengenali organ reproduksi mereka sendiri maupun fungsi-fungsinya, bagaimana cara menjaga alat maupun fungsi reproduksi mereka,  serta bagaimana tatanan sosial turut andil dalam memaknai seksualitas dan reproduksi tersebut. 

Remaja juga perlu diajarkan tentang ’otonomi tubuh’ serta ’bela diri’,  agar memiliki perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab, serta dapat menghadapi pihak-pihak lain yang hendak menyerang otonomi tubuhnya. Tak peduli bahwa mereka adala orang-orang yang selama ini mereka tuakan, atau seseorang yang sangat mereka cintai. AD. Kusumaningtyas   
 
Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari program penguatan akses kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja yang didukung oleh Kedutaan Norwegia dan Hivos yang melibatkan organisasi Rahima, PKBI, Pamflet dan Pusat Studi Gender dan Seksualitas UI.

Facebook dan Microsoft Akui Dimintai Data oleh AS

Dreamers Radio –  53 menit yang lalu




DREAMERSRADIO.COM -
Tahukah kamu kasus terbesar di dunia yang melibat teknologi informasi. Pasalnya baru-baru ini Amerika Serikat dianggap telah menyadap privasi masyarakat Amerika dan dunia. Beberapa perusahaan yang harus menyerahkan data kepada pemerintah Amerika Serikat adalah Facebook dan Microsoft.
Meski demikian, mereka dilarang memberitahukan berapa banyak data tersebut yang berkaitan dengan keamanan nasional. Dua perusahaan raksasa ini merupakan bagian dari sekian banyak perusahaan teknologi AS yang menjadi sorotan.
Dilansir dari AFP, Baru-baru ini, mereka dituding menjadi alat mata-mata pemerintah AS. Sementara itu, pemerintah AS bersikeras bahwa mereka hanya menyasar terduga pelaku teror. Facebook mengatakan menerima sekitar 9 ribu - 10 ribu permintaan berkaitan dengan data pengguna selama paruh kedua tahun lalu. Permintaan ini meliputi 18 ribu - 19 ribu akun.
Sementara itu Microsoft, menyebutkan pihaknya menerima 6 ribu - 7 ribu permintaan data pengguna, melibatkan sekitar 31 ribu - 32 ribu akun. Jumlah permintaan dari pemerintah AS ini terjadi pada periode yang sama dengan Facebook. Permintaan itu meliputi surat perintah kriminal, panggilan dari pengadilan dan perintah lainnya.
Organisasi kebebasan berinternet Center for Democracy & Technology mengapresiasi apa yang dilakukan Microsoft dan Facebook. Terkuaknya informasi ini dinilai sebagai langkah penting.
“Kami menyambut baik informasi yang disampaikan dan berterimakasih kepada Microsoft maupun Facebook. Tentunya, kami akan terus menggali lebih banyak informasi,” ungkap Kevin Bankston selaku juru bicara organisasi tersebut.
Seperti diketahui, Facebook, Microsoft, Google dan perusahaan teknologi lainnya baru-baru ini dengan tegas membantah ikut andil dalam program rahasia bernama PRISM. PRISM yang dimulai pada 2007 dan berkembang menjadi program paling produktif dalam top-secret daily intelligence briefing Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Sebuah laporan menyebut sejumlah perusahaan Silicon Valley yang terlibat program ini antara lain Apple, AOL, Facebook, Google, Microsoft, PalTalk, Skype, Yahoo dan YouTube. Seperti diketahui, program in memberikan akses ke National Security Agency (NSA) dan FBI ke server mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar