Selasa, 07 Mei 2013

PERGERAKAN GUNUNG


Download:


Sebelum Al Qur’an menuliskan tentang pergerakan gunung-gunung, Alkitab Perjanjian Lama, yaitu kitab Ayub, sudah menuliskannya;

>> Ayub   9:5           Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak
                                  diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam
                                  murka-Nya;

>> Ayub  14:18              Tetapi seperti gunung runtuh berantakan,
                                        dan gunung batu bergeser dari tempatnya,

>> Ayub  18:4           Engkau yang menerkam dirimu sendiri dalam kemarahan, demi
                                  kepentinganmukah bumi harus menjadi sunyi, dan gunung
                                  batu bergeser dari tempatnya?

>> Wahyu   6:14               Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan
                                            tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pergerakan GunungDalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml : 88)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Misteri Awan Tsunami Raksasa di Langit Alabama


http://l3.yimg.com/bt/api/res/1.2/47sfNH.ywJHr4lw4i3Z90w--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Y2g9NDQ4O2NyPTE7Y3c9NjAwO2R4PTA7ZHk9MDtmaT11bGNyb3A7aD00NzE7cT04NTt3PTYzMA--/http://l.yimg.com/os/152/2011/12/19/k-h-clouds-1_204718.jpg
Awan berbentuk gelombang tsunami yang bergulung-gulung di langit Alabama, AS. Foto: yahoo.com


Barisan awan raksasa itu bagai mengepung langit kota Birmingham di Alabama, Amerika Serikat, Jumat lalu. Awan berbentuk gelombang tsunami yang bergulung-gulung itu membuat stasiun cuaca setempat kebanjiran pertanyaan penduduk yang datang membawa foto awan aneh itu, “Apakah ini tsunami di langit?”

Para pakar mengatakan awan ini adalah contoh “gelombang Kelvin-Helmholtz.” Entah di langit atau di samudera, jenis turbulensi itu selalu terbentuk ketika lapisan atau cairan yang bergerak cepat meluncur di atas lapisan tebal yang bergerak lebih lambat sehingga menyeret permukaannya.

Gelombang air, misalnya, terbentuk ketika lapisan fluida di atasnya (udara) bergerak lebih cepat daripada lapisan fluida di bawahnya (air). Ketika perbedaan antara kecepatan angin dan air meningkat ke titik tertentu, gelombang pecah, membentuk seperti cabit yang condong ke depan. Bentuk itulah yang disebut sebagai bentuk gelombang Kelvin-Helmholtz.

http://media.vivanews.com/images/2010/12/01/100695_awan-badai.jpg

Menurut Chris Walcek, ahli meteorologi di Atmospheric Sciences Research Center di State University of New York di Albany, angin yang bergerak cepat di langit dapat menyeret puncak awan tebal yang bergerak lambat di bawahnya dengan cara yang sama.

“Dalam gambar langit Birmingham, kemungkinan ada lapisan udara dingin dekat permukaan yang kecepatan anginnya rendah,” kata Walcek. “Itulah sebabnya ada awan atau kabut di lapisan itu. Di atas lapisan awan dingin yang bergerak lambat itu kemungkinan ada lapisan udara hangat yang bergerak lebih cepat.”

Umumnya, perbedaan kecepatan angin dan temperatur antara dua lapisan atmosfer ini begitu kecil sehingga udara yang bergerak cepat ini meluncur dengan lancar di atas udara yang bergerak lambat,” kata Walcek. Ada kalanya, perbedaannya begitu ekstrem. Jika perbedaan kecepatan angin terlalu besar, antarmuka antara kedua lapisan itu pecah menjadi turbulensi acak.

Gelombang Kelvin-Helmholtz terbentuk ketika perbedaan kecepatan angin dan temperatur di kedua lapisan menyentuh titik yang tepat. “Foto ini menunjukkan udara di antara dua lapisan atmosfer ini amat mendekati ambang batas turbulensi dan bercampur untuk menggabungkan kedua lapisan itu menjadi satu,” ujarnya.

http://asiaaudiovisualex09ramliprasetio.files.wordpress.com/2009/11/tsunami-dust-wave.jpg














































Geger Daratan Bergeser

CIKANDE, BP – Fenomena alam yang terjadi di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang membuat geger. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Banten ternyata melahirkan kejanggalan di Kecamatan Cikande.
Menyusul, bergesernya daratan sekitar seluas hampir satu hektar, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 13 petak sawah milik warga. Kabar ini langsung menyebar dan ribuan orang pun berduyun-duyun datang ke lokasi ingin menyaksikan keanehan itu secara langsung.
Fenomena alam yang diduga akibat banjir itu terjadi di Kampung Dahu Utara, Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Sekitar, 8000 meter persegi daratan yang bergeser dari posisi semula.
Sebelumnya, daratan yang berupa lahan gambut tersebut berada di sebelah selatan Kampung Dahu Utara, namun kini berada di sebelah utara dan menimbun 13 petak sawah milik petani setempat.
Sementara, lahan bekas daratan sebelumnya kini menganga kosong seperti danau buatan. Tidak diketahui pasti kapan daratan ini pindah tempat. Namun, fenomena yang menyedot perhatian warga tersebut diketahui pasca-banjir besar Minggu (15/1) lalu.
Salah satu warga Kampung Dahu Utara, Karyoto (50), mengaku mengetahui kepindahan daratan ini pada Minggu (15/1) sore sekira pukul 16.00 WIB- 18.00 WIB. Saat itu, tengah terjadi puncak banjir disejumlah wilayah di Banten. Kondisi serupa juga menenggelamkan hektaran sawah di kampungnya, akibat meluapnya Sungai Cidurian.
Kata dia, saat bersamaan, seluruh warga tengah siaga menghadapi banjir sehingga tak memperhatikan daratan yang bergeser yang turut terendam banjir tersebut. “Warga tidak ada yang melihat kepindahan itu, soalnya warga lagi siap-siaga menghadapi banjir. Jam segitu (sore, red) air lagi besar-besarnya,” ujar Karyoto kepada Banten Pos, Senin (23/1).
Pada Senin (16/1) sore, Karyoto dan warga lainnya baru menyadari bahwa daratan yang terletak di tengah-tengah situ yang telah dangkal itu posisinya sudah bergeser sekitar 500 meter dari posisi semula dan kini menutupi 13 petak sawah milik warga setempat.
Hal ini diperkuat Mimin (30), warga yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari situ tempat daratan berada. Menurut kesaksian dia, kepindahan daratan di tengah situ tersebut terjadi dua kali selama puncak banjir pada Minggu (15/1) itu.
Namun, dia pun tak memperhatikannya dengan seksama sebab lagi fokus mengawasi banjir yang merendam perkampungannya. Ia hanya melihat beberapa pohon yang tumbuh di daratan itu berpindah, namun awalnya tak menyangka jika lahannya juga ikut pindah.
“Iya kejadiannya bertahap, dua kali bergeser. Kita sih tidak terlalu memperhatikan, soalnya lagi siap siaga, takut banjirnya sampe rumah kayak dulu lagi.
Tapi memang aneh, kok darat itu bisa kecabut, padahal banjir sekarang kan tidak terlalu besar dibandingkan banjir dulu. Dulu saja tidak kecabut, sekarang kok bisa berpindah gitu,” tuturnya tanpa menjelaskan banjir dulu yang dia maksud kapan terjadi.
Adanya keanehan itu, ribuan warga berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung kejadian langka tersebut. Mereka yang datang, ternyata bukan hanya dari wilayah Serang saja. Bahkan ada juga yang berasal dari Tangerang dan Rangkasbitung.
Selain terheran-heran, warga juga meyakini hal gaib dari kejadian ini. Karenanya, mereka pun memanjatkan berbagai doa di tengah daratan yang bergeser itu.
“Bagaimana gak penasaran, kabarnya ada pulau yang pindah tempat. Aneh tapi nyata,” ujar Mujani, warga Balaraja, Tangerang, yang mengaku sengaja datang menyewa mobil bersama rombongan.
Pantauan Banten Pos, Hingga Senin (23/1) sore, ribuan warga tak henti-hentinya datang ke lokasi kejadian. Sebagian besar menggunakan kendaraan roda dua, namun tak sedikit yang datang menggunakan kendaraan roda empat.
Bahkan Iin Solihin (27). Warga Pandeglang secara khusus datang ke lokasi ini karena mendapat informasi dari kawannya melalui jejaring sosial facebook.
“Penasaran aja ingin lihat. Awalnya lihat di dinding facebook teman yang kebetulan orang Serang. Kemudian, dia ngajakin lihat ke sini,” tutur Iin Solihin.
Tentu saja, keberadaan ribuan orang ini membawa berkah bagi warga setempat. Warga sekitar lokasi kejadian memanfaat kedatangan para ‘turis’ dadakan itu dengan cara berjualan.
Tak hanya itu warga juga mengelola parkir hingga menyediakan sarana untuk mencucki kaki, akibat lumpur. Berkah bagi masyarakat setempat juga dirasakan Mimin yang kebagian rezeki nomplok. Sebab, warung kecilnya jadi laku keras melayani para pendatang yang ingin melihat fenomena alam tersebut.(zal)

Pulau Honshu Bergeser 2,4 Meter
http://sains.kompas.com/read/2011/03/13/10391590/Pulau.Honshu.Bergeser.2.4.Meter
Tsunami akbar menyasar sebagian Bandar Udara Sendai, Jepang Jumat (11/3/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com — Gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang mengguncang Jepang telah menggeser Pulau Honshu sejauh delapan kaki atau sekitar 2,4 meter dari posisinya semula. Demikian disampaikan US Geological Survey (USGS), Sabtu (12/3/2011).
"Itu adalah angka yang masuk akal," ujar ahli seismologi dari USGS, Paul Earle. Dikatakan Earle, pergeseran juga seharusnya terjadi di pulau-pulau di Indonesia dan Cile yang terkena imbas tsunami Jepang.
Lazimnya, lempengan Pasifik bergeser sekitar 83 milimeter setiap tahunnya. Namun, gempa besar dapat menggeser lempengan Pasifik secara drastis, yang disusul dengan konsekuensi katastropik.
Gempa bumi yang diikuti tsunami telah memorak-porandakan kota-kota yang berada di wilayah timur laut Jepang. Perdana Menteri Naoto Kan mengatakan, gempa kali ini merupakan bencana nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gempa juga menyebabkan kebocoran pada bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang dioperasikan Tokyo Electric Power Co atau Tepco, Sabtu. Hingga kini, warga yang berada pada radius 20 kilometer telah diungsikan.
Sumber :
AFP
Editor :
A. Wisnubrata

PULAU SUMATRA YANG BERGESER

PULAU SUMATRA YANG BERGESER
Kerak bumi yang tersusun atas lempeng – lempeng diam – diam terus bergerak. Pulau Sumatara yang dekat dengan batas lempeng Samudra Hindia dan lempeng Eurasia kena getahnya : ikut bergeser. Gempa bumi sering melanda kawasan itu. Kecepatan pergerseran yang hanya beberapa centimeter per tahun itu kini diukur dengan alat GPS. Seperti tulisan wartawan Intisari G. Sujayanto
Proses Terjadinya gempa & TsunamiKenapa pulau Sumatra persisnya dikawasan sepanjang bukit Barisan dari Aceh hingga teluk Semangko (Lampung), menjadi langganan gempa bumi ? tentu bukan akibat marahnya atau menggeliatnya naga raksasa penjaga perut bumi. Semua itu karena Pulau Sumatra, pulau yang luasnya 3,5 kali pulau Jawa ini kebetulan posisinya dekat sekali dengan batas antara lempeng Samudra Hindia dan lempeng Eurasia, yang secara terus menerus saling bertabrakan. Benturan antar lempeng itu bukan baru kemarin sore terjadi, tetapi sejak 40 juta tahun yang lalu. “Akibatnya posisi pulau Sumatara yang dulu kira kira sejajar dengan pulau Jawa, lambat laun mengalami perputaran dan bergerak pelan searah jarum jam hingga posisinya seperti sekarang ini, ”ungkap Prof. DR. J.A Katili, Penasehat Menteri Pertambangan dan Energi serta  Menristek pada masa itu. Menurut pakar Geologi Indonesia ini, tabrakanyang membuat pulau Sumatra berputar itu mengakibatkan rekahan memanjang dan relatif lurus sepanjang Pulau Sumatra diatas pegunungan Bukit Barisan yang kemudian dikenal dengan patahan besar Sumatra. Patahan ini dapat dilihat mulai dari Aceh sampai Teluk Semangko sepanjang 1.350 Km. Rekahan sepanuang itu seolah membagi Pulau Sumatra menjadi dua bagian yanmg dipisahkan oleh irisan pegunungan Bukit Barisan. Bagian Timur Pulau Suamtra bergeser ke arah Tenggara (karena desakan Lempeng Eurasia relative ke Selatan ), sedangkan bagian Baratnya kearah Barat Laut ( akibat gerakan lempeng Samudra Hindia relative ke Utara ).
Pergeseran mendatar akibat gerakan kerak bumi yang terus menerus dan terlepasnya akumulasi energy sepanjang batas lempeng inilah penyebab timbulnya gempa bumi besar seperti yang terjadi di tapanuli (1926 & 1987), Kerinci (1909), Padang Panjang (1926 & 1987), Liwa (1932), Tes (1932) Tarutung (1987) dan yang terbaru Aceh (2004) yang menyebabkan Tsunami dan menimbulkan banyak korban jiwa. “Pergerakan lempeng itu seperti ulat, menekuk dulu kemudian patah. Pada waktu patah nitulah terjadi gempa kata katili. Dugaannya, Sumatra bergeser dengan kecepatan 1-3 cm/th. Namun apakah gerakannya teratur sepanjang tahun, perlu penelitian lebih lanjut. “Sebab biasanya hasil yang didapat itu hanya rata – rata kurun waktu tertentu. Bisa saja dalam satu waktu lajunya cepat, sedangkan lain waktu gerakannya lambat bahkan berhenti,”kata DR, Ir. Sutisna, M.Surv.Sc., Kepala Kelompok Penelitian Geodesi dan Geodinamika, Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai Kemetaan Nasional).
Kepulauan Nusantara Tergencet
Pergeseran Pulau Sumatra hanyalah salah satu contoh bahwa kerak bumi masih saja terus bergerak. Ihwal kerak bumi yang bergerak itu sebenarnya sudah disinyalir oleh para ahli. Meski begitu baru Taylor (1910) dan Alfred Wagener (1880-1930), Ilmuwan Jerman yang secara sestematis membeberkannya. Wagener menduga, pada akhir zaman karbon terbentuk satu benua besar yang disebut Pangea. Benua ini lalu terpecah pecah dalam masa jura sampai pertengahan masa tersier atau antara 150 juta – 20 juta tahun dan terus bergerak sampai zaman kuarter. Oleh karena itu Wagener berani memperkirakan, Bneua Amerika dulu merupakan satu bagian dengan benua Eropa dan Afrika. Sementara Samudra Atlantikm belum ada. Ia member bukti atas kesesuaian raut -raut benua yang terpotong – -potong seperti teka – teki gambar potong. Keberanian wagener mengemukakanteori benua yang begerak basnjyak ditentang para ilmuan, lantaran ketidak mampuannya memberi bukti ilmiah.
Sekarang, lebih – lebih setelah ditemukannya teori tektonik lempeng, gerakan kerak bumi bukan hal yang aneh.”Bertitik tolak dari sini kerak bumi yang meyusun dunia ini terpecah menjadi 12 lempeng besar dan lempeng  -  lempeng kecil dengan tebal lempeng 75 – 125 km tutur Ir. F.X Suyanto, dosen Geologi Struktur, Universitas Trisakti  Jakarta. Lempeng  - lempeng yang terdiri atas lempeng samudra dan lempeng benua itupun bergerak relative satu  terhadap lainnya denngan kecepatan 1 – 13 cm/tahun. Menurut ukuran manusia kecepatan ini sangat kecil, namun dilihat dari sudut pandang geologi sangat berarti. Gerakan 5 cm/tahun misalnya dalam 1 juta tahun dapat menghanyutkan satu benua sejauh 50 km. Seperti lempeng yang sedang membawa benua Australia bergerak kearah utara dengan kecepatan 6 cm/tahun. Kalau tak ada halangan, beberapa juta tahun lagi bisa bisa menggencet Kepulauan Nusantara. Kembali ke soal patahan besar Sumatra, gencetan lempeng Eurasia dan lempeng Hindia menimbulkan pergeseran pulau Sumatra pada patahan tersebut. Dampak lanjutannya adalah melengkungnya atau terputusnya alur – alur sungai, dan longsornya  tanah di daerah daerah sekitar patahan. Yang menjadi pertanyaan barangkali adalah berapa besar pergeseran pada garis patahan itu serta ke mana arahnya.
Kerjasama dengan AS
Jawaban dari pertanyaan tadi kini ditumpukan pada system pengukuran  posisi yang disebut dengan GPS ( Global Positioning System). Sistem ini menggunakan piranti  – piranti canggih buatan AS, antara lain satelit yang merupakan komponen vitalnya. Satelit yang mengembara pada orbit edar setinggi 22.000 km itu, rajin mengirim sinyal ke daratan Sumatra. Tapi jangan salah sangka ini bukan satelit mata – mata AS yang mengintip potensi kandungan alam dan menguak rahasia militer. Namun semata – mata hanya bertugas mengukur pergeseran patahan Pulau Sumatra. Sebuah piranti yang bersama dengan antenna, alat penerima dan unit pengendali yang berpusat di Colorado, AS bertugas mengukur pergerakan Pulau Sumatra. Sistem yang lengkap sebenarnya melibatkan 24 satelit yang terbagi dalam enam orbit. 21 satelit diantaranya aktif beroperasi, sedangkan sisanya cadangan aktif yang sewaktu waktu menggantikan yang rusak. Dari bumi sinyal yang diangkut lewat dua gelombang pembawa pada frekuensi L1 dan L2 itu, dipancarkan dan langsung diterima oleh antenna (berbentuk piringan berdiameter 28 inch, terbuat dari aluminium dilengkapi dengan kompas yang disangga oleh tripod setinggi 1,5 m).
Melalui seutas kabel, sinyal diteruskan ke alat penerima yang menyediakan 12 saluran untuk menangkap sinyal – sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS. Sinyal ini kemudian direkam secara otomatis. Hasil rekaman satelit ini selanjutnya diolah dengan model matematika oleh para ahli. Sehingga hasil akhir yang didapat berupa jarak dan arah pergeseran. “Prinsip kerja sebenarnya sederhana saja, hanya alatnya memang canggih,”kata Sutisnya doctor jebolan New Castlle Inggris. Di Sumatra pengukuran GPS dilakuakn dititik – titik control Geodesi ( titik Trianggulasi) yang p;ernah dibuat pemerintah Belanda pada tahun 1880 – 1930. Gerakan Pulau Sumatra ini diketahui dengan mengukur besarnya pergeseran antar patahan berdasarkan pengamatan berulang ulang sepanjang sesar (bidang patahan) melalui satelit GPS. Data – data pengukuran itu nantinya, dalam jangka panjang digunakan untuk penelitian dan peramalan gempa bumi di kawasan itu. Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara Bakorsutanal dan IGPP (Institut of Geophysics and Planetary Physics) dan SIO (Scripps Instution of Oceanograpy)universitas California dalam rangka proyek penelitian Geodinamika di Sumatra dan Irian Jaya.
Demi Kemanusiaan
Teknologi GPS rupanya menjadi mpilihan kerena dibandingkan dengan teknologi konvensional, semisal trianggulasi, system ini akan mendapatkan hasil yang lebih cepat, murah dan akurasi yang lebih tinggi. Apalagi gerakan yang diukur hanya dalam hitungan sentimeter itu. Tentunya kesalahan yang diperkenankan haruslah dalam hitungan milimeter.  Namun nsep-erti penjelasan Sutisna, bukan berarti GPS bebas masalah, Sinayl yang dikirim darim ketinggian 22.000 km itu bias saja terkena gangguan. Maka sebelum data itu diinterpretasikan dan diolah perlu dibersihkan dan di screaning secara ketat. Menyadari bahwa patahan Sumatra masih saja terus bergerak, maka katili yang juga sebagai Wakil Ketua Dewan Riset nasional itu menyarankan agar dipikirkan juga mitigasinya, yaitu mengurangi dampak sekecil mungkin pada daerah yang diperkirakan akan mendapat bencana,” kata katili. Pendidikan demikian tidak saja menyangkut istruksi tentang bahaya potensial bencana geofisika, tetapi juga petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan  kalau terjadi bencana alam. Didaerah rawan bencana manusia perlu menyadari bahwa bencana adalah bagian dari proses alam sebagaimana embusan debu vulkanik halus yang menyuburkan tanah – tanah pertanian.
Sampai sekarang masih sulit ditentukan dimana pusat gempa di Sumatra itu. Bisa saja sepanjang patahan yang jauhnya 1.350 km itu. Karena seperti diakui Katili, gempa merupakan gejala alam yang bervariasi, penuh kombinasi,serta berhadapan dengan parameter yang demikian banyaknya. Suatu proses alam yang tidak mudah dikotak – kotakkan, diklasifikasikan dan ditetapkan rumus – rumusnya. “ Mudah mudahan dengan pengukuran gerak sepanjang patahan besar Sumatra ini, bukan hanya dapat diukur kecepatannya, tapi juga siklus gempa – gempa sepanjang patahan,”kata ilmuwan yamg masih rajin menulis ini. Hal terakhir ini mungkin yang paling diharapkan oleh masyarakat banyak.  Jadi bukan semata – mata penelitian murni demi ilmu, namun juga bagi kepentingan kemanusiaan.

Schiermonnikoog, pulau yang suka 'jalan-jalan'



Schiermonnikoog adalah sebuah pulau kecil di lepas pantai Belanda, yang terus bergerak ke selatan dan timur, karena efek kombinasi dari arus pasang surut angin dan laut.

762 tahun yang lalu, pulau ini berada sekitar 2 km di utara dari posisinya sekarang, dan terus memiliki bentuk yang berbeda secara signifikan. Pulau ini sebetulnya tidak benar-benar bergerak. Laut mengikis pulau tersebut di beberapa sisinya sehingga menyisakan celah yang membuat pulau itu bisa bergeser posisi.

Nama Schiermonnikoog sendiri berasal dari para biarawan yang tinggal di pulau itu. Monnik berarti biksu dan Schier adalah kata kuno yang berarti abu-abu, mengacu pada warna kesukaan para biarawan. Oog diterjemahkan sebagai pulau. Oleh karenanya, Schiermonnikoog bisa diterjemahkan menjadi pulau para biarawan abu-abu.
Pulau kecil ini berukuran sekitar 16 km dengan lebar 4 km dan merupakan situs taman nasional pertama di Belanda. Satu-satunya desa di pulau ini juga disebut Schiermonnikoog, dan sekitar seribu orang secara permanen tinggal di pulau itu.
Photo by amusingplanet
Pariwisata, seperti dilansir amusingplanet, menjadi sumber utama dari pendapatan penduduk Schiermonnikoog. Pulau ini memiliki sebuah perkemahan, dermaga feri, pelabuhan untuk kapal-kapal kecil, sekitar 15 hotel dan ratusan rumah penginapan dan apartemen. Sekitar 300.000 orang mengunjungi pulau ini setiap tahun, dan menginap di 5.500 kamar yang tersedia di rumah penginapan, apartemen dan hotel.
[des]


BERITA - sumatera.infogue.com - Gempa 8,8 SR di Chili menyebabkan Kota Concepcion bergeser 3 meter. Pergeseran geografis serupa terjadi di Aceh pasca gempa 9,1 SR pada 26 Desember 2004. 

"Pulau Salaut Besar di Aceh Utara bergeser 5 meter. Pulau itu yang paling dekat dengan pusat gempa," kata Kepala Pusat Geodesi dan Geodinamika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Cecep Surbaya kepada , Selasa (9/3/2010).

Pergeseran itu tampak dari monitoring global positioning stations (GPS) geo Bakosurtanal. "Dari perubahan koordinat yang kami lihat, misalkan dulu di koordinat X, sekarang X2. Nah X dan X2 kan ada selisihnya, yaitu 5 meter," jelasnya.

Cecep menjelaskan, Bakosurtanal mempunyai titik kontrol berupa pilar berukuran 30 X 30 cm sampai 50 X 50 cm yang ditanam 1-1,5 meter ke dalam tanah dan muncul ke permukaan tanah 20-25 cm. Pengukuran awal dilakukan pada tahun 1992 di Banda Aceh, dari Meulaboh mengelilingi pantai Sumatera Utara hingga Pelabuhan Malahayati.

3 Minggu setelah terjadi gempa di Aceh, Bakosurtanal kembali mengukur dan menemukan pergeseran elastis kerak bumi. Kota-kota di Aceh bergeser ke arah barat.

"Permukaan tanah bergeser sekitar 13 cm lalu terus ke bagian utara, kota Lhokseumawe dan Langsa meningkat (bergeser) 40-60 cm, pantai Meulaboh dan Aceh Besar (bergeser) sampai 3 meteran," jelasnya.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar