Jumat, 31 Mei 2013

JAWABAN: DINAMIKA IMAN YUNUS



Download:


1.  PENGERTIAN DAN PELAKSANAAN
Themanya adalah: Sudah mengerti koq tidak melakukan?
Entah ada berapa banyak orang dengan type seperti ini; ada yang pura-pura bodoh, pura-pu
ra lupa, pura-pura tidak paham, pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak tahu, dan pura puranya mau.
Seperti apakah orang yang pura-puranya mau itu?
Seperti anak laki-laki saya yang nakal; kalau di suruh apa, dia memang tampaknya menurut dan segera pergi melaksanakannya. Tapi setelah ditunggu sampai yang bukan waktunya, keta huan dia-nya sedang bermain ke rumah temannya.
Inilah model orang yang diceritakan dalam perumpamaan YESUS:
Matius 21:28-31:  "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak la
                                ki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan
                                bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.  Jawab anak itu: Baik, bapa.
                                Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan
                                berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi ke
                                mudian ia menyesal lalu pergi juga.  Siapakah di antara kedua orang itu
                                yang melakukan kehendak ayahnya?"* Jawab mereka: "Yang terakhir."
                                Kata Yesus kepada mereka: /"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pe
                                mungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan menda
                                hului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Golongan Farisi, Saduki dan Ahli Taurat, atau istilahnya mereka yang tokoh-tokoh agama, adalah orang yang digambarkan sebagai anak sulung. Seharusnya mereka inilah orang-orang yang menerima berkat kesulungan, yaitu fasilitas utama untuk masuk ke sorga. Sebab, bukan kah mereka itu orang yang menyatakan dirinya paling dekat hubungannya dengan sorga?!
Ke mana-mana yang dibicarakan selalu tentang ALLAH, selalu membawa Kitab Suci dan seo lah orang yang sangat saleh, yang berkata: “baik, bapa.”
Sedangkan orang kelas duanya adalah mereka yang dunia cap sebagai kelompok orang yang dinajiskan. Ke mana-mana selalu menerima pandangan mata curiga, menghina dan kategori sampah. Sepertinya mereka itu orang-orang yang cocok dengan neraka. Tapi perumpamaan itu membentangkan kesempatan kepada mereka untuk menerima kabar keselamatan yang sa ma, seperti yang saudara sulung mereka terima. Dan di dapati kenyataan si anak bungsu ini lebih bisa menuruti Firman TUHAN daripada si anak sulung.
Saya yakin pembahas file ini adalah seorang pendeta, dan tampaknya dia-nya sedang berbica ra kepada saya dan bertanya: Apakah anda seorang penurut ALLAH?!
Maka sayapun bertanya: “Kepada siapakah berkat kesulungan itu diterimakan lebih dahulu?”
Kepada yang tua atau yang muda?! Bukankah kepada yang tua lebih dahulu? Karena itu se harusnya bukan anda yang bertanya begitu kepada saya atau kepada jemaat anda, tetapi jema atlah yang harus bertanya kepada anda: “Sebagai anak sulung, sudahkah anda menerima ber kat ALLAH?”
Sudahkah anda menurut ALLAH, lebih dahulu, supaya saya bisa menyerap teladan dari anda
, bukannya anda menanyai saya begitu. Apakah yang sulung akan meniru yang bungsu?!
Yah, suatu kebiasaan yang buruk adalah seorang pengkhotbah itu selalu melemparkan perin tah ALLAH kepada jemaatnya; mengajari jemaatnya ini dan itu, melarang jemaatnya ini dan itu, tapi tidak pernah menyuruh dirinya sendiri begitu.
Luk. 11:46: “ Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu
                       meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak
                       menyentuh beban itu dengan satu jaripun.”
Pada umumnya khotbah pendeta selalu pada seputar perintah kasih sesama. Itu topik-topik yang selalu diajarkannya namun yang suka lupa dilakukannya. Tetapi sebagai anak yang bungsu saya ingin katakan: “Stop! Abaikanlah perintah kasih itu; anggap saja perintah itu ti dak ada. Sebab ada perintah yang lebih penting daripada itu yang harus anda lakukan lebih dahulu.”
Perintah apa, dan perintah yang manakah?
Mat. 6:24: “ Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan
                     membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang
                     seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada
                    Allah dan kepada Mamon."
                    Ini adalah pilihan pertama sewaktu seseorang hendak masuk Kristen!
                                                                                                                      ......................JDIY, 01.
                   Ini adalah perlengkapan surat-surat ketika seseorang hendak melamar pekerjaan.
                   Ini adalah persyaratan pertama ketika seseorang hendak mencintai seorang gadis.
                   Tentukan dulu sikapmu; pilih aku atau dia? Baru kita bisa melanjutkan hubungan
                   kita!
Saya melihat mobil anda ada 2 buah, rumah anda 2, baju anda 2, jam tangan anda bermerk: Rado, duit anda begitu banyak; bolehkah itu saya minta untuk bagian orang-orang miskin?
Sebab ada dituliskan:
Luk. 3:11: “ Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya
                   dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia
                   berbuat juga demikian."
Matius 19:21: “ Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah
                   segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan
                   beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
                   Nah, sebagai pendeta apakah anda tidak ingin sempurna, seperti Zakheus, yang pe
                   mungut cukai?
Lukas 19:2-9 : “ Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seo
                   rang yang kaya.  Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak
                   berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.  Maka berlarilah ia menda
                   hului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan le
                   wat di situ.  Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Za
                   kheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."  Lalu
                  Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Tetapi semua orang
                   yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang
                  berdosa."  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah
                  dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang
                  kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  Kata Yesus kepada
                  nya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun
                  anak Abraham.”
                  Separuh dari hartanya diberikan kepada orang miskin, maka tinggallah separuh.
                  Untuk apakah yang separuh sisanya itu? sekiranya ada sesuatu yang  kuperas dari
                  seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.
                  Sebagai seorang Kepala pemungut cukai yang korup, berapa orangkah yang per
                  nah dia peras? Kira-kira, dia itu tukang peras besar-besaran atau kecil-kecilan?!
                  Jadi, sisa berapakah uangnya ketika ia mengikut YESUS?
                  Yah, sekalipun uang Zakheus masih banyak sisanya, namun pernyataan Zakheus
                  itu sudah menyatakan kesiapannya untuk miskin. Dia lebih memilih ikut YESUS
                  dari pada ikut Mamon.
                  Mat. 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah
                                    yang empunya Kerajaan Sorga.”
                                    Berbahagialah engkau Zakheus, meskipun engkau seorang kepala pemu
                                    ngut cukai, dan seorang yang telah menjadi miskin! Sebab engkau dika
                                    takan telah mendahului anak-anak sulung ALLAH.
Luk. 6:24: “ Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu
                     telah memperoleh penghiburanmu.”
Benarkah, pendeta, bahwa engkau telah menerima penghiburanmu di dunia ini? Ketika di ge reja, dudukmu di bangku yang paling terhormat, engkau menerima penghormatan dari seka lian jemaatmu, ketika di pasar atau di jalanan, semua orang mengangguk hormat kepadamu, mengingat engkau seorang yang dekat dengan ALLAH, kamar timurmu begitu nyaman deng an AC, dan setiap hari engkau mencuci matamu dengan belanjaan ke Hypermart. Begitu nya man sekali hidupmu, sehingga begitu banyak orang yang mengirikanmu!
Mat. 19:23: “ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguh
                     nya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Sesukar apakah itu, wahai, pendeta? Apakah sesukar engkau melepaskan kekayaanmu itu?!
Adakah engkau belum pernah membaca ayat-ayat ini, pendeta?! Adakah engkau kesulitan mengerti maksudnya?! Ataukah engkau sengaja pura-pura tidak tahu mau?!
Seperti apakah pura-pura tidak tahu mau?!
Ya, pengertian dengan pelaksanaannya yang jauh langit dari bumi! Seperti Yunus itulah! Se perti Yunus , ketika diundi nama anda yang keluar sebagai penyebab berbagai bencana di sa na dan di sini, sebab engkau tidak melakukan perintah ALLAH!

                                                                                                                            ................JDIY, 02.
2.  YUNUS SI BURUNG MERPATI
Kata anda Yunus ini namanya tidak cocok dengan orangnya. Namanya berarti merpati, se dangkan tabiatnya seperti perkutut. Kalau merpati, selalu setia dengan rumahnya, sedangkan perkutut selalu berusaha mencari kesempatan untuk kabur dari rumahnya!
Apakah tidak demikian dengan anda, tuan, pendeta?! Apakah anda tidak selalu mengaburkan firman-firman TUHAN, seperti yang saya sebutkan di atas?!
Kis. 15:21: “ Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sam
                      pai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."
Mengapa sudah tidak pernah lagi anda bacakan seperti dahulu kala?! Apakah ini suatu mata rantai yang terputus dari gereja yang mula-mula?
3.  KONTRADIKSI PEKERJAAN DENGAN JABATAN
Yunus adalah nabi TUHAN, tetapi pekerjaan ......... yang dilakukannya!
Apakah itu tidak seperti ini, tuan:
Mat. 24:15 "Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus,” 
Sebab setiap orang yang menyembunyikan kebenaran firman ALLAH adalah pembunuh ter hadap banyak jiwa.
Mrk. 4:21 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditem
                 patkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di
                 atas kaki dian.”
                 Kalau lilin anda letakkan di bawah kolong tempat tidur, bisa membakar orang, tu
                 an!
4.  PENGERTIAN TEOLOGIS DENGAN TINDAKANNYA
Seharusnya Yunus mengerti bahwa ALLAH mengasihi 120 ribu jiwa penduduk Niniwe yang berdosa itu, sehingga selaku nabi diapun bisa menyalurkan kasih ALLAH itu kepada pendu duk sebanyak itu yang nggak ngerti kebenaran. Tapi Yunus rupanya enggan menyelamatkan mereka, enggan mengampuni mereka, karena mereka itu penindas yang kejam terhadap bang sanya.
Apakah anda tidak demikian terhadap jiwa-jiwa jemaat anda yang merindukan kebenaran?!
Mereka bisa masuk neraka semua kalau anda mengajarkannya bukan kebenaran!
Mat. 11:24: “ Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri
                       Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."
Tanggungan anda lebih berat dari pada tanggungan Niniwe, Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Denpasar, Makasar, dan lain-lainnya, tuan! Sudahkah itu anda pikirkan dari kenya manan yang hanya sesaat di dunia ini?!
Mudah-mudahan anda bisa mengkaji ini semua dengan bijaksana.


JAWABAN:  GERAKAN REFORMED INJILI DALAM SEJARAH
1.  KEMBALI KE KITAB SUCI
Gerakan reformasi gereja oleh Marthin Luther, memang telah membawa perubahan yang amat besar bagi Kekristenan untuk kembali kepada Alkitab, yang telah diselewengkan oleh Kepausan. Ada banyak sekali ajaran-ajaran kekafiran yang tidak lagi diikuti oleh kalangan Kristen yang lahir dari Ibunda Maria. Tapi yang perlu kita pertanyakan adalah:
a.  Apakah benar anda telah kembali ke Alkitab, atau sudah berapa persenkah pencapaian
     anda di dalam kembali ke Alkitab; sudah 100%-kah atau masih kurang dari itu?! Dan jika
     anda mengakui masih kurang, masih adakah minat untuk melanjutkannya atau sudah
     kerasan di tempat yang sekarang ini? Ini perlu menjadi titik renungan anda.
-  Dalam hal HARI PERIBADATAN, apakah sudah Alkitabiah jika itu di Hari MINGGU?!
    Apakah anda sudah mengetahui bahwa yang mengubahkan Hari SABAT ke Hari MING
    GU, itu adalah Paus, bukan YESUS atau Para Rasul?!
    Jika anda tahu itu, tapi anda masih membenarkannya, lalu ngapain anda susah-susah
    mendirikan gereja yang baru?! Untuk kenang-kenangan atau penanda bahwa anda ber
    asal dari sana? Bahwa anda adalah anaknya?!
    Apakah anda tahu bahwa Hari Minggu itu hari bagi penyembahan Dewa Matahari?!
-  Dalam hal Hari NATAL, yang konon hari kelahiran Dewa Matahari?!
    Apakah Natal itu Alkitabiah?! Adakah perintahnya, baik secara tersamar maupun seca
    ra terang?!
-  Dalam hal PASKAH, apakah ini juga perintah Alkitab?!
-  Dalam hal gambar YESUS, benarkah itu gambar YESUS beneran? Jika bukan gambar
    TUHAN yang benar, apakah itu tidak termasuk kepalsuan dan kebohongan?!
                                                                                                            ...........................JDIY, 03.
    Sementara suatu gambar ‘karikatur’ saja masih mempunyai kemiripan dengan orang as
    linya. Tidakkah gambar itu telah membuat banyak orang terjerumus ke dalam kesesatan
    ?! Bahwa pengamen-pengamen yang di perempatan jalan yang berambut gondrong suka
    saya panggil YESUS dan saya sembah sebagai ALLAH saya. Salahkah saya menyembah
    pengamen-pengamen itu, mengingat mereka mirip sekali dengan gambar-gambar yang
    anda pertontonkan kepada umum sebagai YESUS?!
-  Dalam hal TRINITAS, benarkah ALLAH itu berjumlah TIGA, dan TIGA itu SAMA DE
   NGAN:  SATU?! Rumusan atau theologi siapakah yang mengatakan begitu? Ibunda Ma
   ria-kah?! Benarkah YESUS itu YAHWE dan YAHWE itu YESUS?! Sehingga kalau di
   katakan YESUS itu pergi ke BAPA, maka DIA tidak pergi ke mana-mana, melainkan ke
   diriNYA sendiri?! Bisakah anda mendemonstrasikan bagaimana itu pergi ke dirinya sen
   diri, mengingat kita diciptakan seperti ALLAH?! Hakekatnya adalah pada kata: “Pergi”
   Bagaimana atau yang seperti apakah “pergi” itu?
-  Dalam hal BAPTISAN, bagaimanakah cara pembaptisan anda? Apakah percikan itu
    baptisan?! Apa theologisnya baptisan?!
b.  Sudahkah anda mengajarkan peringatan  Alkitab kepada jemaat anda?
> Mat. 6:24: “ Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia
                         akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepa
                         da yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat meng
                         abdi kepada Allah dan kepada Mamon."
> Mat. 19:21: “ Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah
                         segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau
                         akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
> Mat. 19:23: “ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguh
                         nya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
> Mat. 19:29: “ Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudara
                         nya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau
                         ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh
                         hidup yang kekal.”
> Mat. 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang
                         empunya Kerajaan Sorga.”
> Luk. 6:24-26: “ Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu
                         kamu telah memperoleh penghiburanmu.  Celakalah kamu, yang sekarang ini
                         kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini terta
                         wa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.  Celakalah kamu, jika se
                         mua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka
                         telah memperlakukan nabi-nabi palsu."
> Kol. 3:2: “ Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
> Yak. 4:4: “ Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persaha
                       batan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hen
                       dak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”
> 1Kor. 7:29: “ Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Kare
                        na itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berla
                        ku seolah-olah mereka tidak beristeri;”
> 1Kor. 7:8: “ Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku an
                        jurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.”
> 1Kor. 11:6: “ Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia
                       juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan,
                      bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepala
                      nya.”
> 1Kor. 11:10: “ Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh kare
                      na para malaikat.”
> 1Kor. 11:13: “ Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah deng
                      an kepala yang tidak bertudung?”
> 1Kor. 11:15: “ tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang?
                      Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.”
> 1Kor. 14:35: “ Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya k e
                      pada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara
                      dalam pertemuan Jemaat.”
> Adakah anda mengajari jemaat perempuan anda untuk berpakaian seksi, sehingga mereka
                                                                                                                          ..................JDIY, 04.
                       kalau menghadap ALLAH seolah pergi ke pesta dansa atau ke tempat diskotik?!
                       Mungkin anda berkata: “Tidak! Saya tidak mengajari begitu.” Tetapi bagaima
                       na istri-istri pendeta memberikan contohnya?! Bagaimana mereka berdandan
                       dan bagaimana mereka ber-make-up?! Berapa uang yang untuk ke salon kecan
                       tikan dan berapa uang yang untuk menyantuni yatim-piatu dan janda-janda?!
> Mat. 11:8: “ Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang
                       yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja.”
                       Jadi, gereja itu gereja atau istana raja?!
> 1Kor. 14:37: “ Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia
                     rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah
                      Tuhan.”
> Yak. 1:27: “ Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah
                      mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menja
                      ga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
> Rm. 12:2: “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pem
                       baharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak
                       Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Sudah seberapa jauhkah anda mengajarkan hal-hal di atas dan sudah seberapa jauhkan anda memberikan percontohannya?! Apakah tidak justru anda yang telah memberi contoh semua ketidakpatutan di dalam kembali ke Kitab Suci itu?!
Terimakasih anda telah mengajari saya apa yang baik, tetapi saya akan lebih berterimakasih lagi jika anda memberikan contoh yang baik kepada saya. Sekalipun adakalanya mulut perlu berbicara, namun juga ada kalanya tangan harus memberikan petunjuk dan kaki harus menja lani. Seperti yang anda tuliskan sendiri:
Gereja dipanggil bukan hanya untuk mengabarkan lnjil dan mengabarkan ke benaran, gereja juga dipanggil untuk melaksanakan mandat-budaya melalui pencerahan dari Firman Tuhan untuk mencerahkan dunia ini, dengan prin sip-prinsip Firman Tuhan ke dalam segala aspek kebudayaan.
Selanjutnya juga anda berkata:
Pada saat pengaruh Liberalisme makin meluas dan menggerogoti iman Kris ten dalam abad ke-19, teolog-teolog Reformed dengan gigih berdiri di front (garis depan yang paling depan untuk melawan ajaran-ajaran yang tidak setia kepada Kitab Suci.
Bagaimana dengan di abad ke-21 ini, apakah masih juga segigih di abad ke-19 itu?!
Sehingga baik di Eropa maupun di Amerika, buku-buku yang paling berbo bot memerangi ajaran-ajaran yang liberal kebanyakan adalah hasil dari tangan-tangan teolog Reformed. Semangat teologi Reformed inilah yang te lah memelihara Kekristenan dari segala penyelewengan dan perselingkuhan gereja sebagai mempelai perempuan Kristus yang tidak setia kepada Tu han.
Mudah-mudahan bukan cuma bukunya doank yang mengajar, tetapi kehidupan anda sendiri juga bisa menjadi buku-buku yang terbuka untuk dibaca umum. Malah kalau bisa perguna kan ‘huruf besar’ supaya orang tidak perlu memakai kacamata untuk membacanya.
Tidak ada seorang pun bisa mengabaikan apa yang telah dikerjakan oleh teologi Reformed sepanjang sejarah. Teologi Reformed mempakan salah sa tu teologi yang paling bertahan uji dan paling unggul untuk memimpin orang Kristen melalui peperangan iman dan memberi petunjuk untuk hari depan umat manusia.
Tapi kalau semua yang anda ajarkan itu tidak sesuai dengan Kitab Suci, ya terpaksa harus sa ya abaikan. Mata harus saya tutup, telinga harus saya tutup dan hati harus lebih saya tutup, supaya tidak kemasukan debu kesesatan.
>. 1Tim. 4:7: “ Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu ber
                          ibadah.”
> 2Tim. 3:5: “ Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya
                                                                                                                      ......................JDIY, 05.
                      mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
Benarkah kalau dikatakan bahwa sepertinya itu ibadah, tetapi kehilangan kekuatannya?!
Ya, siapa orang yang tidak mengakui kalau pergi ke gereja itu menghadap ALLAH, wong di gereja itu memang menyebut nama ALLAH, berdoa kepada ALLAH, atau pendeknya serba ALLAH, tapi apakah itu masih mempunyai kekuatan ibadah, jika YESUS sampai berkata:
> Mat. 7:21: “ Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke
                      dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang
                      di sorga.”



JAWABAN:  PELAYANAN YANG MEMULIAKAN ALLAH
1.  KRISTEN SEJATI DAN TIDAK SEJATI
Anda memberikan gambaran tentang Kristen yang sejati dengan Kristen yang tidak sejati itu dengan tampilan diri Yudas Iskariot dengan Petrus. Sekalipun itu benar juga, namun ada gam baran yang wilayah jangkauannya lebih luas lagi. Yaitu, bagaimana supaya pengajaran terse but bukan cuma ditujukan kepada kelas murid saja, tetapi bisa melingkupi ke diri pembicara atau pengajar atau pengkhotbahnya juga. Supaya tidak seolah-olah yang bodoh itu tidak mungkin pintar dan yang pintar tidak mungkin bodoh!
Sebab kalau kita berbicara tentang Yudas dengan Petrus, itu tentang kalangan murid, yang se belum menerima panggilan TUHAN adalah orang biasa yang masih awam terhadap keagama an. Dan mengikut YESUS yang sekitar 3,5 tahun saja, bukanlah suatu waktu yang cukup un tuk menangkap keseluruhan ajaran TUHAN. Lebih-lebih untuk suatu ajaran baru; Kristen, yang asing sekali bagi telinga Yahudi mereka.
Tetapi bagaimana dengan orang-orang Farisi, Saduki dan para ahli Taurat Yahudi? Bukan kah mereka golongan terdidik, golongan orang yang saleh, tokoh agama, golongan yang lebih rasional seharusnya, yang lebih siap menerima modernisasi, dan yang tak kalah serunya ada
lah orang yang mengerti seluk-beluk Kitab Suci! Yang tidaklah terlalu salah jika mereka itu dianggap sebagai orang dekat Pejabat Sorga?!
Selanjutnya, jika Yudas dan Petrus melakukan khianat di babak yang paling akhir dari kehi dupan YESUS, yang artinya mereka mempunyai kesempatan untuk mendengar dan melihat ke seluruhan diri Gurunya, sebelum mereka mengambil sikap untuk menilai Gurunya itu orang yang seperti apa?! Layak digadaikan atau tidak, adalah kajian menurut segi berpikir masing- masing orangnya. Tetapi yang jelas mereka mau mendengar dan mau melihat dalam waktu yang cukup panjang untuk mendengar, sekalipun menjadi waktu yang singkat untuk mempe lajari sesuatu.
Berbeda dengan orang-orang pintar itu, di hari pertama YESUS menyatakan diriNYA sebagai orang yang diurapi ALLAH dan mengkritik keimanan mereka, mereka langsung bereaksi:
Lukas 4:28-29: “ Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Me
                             reka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke te
                             bing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing
                             itu.”
Sudah nggak mau dengar, nggak mau introspeksi diri, sudah mengusirNYA keluar dari gere ja, masih diusir lagi ke luar kota, bahkan hendak dibuang ke jurang. Belum tahu hal yang se benarnya, belum mengenal yang semestinya, tidak merasa perlu mengetahui benar atau salah nya, tidak lagi melihat di mana tempatnya mereka itu marah, tidak lagi mempertimbangkan untuk menyerahkanNYA kepada hukum yang berlaku, tidak merasa perlu bermusyawarah di antara tua-tua gereja itu, tanpa belas kasihan dan kebijaksanaan sedikitpun, tanpa pertim bangan apakah itu hari Sabat atau hari biasa, tanpa pertimbangan tentang hukuman yang setimpalnya, antara tua-tua dengan jemaatnya sama-sama edannya, dan pertimbangan hu kum mereka adalah sangat keji sekali; melemparkan YESUS ke jurang!
Seperti aliran air yang sangat lancar yang tidak menggunakan filter; segala prosedur diter jangnya dengan tidak ada rasa bersalah sedikitpun!
Bagaimana itu jika kita hidup di zaman itu dan berada di tengah-tengah mereka? Bagaimana itu jika kedudukan kita waktu itu adalah sebagai Tua-tua gereja dan bagaimana itu jika terja di di zaman ini; manakala rata-rata pendeta dan tua-tuanya adalah sarjana, manakala kita hidup pada peradaban yang super modern dan manakala pengetahuan keagamaan kita sudah ditambahkan dengan Injil, yang mengajarkan tentang kasih sesama?! Bisakah dan mungkin kah kita ini berbeda dari mereka?
Bagaimana kita mengukurnya?
Mungkin kita bisa mengukurnya dari hal gengsi kita, suatu kebiasaan hidup dalam pujian-pujian. Di gereja kita dihormati jemaat, di gereja kita memegang suatu kedudukan, di kam pung kita juga seorang yang dihormati, di lingkungan kerja kita orang yang berkedudukan dan di masyarakat kita orang yang dikenal. Jika itu ditambah dengan karakter dan pembawa an sifat yang keras, kaku, mudah tersinggung, kesombongan, pengenalan diri yang kurang, serta gengsian, maka 2000 tahun yang lalu bukanlah jarak waktu yang panjang.
Jika selama ini para pendeta selalu menganggap jemaat sebagai sasaran penasehatan, justru Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya pendetalah yang perlu disuntik de ngan dosis yang tinggi. Sebab catatan Alkitab menyatakan bahwa YESUS tak pernah ramah terhadap golongan ini, justru selalu menganggapnya sebagai musuh serius yang dianggap co cok menerima ancaman: “Celakalah!”
- Yudas Iskariot nggak pernah menerima ucapan-ucapan kasar yang seperti itu, meskipun YE
   SUS mengetahui hati Yudas dari mulanya.
- Yudas Iskariot diancam PHK-pun tidak!
- Kenyataanpun membuktikan bahwa Yudas bukanlah seorang yang pembantah, bukan seo
   rang yang berani kurang ajar terhadap Gurunya. Serta nggak pernah main tangan terhadap
   YESUS. Selanjutnya, pengkhianatan Yudas adalah dalam bentuk ciuman, artinya adalah
   dia itu sesungguhnya takut dengan Gurunya
- Bila YESUS pernah mengatai Yudas: “Celakalah”, tapi itu diucapkan YESUS tidak secara
   terang-terangan di hadapan Yudas, melainkan melalui sindiran-sindirian yang memiliki taf
   siran yang luas!
Bagaimana dengan sikap YESUS terhadap tokoh-tokoh keagamaan?
- Mereka bukan saja dilangkahi dalam hal kelahiranNYA, tetapi juga tidak diundang untuk
   menghadiri kelahiranNYA.
- ALLAH lebih memilih Maria untuk melahirkan ANAK-NYA, dari pada memilih salah seo
   rang dari antara mereka
- YESUS tidak pernah bersahabat dan tidak pernah bersikap ramah terhadap mereka, melain
   kan selalu memusuhi mereka dengan perkataanNYA: “Celakalah!”
   Selalu begitu dan selalu begitu. Sementara kalau terhadap orang-orang berdosa YESUS se
    lalu bersikap ramah dan mengampuni: “Bertobatlah”,” dosamu sudah diampuni!”, “jang
    an berbuat dosa lagi” dan yang serupa itu.
- YESUS selalu mengambil jarak, menjauhi dan menghindari mereka, tetapi terhadap orang-
   orang berdosa, YESUS mencari mereka dan mengundang mereka dalam kelemah-lembutan
   IlahiNYA.
- YESUS selalu berkata perumpamaan terhadap mereka dan memasukkan diri mereka ke da
   lam cerita perumpamaanNYA. Sementara kalau terhadap para murid, YESUS memaparkan
   arti perumpamaanNYA.
- Ucapan-ucapan tajam YESUS selain “Celakalah” adalah: Serigala, munafik, kuburan yang
    dikapur, menduduki kursi Musa, pencuri yang merebut jemaatNYA, penyesat, guru palsu,
    ajaran manusia, bapa mereka Iblis, pendusta, menyamakan dengan babi, lebih berat dari
    tanggungan Sodom, ular beludak, pembuat kejahatan, nabi palsu dan lain-lain.
Nyatalah dari ini semua sesungguhnya yang lebih membutuhkan penasehatan adalah golong an pendeta, guru dan pengajar, bukan seperti yang kita pikirkan selama ini seolah posisi pen detalah posisi yang sudah aman.
Saya tidak mengatakan bahwa jemaat tidak membutuhkan nasehat atau jemaat itu lebih baik, juga jemaatpun bukanlah posisi yang benar-benar aman, tetapi hal ini perlu saya terangkan kepada pendeta karena selama ini khotbah-khotbah selalu dikonsumsikan untuk jemaat me lulu, mengesankan jemaat itu sarang penyamun sedangkan pendeta itu kumpulan para malai kat.
2.  Siapakah penyalib YESUS yang sebenarnya?
Selama ini yang terkesan dalam pikiran saya adalah Yudaslah yang seolah-olah selalu disudut kan sebagai penyalib YESUS. Setiap pendeta berkhotbah di hari Paskah, selalu nama Yudas yang dibesar-besarkan dan sedikitpun tidak menyentuh nama baik Mahkamah Agama!
Padahal kalau kita lihat dari duduk persoalan yang sebenarnya, peranan Yudas justru tidak terlalu besar, dibandingkan dengan peranan imam-imam Yahudi. Yudas hanya menjual dan menyerahkan TUHAN-nya, bagaimana dengan imam-imam yang tukang tadahNYA, yang selalu mencari kesempatan untuk menangkap YESUS, yang sejak mulanya ingin membunuh dan membungkam YESUS, yang menginginkan pengadilan rakyat, yang berdusta dalam hal kematian YESUS, dan yang selanjutnya mengobarkan permusuhan terhadap murid-murid YESUS. Bukankah kita juga mengenal latar-belakang Saulus sebagai bagian dari imam-imam
Yahudi itu sebagaimana kita mengenal kelanjutan pertobatan Paulus yang kini menjadi guru
dan rasul kita?!
Jadi, bagaimana kita bisa melupakan begitu saja peranan para Imam tersebut dan melempar kan beban kepada Yudas saja?!
3.  YESUS dimuliakan dari kehinaanNYA
Suatu pengetahuan yang sangat baik jika ini menjadi kaca cermin bagi para pengajar kita yang mulia, yang selalu hidup dalam gemerlap penampilan, dalam gemerlap modernitas, da lam pesta pora dan foya-foyanya.
Mengapa anda tidak mempraktekkan sebagaimana YESUS mempraktekkan dan mengajarkan itu semua kepada kita?! Ataukah ini juga hanya untuk jemaat anda saja?! Bagaimana mung kin kepala ular tapi berekor kuda?!
4.  ROH MENGAMPUNI
Ini juga apakah tidak cocok untuk ditawarkan kembali kepada anda?!
Mengingat roh permusuhanpun bergentayangan secara bebasnya di kalangan para pendeta.
Sukanya kalau menasehati jemaatnya yang bertikai selalu menyuruh mengampuni musuh, te tapi dirinya sendiri terkadang bukan cuma menyimpan permusuhan melainkan sebagai pen cipta permusuhan yang parah!
Mimbar adalah ring untuk mengadu-domba jemaat dan sound-system adalah untuk membuka aib orang ke depan umum! Berapa banyak pendeta yang belum didewasakan akal-budinya, te tapi dipaksakan untuk mengajar jemaatnya, hanya berdasarkan ijasah theologinya semata-mata. Dengan cara demikian maka mimbar bukanlah tempat untuk memuliakan ALLAH, melainkan tempat untuk menginjak-injak ALLAH.
5. Jalan salib?!
Anda katakan dalam penutupan khotbah anda bahwa jalan kemuliaan itu adalah kesusahan dan penderitaan itu. Suatu pemikiran yang sangat idealis sekali bagi seorang Kristen.
Nah, jika orang pergi ke pesta, untuk menggambarkan suka citanya ,maka dia akan mengena kan pakaian pesta yang meriah sekali. Lalu, bagaimanakah rupa seragamnya orang yang ber kesusahan itu?! Sudahkah anda memesannya ke desainer?


JAWABAN:  BELAJAR TEOLOGI DAN DOKTRIN
1.  KEMBALI KE FIRMAN DAN KEBENARAN
Untuk menghadapi tawaran kembali ke Firman dan Kebenaran ini kita perlu hati-hati dan bi jaksana. Kita tidak boleh sembarangan mengiyakannya, melainkan harus penuh pertanyaan yang jeli: Hendak di ajak kembali ke Firman yang gereja apa, sebab ada 700-an macam gere
ja. Selanjutnya hendak diajak masuk ke Alkitab secara berapa persen, mengingat di Alkitab itu ada sekitar 1500 halaman?
Ajakan-ajakan yang seperti ini adalah suatu ajakan bagaikan tape recorder yang diulang- ulang yang dari dulu hingga sekarang hanya berputar di tempat. Setiap pendeta selalu basa- basinya adalah memang seperti itu, mungkin memang vitamin-C nya begitu. Tapi nyatanya
si pendeta itu ya masih tetap di situ, masih tetap begitu dan selalu omong begitu lagi.
Selanjutnya kalau saya mengulas masalah ini, pasti akan sangat panjang, sementara saya su dah menuliskan ke dalam berbagai file tentang konsep-konsep Kebenaran yang menurut Alki tab katakan. Karena itu di sini saya akan masuk secara to the point-nya saja;
Banyak hal yang harus menjadi pertimbangan kita:
-          Apakah pengajak kita itu sudah masuk duluan ke Firman? Sudah berapa langkah, jang
an-jangan baru dua langkah sudah bilang Alkitabiah. Itulah umat yang berseru-seru:
TUHAN, TUHAN.....[‘kan itu baru dua langkah namanya?!]
          Bahwa kalau anda umat biasa, jangan biasakan melangkahi pendeta anda, tetapi tung
          gulah pendeta itu berjalan duluan, baru kemudian kita menyusul di belakangnya. Me
          ngapa? Supaya kita ini tidak dijadikan domba sembelihannya terus-terusan!
           > Luk. 11:46: “ Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, se
                                      bab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi
                                      kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.”
-          Kita bisa melihat dari buahnya, yaitu dari penampilannya; Apakah pendeta itu patut se bagai anak buahnya YESUS, yang tukang kayu, atau lebih patut menjadi Boss-nya toko
meubeleur? Anda bisa membayangkan seandainya YESUS sedang berdiri berjajar de
ngan dia, maka apakah masih patut YESUS itu disebut Boss mereka?
 > Mat. 10:25: “ Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan
                            bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan
                            rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”

> Mat. 8:20: “ Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mem
                             punyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk
                             meletakkan kepala-Nya."
          Saya yakin, kena ayat ini akan banyak pendeta yang mengundurkan diri!
          > Yoh. 6:66: “ Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan
                                      tidak lagi mengikut Dia.”
          Kalau nggak percaya, buktikan: sodorkan ayat-ayat ini untuk dia bahas! Supaya mereka
          nggak berpikir menjadi orang Kristen itu enak, gajinya besar karena anaknya ALLAH!
-          Bagaimana doktrin dia mengenai TRINITAS, di hari yang mana dia itu berbakti; Sabtu
atau Minggu atau Sabtu malam Minggu bareng anak-anak muda yang trek-trekan?!
Bagaimana mengenai kebenaran Natal, Paskah, serta tanyakan juga tentang photo
pengamen itu sesungguhnya siapa DIA?! Bagaimana pandangan dia tentang pakaian
seksi yang masuk gereja, sebab sering kali saya keliru menawar mereka untuk saya
ajak ke hotel; sudah pakaian siap pakai gitu, ngapain ke gereja, mending happy-happy
saja dengan saya?! Bagaimana pula pandangan dia tentang perempuan yang berkhot
bah di depan jemaat, serta bagaimana anda dibaptiskan dan tanyakan apa sih artinya
baptisan itu?!
> Yes. 1:12: “ Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang
                       menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait
                       Suci-Ku?”
Siapa sih yang menuntut anda ke gereja kalau untuk menginjak-injak gereja?!
2.  KALAU MENDAPAT PERTANYAAN DARI TEMAN
Kalau mendapatkan pertanyaan dari teman mengenai Kekristenan, maka apakah yang hen dak kita ceritakan tentang Kekristenan?!  > Itulah perlunya kita sekolah Teologia!
Supaya kita pandai bercerita bahwa ikut YESUS itu enak, pasti kaya-kaya, pasti sukses, pasti makmur, kalau menjadi pendeta bayarannya besar, setahun bisa beli dua rumah, cewek gereja itu cantik-cantik – kamu pasti kerasan, di gereja itu hati kita pasti gembira karena ada band-nya, kita bisa Karaoke, menyanyi: “Kamu ketahuan......bukan anak TUHAN!”
Kalau kamu miskin, maka gereja akan bantu kamu sembako, belum lagi kalau Natalan, kamu pasti dikasih hadiah yang bagus-bagus, dan kalau Paskah pasti dapat sebutir telor; bukan te lor ayam, tapi telor Paskah! Itu nggak ada di toko, sebab adanya hanya di kandang Betlehem!
Belum lagi kalau kamu didatangi Sinterklaus, kamu pasti dikasih kaos kakinya!
Ya, ya, ya, baiklah, saya akan pikirkan hal itu!
3.  JIKA TANPA TEOLOGI YANG BENAR.............
Di zaman yang penuh persaingan ini, yang mana di mana-mana ada gereja berdiri megah, di rasakan kita ini perlu memberikan pengetahuan teologia “yang benar” [menurut saya] kepada jemaat, agar mereka itu bisa tetap terpelihara di kandang kita!
Betul, pak, sekarang ini banyak sekali kutu loncat! Kita perlu agendakan dalam rapat kita minggu depan; ini masalah yang amat mendesak untuk kita mengambil langkah-langkah buat penyelamatan umat, agar mereka itu tidak tersesat ke kandang yang lain, kompetiter kita.
4.  MEMANG DOKTRIN BUKANLAH YANG UTAMA
Kalau gereja sudah masuk ke ruang Oekumene, maka atas alasan sesama Kristen dilarang sa ling mendahului, maka doktrinpun bisa dijadikan nomor sepuluh! Akal budi yang seperti ini lah yang sedang mengajak kita masuk ke Firman TUHAN dan kebenaranNYA.
Jadi, percumalah YESUS berkata: “AKU-lah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP, tidak seorangpun datang kepada BAPA kalau tidak melalui AKU.” > Padahal sudah ditegaskan di sini bahwa kalau tanpa KEBENARAN YESUS, maka kita takkan pernah sampai kepada BA PA, tetapi pendeta bisa mengubah itu menjadi nomor sepuluh?!
> Matius 6:33: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu
                            akan ditambahkan kepadamu.”
                            Saya kuatir kata “dahulu” di sini nantinya diartikan: “zaman dahulu.” – Su
                            dah kuno – sudah kuno firman ini! Sekarang sudah diganti!
5.  MENGAPA KITA MALAH TIDAK MEMENTINGKAN DOKTRIN?
Ini kata anda:
Karena aliran-aliran sesat seperti Mormon, Saksi Yehova, Unitarianism, Unifica tion Church (Dr Moon) dll saja sangat menekankan dan menyebarkan ajaran mereka dengan berani melalui media massa, mengapa kita orang Kristen dan mengerti pe mahaman Firman yang benar yang seharusnya ikut serta menegakkan kebenaran Fir man Tuhan malah tidak mementingkan dan melalaikan doktrin?
Kalau saya menilik kalimat yang seperti ini, dan ini diutarakan di dalam suatu khotbah, maka
ini bukanlah suatu kesaksian bahwa ia telah berpikir dan melaksanakannya, melainkan ini ba ru sebatas wacana atau ide dia, yang dilemparkan untuk mendapatkan persetujuan umum!
Untuk melakukan sesuatu yang dipikirkannya baik, dia masih berat dilangkah, kurang di du kung imannya, sehingga seolah hal itu dirasa perlu dirundingkan orang banyak. Masih meno leh ke kanan dan ke kiri, apakah idenya itu dianggap orang baik?! Mencari persetujuan dari manusia.
Bagaimana saya harus belajar kepadanya, kalau saya lebih pintar dari dia?!
6.  TEOLOGI SISTEMATIS
Ini benar-benar suatu ide yang sangat cemerlang sekali, karena di Alkitab belum ada istilah ataupun konsep yang seperti itu!
> Bahwa YESUS bisa mengajar orang melalui medium apa saja, bisa melalui air minum, ke
    tika IA kehausan, dan lain-lain. Tanpa teori, tanpa trik-trik penginjilan dan tanpa sekolah
    an penginjilan!
> Demikian pula halnya dengan para nabi dan para rasul. Tidak ada model sekolahan nabi-
    nabi dan tidak ada pengajaran dalam bentuk formal, yang harus begini atau harus begitu,
    berdasarkan strategi pemikiran manusia. Bahwa tidak ada model penginjilan yang direnca
    nakan dan dikalkulator lebih dahulu!
7.  IMAN MACAM APAKAH INI?
“Hmm, ya gua sih tahunya begitu, ngak jelas juga ya. Yang penting elo beriman aja.”
Memang tidak salah.....................
Orang dengan iman yang begitu mentah: “yang penting elo beriman aja” itu bisa dinilai tidak
salah? Betapa sangat ngawurnya!
Nggak kaget kalau Minggu itu kayak Sabtu, Dewa Matahari itu kayak YESUS, duit anda kayak duit saya, istri anda kayak istri saya! Kata sebuah lagu:  Kamu ketahuan.......selingkuh
 itu nggak apa-apa, sebab kamu hanya kekasih gelapku.
8.  SIAPA YANG SUKA COMOT AYAT?
Kalau kita sungguh-sungguh mau belajar Firman Tuhan dan menangkap the message of the whole Bible dari Kejadian sampai Wahyu, maka kita tidak akan terjebak pada khotbah atau interpretasi Alkitab yang cuma comot ayat dari sana sini tapi tidak ada basisnya sama sekali.
Kalau antara anda dengan saya berdiri berhadapan, maka kira-kira siapa yang akan ketahu an suka comot sana comot sini?! Dan ketahuan kalau perkataannya tidak berbasis? Malah
saya berani taruhan banyak hal yang anda nggak perlu nyomot ayat Alkitab sama sekali, sebab daya imajinasi anda sudah cukup kuat untuk menganggap hari Minggu sebagai Hari Sabtu?!
Jadi, masih perlukah belajar Teologi dari anda?!


JAWABAN:   MOTIVASI MEMBERITAKAN INJIL
1.   MOTIVASI DAN TUJUAN
Umumnya yang menjadi MOTIVASI orang untuk menjadikan dirinya seorang penginjil ada
lah supaya dirinya memenuhi perintah TUHAN, yang menyuruh kita memberitakan Injil. Se dangkan yang umumnya menjadi TUJUAN orang memberitakan Injil adalah supaya orang yang disasarnya itu menjadi Kristen.
Pemahaman yang demikian itu jelas suatu kesalahan yang amat fatal sekali bagi penginjil itu.
Dia takkan pernah mendapatkan apa-apa dari ALLAH, meskipun dia berhasil menarik seribu jiwa menjadi Kristen.Dia bekerja, tetapi ALLAH masih menilainya belum bekerja. Mengapa?
Karena orang ini tidak mampu menterjemahkan maksud dari sebuah perintah, tidak mengerti ‘jiwa’ dari perintah tersebut dan mematikan suatu perintah yang hidup.
Bahwa kalau kita diperintahkan untuk menyapu itu bukanlah supaya kita memegang sapu lalu menggerak-gerakkannya begitu saja, tetapi supaya rumah kita itu bersih bukan hanya se batas pandangan mata saja, melainkan supaya dipastikan tidak ada bibit penyakit yang nanti nya akan mencelakai kita sendiri.
Kalau kita mengerjakan perintah tersebut sebagai sekedar menyapu, maka pekerjaan kita itu hanya memberikan untung bagi orang lain saja, yaitu orang yang melihat rumah kita mata nya disenangkan, karena melihat rumah yang bersih.Tetapi kita sendirilah yang dirugikan, se bab rumah kita sesungguhnya belum benar-benar bersih, melainkan masih menyisakan bibit- bibit penyakit yang tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa mencelakai kita sendiri.
Apakah maksudnya polisi menyuruh kita memakai helm? Apakah itu menyuruh kita memakai topi? Apakah itu untuk keuntungan polisi itu, yaitu melihat kita ini ganteng-ganteng? Tetapi banyak sekali orang yang tidak mengerti maksud dari perintah tersebut, sehingga yang dipa kainya adalah sesuatu yang berbentuk helm [helm yang bukan helm], sekedar supaya tidak di tilang polisi saja. > Hanya memberikan keuntungan bagi polisi itu yang melihat kita sebagai
orang yang taat peraturan, tetapi sesungguhnya kita sedang menyiapkan celaka besar bagi di ri kita sendiri. Kita hanya berpikir bahwa polisi itu sekedar mencari-cari perkara supaya dia ada objekan untuk peluang suap. Padahal polisi itu sampai mengeluarkan peraturan itu ‘kan karena dilihatnya korban kecelakaan yang gegar otak yang semakin meningkat?!
Apa pula sebenarnya maksud TUHAN memerintahkan kita untuk memberitakan Injil?
Apakah itu suatu bentuk egoisme TUHAN agar semua orang menjadi umatNYA? Apakah itu
suatu tuntutan “pekerjaan” yang supaya muridNYA lakukan sekedar sebagai penanda bahwa ALLAH itu majikan kita dan kita ini kacung [pelayan/hamba]-NYA? Betapa remeh, rendah dan dangkalnya ALLAH yang model begitu itu!
Apa maksud TUHAN yang sebenarnya?
Rm. 8:29: “ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya
                    dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-
                    Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Supaya kita, umatNYA ini serupa dengan ALLAH, yang maksud mulanya menjadikan kita adalah supaya kita ini menjadi gambar dan rupa ALLAH. Supaya kita masuk pada rencana ALLAH ketika IA menciptakan Adam.
Pada waktu kita berada dalam dosa, ALLAH sendiri telah turun kepada kita untuk memberita hukan tentang photo kita yang pada mulanya adalah seorang yang ganteng, dan DIA mengha rapkan kita yang buruk rupa ini dikembalikan seperti sedia kala, yaitu menjadi makhluk ma nusia yang sebenarnya.
“Inilah photo kamu beberapa tahun yang lalu, ganteng sekali! Mengapa kamu sekarang begi tu kotor dan sama sekali tidak bisa dikenali lagi?”
Mengapa kamu begitu jahat, menjadi bersifat binatang, tidak seperti manusia sama sekali?
Mengapa akal budi kamu tidak berfungsi? Mempunyai pengetahuan tentang yang baik, tetapi kamu melakukan apa yang jahat?!
Nah, YESUS datang bukan cuma menunjukkan photo kita saja, melainkan DIA juga menger jakan sesuatu untuk kita. Karena tidak mungkin kita sendiri bisa merubah diri sendiri, melain kan membutuhkan jasa SALON KECANTIKAN, maka YESUS menukarkan kepalaNYA sen diri, kepala ALLAH-NYA, ditukarkan dengan kepala kita yang berwajah buruk ini. Sehingga
kita menjadi seganteng ALLAH, sedangkan YESUS justru yang menjadi buruk rupa.
Oleh DIA, kita menjadi DIA dan DIA menjadi kita.
Supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA, menjadi YESUS-YESUS!
Supaya kita menjadi juruselamat-juruselamat! Menjadi penebus-penebus!
Supaya dari TELADAN DIA, kita melakukannya seperti DIA!
Bahwa setiap orang yang percaya kepada YESUS adalah orang-orang yang telah masuk ke dalam konsep kasihNYA. Bukan orang yang cuma berseru: TUHAN TUHAN saja, melainkan telah benar-benar meninggalkan Mamonnya, melupakan apa yang di belakangnya, dan menu karkannya dengan jiwa yang baru, yaitu wajah YESUS.
Kita harus rela melepaskan kepala kita dan menukarkannya dengan kepala YESUS. Hanya i- nilah cara satu-satunya untuk mendapatkan rupa YESUS, agar bisa dikenali oleh ALLAH. Se bab kalau kita masih tetap rupa kita, maka ALLAH akan memalingkan wajahNYA, tidak mau menerima kita sebagai anakNYA.
> Kita menjadi YESUS adalah syarat yang mutlak, tidak ada kortingan sedikitpun!
Gal. 2:20: “ namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus
                     yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging,
                    adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menye
                    rahkan diri-Nya untuk aku.”
Kata Marthin Luther: “ Aku bukan tuan atas diriku.”
Mat. 10:37: “ Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak
                    bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari
                    pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Kej. 2:24: “ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu
                    dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
                    Bagaimana bisa disebut sudah beristri kalau masih menetek pada ayah-ibunya?
                    Bagaimana bisa disebut manunggal dengan YESUS jika masih manunggal de-
                    ngan dunia?
Mat. 9:17: “ Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua,
                     karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan
                     kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong
                     yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."
                     Jika di dalam Kekristenan kita menerima konsep-konsep berpikir yang baru, ma-
                    ka itu harus kita tempatkan ke dalam jiwa kita, supaya melalui cara itu kita bisa
                    berbuat[melakukan] seperti yang konsep itu katakan.
                    Janganlah kebenaran Kristen itu kita jadikan lihat-lihatan saja: “Oh, ajaran YE
                    SUS itu baik..................... Oh, ajaran YESUS itu masuk akal.......................”
                    Jangan seperti orang yang hanya menimang-nimang buah apel, tapi tidak mema
                    kannya. Jangan seperti orang yang pergi ke supermarket yang hanya berjalan-
                    jalan saja, tetapi tidak ada suatupun yang dibelinya.
                    Sebab Kekristenan itu bukan pertunjukan atau tontonan atau pameran, tetapi pen
                    jualan! YESUS menjual, kita harus menjadi pembelinya!
Nah, kalau pola pikir kita sudah pola pikir YESUS, maka kita memberitakan Injil itu sudah bukan lagi karena perintah, melainkan karena sudah memang begitulah yang seharusnya
YESUS itu! Sudah nggak perlu lagi perintah itu, nggak perlu lagi buka-buka Alkitab untuk mencari-cari apa saja perintah ALLAH untuk orang Kristen, nggak perlu lagi segala pengeta huan yang baik atau yang jahat, sebab YESUS itu sendiri adalah pribadi FIRMAN, pribadi LOH BATU – 10 Hukum.
2Kor. 3:3: “ Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pela
                     yanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup,
                     bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati ma
                     nusia.”
Jika anda melihat orang kecelakaan di jalan dan anda menolong orang itu, maka apakah mo tivasi anda menolong orang itu? Karena diperintah orang, karena orang yang celaka itu minta tolong, karena ingat akan pahala, karena ingin dianggap orang baik, ingin mendapatkan upah, atau karena jiwa kemanusiaan anda yang bekerja secara spontanitas?!
Kalau anda membawa anak anda yang sakit itu ke dokter, maka apakah motivasi anda memba wanya ke dokter? Karena perintah orang, karena permintaan anak itu, karena nasehat tetang ga, karena ingin disebut ayah yang baik, karena ingat perintah agama, atau karena jiwa ke ayahan anda yang bekerja secara spontanitas, yang tidak lagi mempertimbangkan sesuatu apa pun?!
Manakah manusia itu? Manakah yang disebut manusia itu?
Jadi, apakah motivasi kita memberitakan Injil itu? Karena kita adalah YESUS itu sendiri!
Mat. 4:23: “ Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat
                    dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan
                    kelemahan di antara bangsa itu.”
Karena kita adalah YESUS, maka secara otomatis perintah memberitakan Injil itu sudah ada di dalam diri kita, nggak mungkin tidak! Begitu YESUS ada di dalam kita, seketika itu juga
jiwa Penginjil itu di dalam diri kita. Semua kitab mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanji an Baru sudah ada di dalam diri kita, sehingga kita tidak perlu lagi diajar oleh orang yang la in.
1Yoh. 2:27: “ Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari
                       pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagai
                       mana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajar
                       an-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar
                       kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”
Nggak perlu sekolah Teologia kita sudah menjadi seorang Teolog, kita sudah menjadi LEBIH dari pendeta, yang sarjana Teologia. Sebab pendeta-pendeta itu adalah muridnya YESUS. Ka rena itu kita boleh mengajari pendeta-pendeta itu, sebab kita adalah YESUS.
Petrus yang mulanya nelayan yang bodoh, kini menjadi penulis Injil, dan Injilnya itu kini jus tru sedang dipelajari dan dijadikan pengajar oleh para pendeta. Sebab Petrus bukan lagi Pe trus yang kerikil [Petra = batu kecil], tetapi BATU KARANG yang besar!
Matius 16:18: “ Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu
                           karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan me
                           nguasainya.”
Alam maut tidak akan menguasainya. Bahwa sampai kedatangan YESUS yang keduakalinya
nanti Sumber Kekristenan adalah Petrus, bukan rasul Paulus, melainkan Petrus!
Bahwa kerasulan Paulus harus melalui penerimaan Petrus. Tanpa penerimaan Petrus, rasul Paulus tidak akan pernah menjadi rasul kita.
Mu.
Kisah 2:36: “ Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat
                       Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."
Petrus-lah Ketua Panitya Kerasulan yang menetapkan bahwa YESUS adalah TUHAN dan
KRISTUS. Itulah kesimpulan dan keputusan Petrus selaku saksi hidup!
Petrus-lah yang diperintahkan TUHAN untuk membuka pintu terhadap bangsa-bangsa non Yahudi [kafir] melalui pertunjukan makanan haram dan yang membaptiskan Kornelius, seba gai orang non Yahudi pertama yang menjadi umat Kristen.
Kis. 15:7: “ Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal
                    itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu
                    tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya
                    dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan
                    menjadi percaya.”
Lalu, apa yang menjadi tujuan kita memberitakan Injil? Apakah supaya orang menjadi Kris
ten?!
Jika tujuan kita menjadikan orang Kristen, itu adalah perkara yang sangat gampang. Kita bi sa membeli orang dengan Sembako atau dengan segala bujuk rayu. Kita bisa menjadikan istri kita Kristen, karena kita suaminya. Kita bisa menjadikan anak-anak kita Kristen, karena kita adalah ayahnya. Kita bisa menjadikan tetangga kita Kristen karena kita tetangga baiknya. Ki ta bisa menjadikan Kristen teman kita, karena kita adalah temannya. Kita bisa menjadikan Kristen karyawan kita, karena kita adalah boss mereka. Kita bisa menjadikan orang Kristen karena kita orang yang ganteng, karena kedudukan kita, karena kekayaan kita, karena kepin taran kita berkata-kata, karena kita bisa membuat tanda-tanda mujizat, karena kita bisa meng usir setan, dan lain-lainnya.
Namun apakah semuanya itu berguna, jika mereka semuanya itu tidak bisa mencapai ke sor ga? Jika mereka-mereka yang masuk itu tanpa kesucian hati, tidakkah mereka malah mencip takan malapetaka bagi kita? Nama baik Kekristenan bisa menjadi rusak oleh sebab orang-orang yang belum bersunat hati masuk Kristen. > Seperti yang sekarang ini terjadi, nama YE SUS menjadi dihujat orang, oleh sebab kesalahan kita memberitakannya?!
Jadi, tujuan memberitakan Injil yang semestinya adalah: MENGUMUMKAN, bukan MEREK RUT! Ini yang harus diingat! Memberikan suatu INFORMASI bukan PROMOSI! Sama seka li tidak bersifat MENAWARKAN ataupun MENARIK. Karena itu kita tidak perlu memberi kan aksesoris tambahan terhadap Injil, tidak perlu menambah-nambahi, tidak perlu melebih- lebihkan dari apa yang ada di Injil!
Kita tidak bertanggung-jawab terhadap jumlah jiwa yang kita Kristenkan, tetapi terhadap jum lah jiwa yang kita beritai. Bahwa kita harus memberitakan Injil kepada sebanyak-banyaknya jiwa, bukan supaya memasukkan Kristen yang sebanyak-banyaknya. Karena itu, biarkanlah gereja kita semakin berkurang jumlah umat/jemaatnya, asalkan wilayah pemberitaan kita se makin bertambah luas.
Sekalipun Alkitab berkata supaya kita menarik sebanyak-banyaknya jiwa, tapi yang demikian itu adalah harapan TUHAN, yang menginginkan sebanyak mungkin orang bisa diselamatkan, bukan merupakan suatu perintah yang menuntut pertanggung-jawaban kita.
Tetapi yang demikian itu tidak mungkin bisa diwujudkan oleh gereja-gereja yang mendirikan gereja sebagai suatu investasi! Gereja pribadinya pendeta A, gerejanya pendeta B dan gereja gereja yang pembangunannya mentereng.
Yah, pintar-pintarlah anda menilai segala sesuatunya yang anda lihat!
2.  KESUCIAN DAN KEMURNIAN
Kata anda: Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita mela yani.
Di sini seolah-olah kesucian dan kemurnian itu sesuatu yang bisa kita buat atau bikin. Sesua tu yang kita usahakan, bahwa kita harus mengusahakan diri kita suci. Apakah bisa kita mem buat kesucian dari bahan yang tidak suci?
Bisakah orang berdosa membuat kesucian? Jelas tidak mungkin bisa!
Kalau seolah-olah suci, bisa! Dengan setiap hari membaca Alkitab, setiap hari berdoa, setiap minggu ke gereja, setiap waktu berpuasa, menolong orang, menjadi pendeta, menjadi aktifis gereja, dan lain-lainnya, maka kita bisa seolah-olah suci. Semua perbuatan itu akan mencip takan pemandangan bahwa kita ini suci. Bukan tentang “ yang sesungguhnya suci!”
Di sini orang hanya mengusahakan permukaannya atau melihat pada hasilnya semata-mata.
Yang penting sudah menyapu, entah hakekatnya bagaimana kita tidak merasa perlu tahu! Yang penting tujuannya tercapai atau yang penting bungkusnya rapi!
Tetapi TUHAN tidak menuntut terjadinya perbaikan itu pada sebelah luarnya, melainkan TU HAN menginginkan kita memperbaiki pada bagian dalamnya lebih dahulu. Abaikanlah masa lah luarnya, perhatikan bagian dalamnya!
Mat. 23:25: “ Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-
                       orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya,
                       tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.”
Jika kita membersihkan gelas, utamakanlah membersihkan bagian dalamnya. Sebab bagian
dalamnya itulah yang untuk wadah minuman kita. Sehingga walaupun di bagian luarnya ma
sih kotor, penuh tahi, minuman kita masih tetap bersih dan tetap sehat. Sebab hanya yang lu arnya saja yang kotor.
Bahwa yang paling perlu untuk kita perhatikan adalah akal budi kita, pikiran kita, konsep ber pikir kita, niatan-niatan hati kita, apakah semuanya itu sudah masuk pada kebenaran TU HAN?! Apakah sudah beres apa yang kita pikirkan itu?!
Abaikanlah masalah perbuatanmu! Sekalipun tanganmu masih suka mencuri, sekalipun mu lutmu masih suka berdusta, sekalipun kamu masih suka melacur, sekalipun kamu masih suka korupsi, termasuk pula jika kamu masih suka membunuh!
Dosa-dosa itu sudah ada penebusannya. YESUS sudah menebus semua ketidakmampuan kita itu! > Tidak mungkin kita bisa menyuruh harimau menjadi kucing! Mustahil sekali itu!
> Yer. 13:23: “ Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah
                         belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang
                         membiasakan diri berbuat jahat?”
Kamu bisa baik? Itu sangat mustahil! Khayal itu! Sangat nggak mungkin! Mana bisa itu?!
Tapi akal-budi kamu masih bisa diperbaiki! Sebab setiap jiwa yang hidup itu asalnya dari
ALLAH, bukan dari Adam! Adam hanya menurunkan tubuh, sedangkan roh kita itu dari
ALLAH!
Karena itu jangan biarkan roh kamu itu menyatu dengan tubuhmu, melainkan pisahkanlah!
Jangan biarkan rohmu selalu menuruti keinginan/tuntutan dari tubuhmu, tetapi rohmu harus berdiri untuk memimpin dan mengendalikan tubuhmu sepenuhnya!
> Kol. 3:5: “ Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu
                      percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang
                     sama dengan penyembahan berhala,”
Di sini rasul Paulus menunjuk pada akal-budi kita, bukan pada perbuatan duniawinya. Kata kata yang Paulus gunakan adalah: “dalam dirimu.” Yaitu dalam otak kita!
Kalau begitu bukankah orang-orang non Kristen akan menganggap kita itu jahat atau sarang penjahat?! Benar! Tapi biarkanlah itu, sebab yang penting bukan pemandangan manusianya, melainkan dalam pemandangan ALLAH kamu tidak dianggap munafik!
Dari pada menurut manusia kamu dianggap baik, tapi menurut ALLAH kamu munafik?!
Biarkanlah tubuh duniawi kita itu untuk mata dunia, sedangkan akal budi kita untuk mata ALLAH!
> Mrk. 2:16: “ Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan
                        dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada
                        murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai
                        dan orang berdosa?"
> Roma 7:9-25:   “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang
                        perintah  itu, dosa mulai hidupsebaliknya aku mati.
                       Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru
                       membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesem
                        patan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku.
                        Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar
                        dan baik.
                        Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali
                        tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan
                        yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa
                        lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.
                        Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat
                        daging, terjual di bawah kuasa dosa.
                        Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku
                        kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku
                        perbuat.
                        Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa
                        hukum Taurat itu baik.
                        Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di
                        dalam aku.
                        Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia,
                         tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi
                        bukan hal berbuat apa yang baik.
                        Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat,
                        melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
                         Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku
                         yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.
                          Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang
                          baik, yang jahat itu ada padaku.
                          Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,  tetapi di dalam anggota-
                          anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum
                          akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di
                          dalam anggota-anggota tubuhku.
                          Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut
                         ini?
                         Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal
                          budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku
                          melayani hukum dosa.”
Kita tidak bisa menyembah kepada ALLAH dan juga kepada Mamon, melainkan harus dipilih salah satunya. Jika yang satu hidup maka yang satunya harus mati.
Bahwa Hukum ALLAH, yang menurut kemestiannya adalah membawa kabar baik [kehidup
an], bagi Paulus dirasakan malah membawa kematian, yaitu bagi tubuhnya.
Bahwa Hukum ALLAH malah menciptakan peluang bagi masuknya dosa! Sebab mana kala kita kita ingin berbuat yang baik, maka yang akan datang mencobai kita adalah roh jahat.Ma na kala kita ingin berpuasa, maka yang akan datang mencobai kita adalah roh keinginan ma kan. Manakala kita ingin berhenti merokok, maka yang datang adalah roh merokok!
Mana kala kita ingat firman TUHAN: “Jangan berzinah”, maka yang akan mencobai kita adalah roh pezinah! Maka oleh sebab itulah kita menjadi sering gagal mencapai sesuatu yang kita inginkan itu. Sebab selalu diuji di situ! Ujian terhadap keinginan kita!
Mengapa kita suka gagal mencapai sesuatu yang baik? Yaitu untuk menunjukkan bahwa kita ini adalah manusia yang lemah dan yang malang! Untuk mengingatkan kita kepada nenek- moyang kita; Adam yang berdosa. Bahwa kita ini ternyata serupa dengan Adam, masih layak disebut sebagai anak Adam! Bahwa kita bukan berasal dari yang lainnya, bukan berasal dari malaikat ataupun makhluk luar angkasa. Bukan dibuat dari bahan plastik! Melainkan asli anak Adam!
Karena kita anak Adam, maka kita juga anak ALLAH, sebab Alkitab mengatakan kalau Adam itu anak ALLAH. Dan kalau kita anak ALLAH, maka sudah pasti kita akan diselamatkan NYA, sebab anakNYA!
Kalau kita membenci pada perbuatan kita dan menganggap itu kejijikan, itu pertanda pikiran kita itu waras, masih tahu mana yang baik dengan mana yang jahat. Tetapi kalau sampai pi kiran kita sudah menganggap baik kejahatan yang kita lakukan, maka itu pertanda kita sudah diambang celaka!
> 1Yoh. 1:10: “ Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia
                           menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”
Karena itu, bagaimana kita bisa membuat kesucian?!
3.  KEHENDAK ALLAH
Menurut anda, salah satu yang memotivasi kita untuk memberitakan Injil secara murni ada lah Kehendak ALLAH. Bahwa seolah kita HARUS mengabdikan diri kepada ALLAH. Kita harus melihat pada perintah ALLAH. Kita harus bergantung dari perintah! Sehingga kalau tidak diperintah kita tidak melaksanakannya.
Jika demikian konsep kita memberitakan Injil, maka mentahlah hubungan kita dengan ALLAH, yang Alkitab katakan sebagai hubungan: BAPA dengan ANAK. Kita tidak pernah menjadi Saudaranya YESUS. Kita menjadi di luar YESUS, bukan di dalamNYA. Kita menjadi hamba atau pelayan ALLAH. Kita di luar ALLAH, tidak manunggal dengan ALLAH! Firman ALLAH kembali menjadi loh-loh batu yang mati! Kita menjadi mundur kembali ke zaman Taurat! Zaman perbuatan!
Bahwa seorang pelayan melakukan pekerjaannya karena upah, karena perintah dan tanpa ji wa. Tetapi Anak melakukan pekerjaan karena pengertian, dalam kebebasan dan dalam krea tifitasnya yang hidup, karena ia mempunyai kuasa dalam rumah Bapanya.
Memang benar bahwa yang mula-mula adalah perintah, tapi setelah itu harus roh!
Ketika anak kita masih kecil-kecil, kita memperlakukan anak-anak kita sama seperti kita memerintah ke pelayan kita. Anak-anak tidak kita ijinkan membantah, tidak kita ijinkan ber tanya-tanya, tidak kita ijinkan bekerja tanpa perintah kita, sama seperti pelayan kita. Menga pa?
Sebab akal budinya belum jalan, sehingga kita yang memimpin hidup mereka dan tidak mem
biarkan mereka memimpin diri mereka sendiri. Tetapi kitalah yang menguasai mereka sepe
nuhnya. Segala sesuatunya kita yang mengatur dan menentukannya!
Ya, apa jadinya jika seorang anak kita biarkan hidup bebas menurut kehendaknya sendiri?
Seharian dia akan habiskan waktunya untuk bermain game terus, malas belajar, tak mungkin mereka akan mandi atau makan secara teratur. Mau jadi apa nanti?!
Tapi, apakah peraturan-peraturan dan penguasaan kita itu akan kita berlakukan terus sam pai mereka dewasa? Mudah-mudahan tidak!
Di ketika mereka dewasalah kita bisa berbincang-bincang dengan mereka, mengobrol, berdis kusi, bertukar pikiran, duduk semeja sebagai teman, memberikan kebebasan secara mutlak kepada mereka untuk hidup menurut dirinya sendiri dan mereka menikmati diri kemanusiaan mereka secara sempurna.
Bukankah demikian yang dikehendaki dalam Perjanjian yang Baru?
>  Yeremia 31:31-34: “ Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN,
                                      Aku   akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan
                                      kaum Yehuda , bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan
                                      nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka
                                      untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu
                                      telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas
                                     mereka, demikianlah firman TUHAN.  Tetapi beginilah perjanjian yang
                                     Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman
                                     TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan
                                     menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah
                                     mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang
                                     mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan:
                                     Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal
                                     Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni
                                     kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."
> Bacalah:  “LAODEKIA” &  “PERSAKSIAN”
Pada suatu file, saya pernah mengetengahkan cuplikan file anda ini, yaitu tentang perintah raja yang tidak bisa diperdebatkan. Itu bukan berarti bahwa ALLAH tidak suka kita berban tah denganNYA. Justru kalau kita pelajari Alkitab secara keseluruhannya, kita akan menda
pati bahwa ALLAH kita itu ALLAH yang demokratis sekali. ALLAH yang sangat menyenang kan, bukan sosok raja yang garang, meskipun IA – RAJA SEGALA RAJA!
> Apa perbincangan ALLAH dengan Kain ketika ia hendak membunuh adiknya?
> Ketika ALLAH hendak membinasakan Sodom, IA memintai pandangan Abraham.
> Ketika dengan Yakub, dengan Ayub, dengan Yunus, dengan Elia, dengan Musa, dan lain-
    lainnya.
> Yeh. 18:25: “ Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum
                           Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak
                           tepat?
> Yeh. 18:29: “ Tetapi kaum Israel berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Apakah tindakan-
                          Ku yang tidak tepat, hai kaum Israel, ataukah tindakanmu yang tidak tepat?”
Cuma, ya jangan kurang ajar! Kalau sudah bertele-tele dan tidak logis lagi, ya sudah pasti akan dihardik!
Jadi, tidak ada bukti untuk menyatakan bahwa ALLAH itu tidak kompromis!
4.  INJIL DAN SEGALA TULISAN RASUL
Bahwa kalau kita sudah manunggal dengan ALLAH, maka segala tulisan INJIL dan para rasul itu sudah tidak mengikat kita lagi. Kecuali itu untuk dasar-dasar kita mengajar orang la in. Sebab apa yang di dalam kita sudah lebih besar dari pada itu semua!
Sebagaimana perjalanan pendewasaan Israel dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, dari loh batu ke loh hati, demikianlah perjalanan iman kita. Setiap orang pasti akan memasuki fase-fase dari kanak-kanak ke kedewasaan rohani. Bahwa yang mula-mula selalu berasal da ri luar diri kita, sebagaimana dikatakan: Iman timbul dari pendengaran. Itu artinya dari luar diri kita. Kita masih diajar orang, masih diatur begini dan begitu dan masih membutuhkan pe tunjuk-petunjuk Kitab Suci. Tetapi kita harus berjalan terus untuk memasuki dunia keimanan yang sesungguhnya, yang dipimpin oleh yang tidak kelihatan, yaitu ROH KUDUS.
> 1Yoh. 4:4: “ Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-
                        nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh
                        yang ada di dalam dunia.”
5.  PERGI.......PERGI.......DAN PERGI.......
Kata anda: pokoknya pergi, pergi dan pergi!
Masalah pergi itu gampang, tapi bekal apa yang hendak anda bagikan ke orang itu? Roti atau
racun? Ajaran manusia atau ajaran ALLAH?! Ajaran yang Alkitabiah atau yang menyesat kan?! Jangan sampai di setiap jalanan yang anda lewati itu menjadi bergelimpangan mayat, oleh sebab ajaran yang tidak benar, atau benar menurut diri sendiri. Seharusnya setiap lang kah perjalanan anda itu membangkitkan orang mati, tapi bisa jadi orang yang hidup menjadi mati!
Sebab nabi-nabi palsu juga saling utus-mengutus, rasul-merasuli dengan Injil palsu mereka:
> 1Yoh. 4:1:  “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi
                        ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi
                        palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.”
Lihat saja, hasil kepergian anda itu telah menghasilkan bermilyar-milyar manusia yang me nyembah ke dewa Matahari! Apakah anda tidak merasa berdosa dengan itu semua?!
Selanjutnya, bukan cuma doktrinnya saja yang perlu benar, tapi teladan hidup anda juga per lu benar. Dan kalau anda itu perginya naik pesawat terbang, siapakah yang akan percaya kalau anda itu muridnya YESUS, sebab Alkitab menuliskan YESUS itu berjalan kaki?! Nggak Alkitabiah, ‘kan?! Anda bisa menjadi lebih ganas dari virus flu burung!
Bagaimana kalau seorang yang bisa membaca Firman bertanya: “Bukankah YESUS sudah menyuruhmu menjual seluruh hartamu, mengapa kamu tidak menurut?! Jangan-jangan ka mu itu nabinya Mamon?!”    -   Mengajari menurut Firman atau mengajari melawan Fir man?!
6.  PENDERITAAN YESUS DAN PAULUS
Anda menyebutkan dan memerincikan dengan penuh semangat akan penderitaan-penderitaan YESUS dan rasul Paulus. Tapi yang manakah yang disebut sebagai penderitaan anda? Apa kah anda hendak berkata: bahwa penderitaan mereka itu adalah kebodohan mereka sendiri, sehingga kalau orang yang cerdik seperti anda tidak perlu mengalami semuanya itu?!
7.  UTANG-PIUTANG DENGAN ALLAH
Kalau keselamatan yang YESUS berikan ke kita itu dikatakan sebagai hubungan utang-piutang, maka itu adalah utang-piutang, bukan lagi bentuk kasih karunia. Sebab kalau utang ada kewajibannya untuk membayar, dan ALLAH mempunyai hak untuk menagih hingga me nuntut. Apakah bukan suatu kesalahan konsep yang fatal terhadap konsep kasih atau ALLAH itu kasih?!
Bahwa segala macam bentuk konsekwensi Kristen itu bukanlah suatu persyaratan Kekristen an. Misalnya: tentang kemiskinan. Bahwa orang Kristen itu tidak harus miskin, tapi disiap kan untuk miskin. Bukan harus menderita, tetapi disiapkan mental untuk menderita. Bukan mesti dibenci orang, tapi disiapkan untuk dibenci orang. Bukannya harus menjual barang- barangnya, tapi disiapkan agar siap berbagi kasih.
Mengapa segala persiapan itu perlu? Karena dunia itu tidak mungkin bisa menerima kebenar an. Pasti akan menimbulkan reaksi penentangannya.
Sama seperti air. Kalau besi yang masuk, atau batu yang masuk, air masih bisa menerimanya. Lebih-lebih lagi kalau sirup, langsung membaur! Tapi bagaimana kalau kayu yang hendak  masuk? Pasti akan ditolaknya! Bagaimana kalau belerang yang masuk? Pasti air akan bergo lak keras. Seluruh air akan bekerja menghabisi belerang itu!
Bukankah Paulus menggambarkannya sebagai utang-piutang?
"Aku berhu tang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada
orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14)
Ini ‘kan bukan soal kasih karunia, tapi mungkin soal janji Paulus yang hendak mengunjungi mereka yang belum tergenapi, sehingga dia menyebutnya sebagai utang!
Tapi memberitakan Injil bukan masalah utang-piutang. Kita tidak akan ditagih oleh YESUS mengenai hal ini, tetapi kita akan ditanyai masalah kasih kita. Benarkah kita mempunyai ke serupaan dengan YESUS, dan tidak membuat BAPA merasa asing dengan kita?!
Kalau misalnya anda melakukan pelanggaran lalu-lintas dan dihentikan polisi, polisi tidak a-kan membahas masalah pelanggaran anda itu duluan, tetapi menanyai surat-surat anda lebih dulu. Untuk apa?! Untuk mengukur kadar kesalahan anda itu seberat mana?!
> Sudah punya SIM atau belum koq sampai melanggar?! Kayak orang yang belum dididik
    kelalulintasan saja! Jika belum, ya maklum aja!
> Sudah murid YESUS belum sehingga sampai tidak memberitakan Injil? Bukan ditanyai:
    sudah memberitakan Injil atau belumnya!
8.  AKHIR KATA YANG PATUT DIPERTANYAKAN:
Bagaimanakah kita harus menyambut kedatangan Tuhan kembali? Bukankah dengan hati yang bersih dan tangan yang suci? Maka kita harus meniadakan kejahatan dari hati kita dan menghapus tipu daya dari tangan kita, menghapus segala ke najisan dan hati yang bercabang, supaya kita dapat menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali dengan tulus, dengan tekad yang bulat, dengan hati nurani yang bersih, dengan kehidupan yang suci. Alkitab hampir tidak menyinggung berdasar kan apakah kita dipakai oleh Tuhan, kecuali menjadi kudus.
Saya sangat berharap sekali sekiranya perkataan-perkataan yang seindah itu bukan sekedar slogan pengkhotbah saja. Maka saya patut bertanya: “Sudahkah tuan patut disebut penurut Firman dan mengasihi TUHAN?”
Jika, anda menjawab sudah: maukah anda berdiskusi dengan saya, baik secara Alkitab atau pun tanpa Alkitab?! I Wait You!

JAWABAN:  VISI GERAKAN REFORMED INJILI

Karena saya sudah menjawab file-file anda yang lain dengan secara gamblang dan hampir di katakan komplit, maka saya merasa belum perlu untuk menjawab file yang ini. Sebab tidak ada gunanya saya membahas tulisan yang sebaik dan seindah apapun, sebelum segala perso alan anda terhadap Injil anda selesaikan lebih dahulu! Atau, setidaknya ada pertanggung- jawabannya.




>>> JAWABAN SAYA ada pada:  K.2.  “JAWABAN DINAMIKA……..”


DINAMIKA IMAN YUNUS
Nats : Yunus 1:1-10; 3:1-3; 4:1-4, 9-11
Kitab Yunus merupakan satu cerita yang unik dari seluruh bagian cerita di dalam Per­jan­­jian Lama. Adapun tiga keunikan dari kitab ini:
1. Kitab Yunus menceritakan tentang seorang na­bi yang melarikan            diri oleh karena kecewa terhadap suatu hal yang ia pandang dan ang­gap se­ha­rusnya tidak terjadi (prodigal prophet).
2. Kitab Yunus tidak pernah selesai, sebab ka­lau kita li­hat dalam pasal 4, kitab tersebut ditutup dengan satu pembicaraan antara Tuhan de ngan Yunus yang ceritanya seakan mengambang begitu saja. 3. Dalam kitab tersebut tidak di­ka­ta­kan dengan je­­las, pada akhir nya Yunus bertobat atau tidak. Memang ada penafsir yang mengata kan, ketika Yunus di­telan ikan ia ber­tobat, tetapi kita justru me lihat bahwa hingga di pasal 4 dikatakan bahwa Yunus ma­sih marah ter­hadap Tuhan karena orang di Niniwe bertobat.
Kalau kita perhatikan, terdapat banyak hal yang menjadi kontra diksi dalam hidup Yunus, antara dirinya dengan apa yang menjadi panggilan pelayanannya, yang antara lain: per­­tama, kontradiksi an tara pengertian dengan pelaksanaan. Dalam ps. 1 kita melihat bah wa firman Tuhan datang kepada Yunus supaya ia bangun dan pergi ke Niniwe, kota yang besar dan ber­­seru terhadap mereka supaya berto bat, karena jikalau tidak Tuhan akan menunggangbalikkan ko­­ta ter sebut. Kalau akhirnya ia lari dari panggilan tersebut, itu bukan berarti bahwa ia tidak me­nger­ti panggilan tersebut karena ia ada lah nabi yang beberapa penafsir mengatakan sejaman de­ngan Hosea dan Amos yang mewarisi Elia dan Elisa (2 Raja 14:25). Jadi penga laman menaf­sir­kan pe­rin­tah Tuhan merupakan sesuatu yang sudah di alaminya sebelumnya. Tetapi kenyataan da­­lam ki­tab Yunus 1:1 jus tru sebaliknya, ia melarikan diri dan tidak mau melaksanakan fir man Tuhan ter­sebut.
Yang kedua, adanya ketidakcocokan antara nama Yunus yang terlihat sangat Alkitabi­ah dengan pribadi Yunus yang sebenarnya (nama Yu nus: burung merpati; Amitai: the true one). Di­­seluruh Alkitab, bu rung merpati selalu melambangkan hal yang positif, sebagai contoh : burung mer­­pati adalah burung yang dipakai oleh Nuh untuk menge tahui apakah air bah sudah surut; se­ba­gai lambang perdamaian; di pakai sebagai korban bakaran bagi orang yang tidak mam­­pu mem­be­li kambing/ domba; lambang Roh Kudus, dsb. Namun banyak hal yang di lakukan Yunus adalah hal yang ne­­­gatif. Yang ke­tiga, kontradiksi antara jabatan dengan pekerjaannya. Jabatan Yunus pa­da saat itu adalah nabi yang seharusnya mengetahui dengan jelas hati Allah dan apa yang di­in­ginkanNya. Seorang nabi adalah seorang yang mem punyai hati yang sama seperti hati Tuhan. Ke­tika Mu­sa turun dari gu­nung dan melihat banyak orang Israel membangun anak lembu emas la­lu me­na­­ri-nari serta mem­­per­sem­bahkan sesuatu kepada anak lembu emas tersebut, ma­ka ia sa­ngat ma­­­rah dan meng­hancurkan dua loh ba tu yang ia bawa. Hati Tuhan ada dalam hati­nya se­hing­ga apa yang Tuhan benci akan ia benci juga. Tetapi kita melihat bahwa di da lam Yunus ter­da­pat hal yang kon­tra­diksi sekali, hati Tuhan yang mencintai orang-orang Niniwe tidak ada pada Yunus se­hing­­­ga ia me­­mu­­tuskan lari. Bangsa Niniwe sudah terkenal sebagai bang­sa pen­­ja­jah yang me­nu­rut bebe­ra­pa ca­­tat­an buku-bu­ku tentang sejarah dika takan bahwa ketika me­re­ka ber­ha­sil me­nang­­kap dan me­nawan suatu bangsa, cara mereka memperlakukan tawanannya sa­­ngat ke­ji se­ka­li. Itu se­bab­nya bang­sa Israel pun menjadi satu bangsa yang berada di bawah ba­yang-ba­­yang bang­sa Niniwe dan Yunus tidak mau pergi kepa da bangsa itu. Mungkin Yunus ada­lah orang yang mau sungguh-sung guh cinta Tuhan tetapi khusus untuk Niniwe, ia sulit me­nger­ti me­ngapa ada bang­sa semacam itu.
Yang keempat, kontradiksi antara apa yang ia mengerti secara teo logis dengan tin­dak­an­nya. Yunus pergi ke arah yang berlawanan de ngan apa yang diperintahkan Tuhan dan Alkitab (ps 1:3) mencatat dua kali berturut-turut dikatakan bahwa Yunus pergi jauh dari ha dapan Tuhan. De­­ngan kata lain Yunus sungguh-sungguh telah mente kadkan hati pergi sejauh mungkin dari ha­dap­­an Tuhan, bahkan de ngan persiapan yang sungguh. Tuhan di da­lam kedaulatannya mengi­rim­­kan ombak dan gelombang yang besar, sehingga kapal mulai ter­om­bang-ambing dengan be­gi­tu hebat tetapi Yunus di dalam pelarian nya justru turun ke bagian paling bawah untuk tidur de­­ngan nye nyak. Dan yang membuat kita heran, Yunus tidak menangkap dengan jelas sig­nifi­kan­si da­­ri apa yang ia alami saat itu. Justru para pelaut yang bersama-sama de­ngannya me­rasakan ada­­­nya ke­jadian alam yang tidak biasa dan mereka berusaha berseru kepada allah me­reka ma­sing-ma­sing, bahkan nahkoda kapal yang membangunkan menyuruhnya untuk ber­doa, dan me­re­ka mengetahui bahwa Yunus­lah sumber masalah ter­sebut (Yun 1:10). Sungguh iro­nis kalau Yunus ti­dak mem­punyai cinta sama sekali terhadap 120 ri­bu orang di Ni­ni­we padahal para pelaut yang tidak mengenal Allah mem­­pu­nyai cinta yang begitu be sar untuk Yunus dan me­re­ka be­gitu ru­pa berupaya baginya.
Wa­lau­pun dalam ps. 3 dikatakan, “Firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kali­nya un­tuk pergi ke Niniwe,” namun disitu tidak ada ca tatan tentang pertobatan Yunus. Itulah kon­­flik pe­­­­nger­tian teologi dan tindakannya. Kalau kita perhatikan, para pelaut sibuk untuk me­nge­ta­­­hui apa dosa yang mereka perbuat se­hing­ga pe­ra­hu tersebut diterjang badai yang sangat he­bat, lalu se­­­­telah Yunus di lempar ke laut dan suasana berubah tenang maka mereka men­jadi ya­kin bah­wa Allah Yunuslah yang benar sehingga mereka menyembah Tuhan. Tetapi Yunus jus­­tru tidak mem­­pu­­nyai niatan tersebut, ia sangat pa sif dan mempertahankan bahwa ia yang me­nang. Akhirnya Tuhan mu­lai meng­ajar Yunus melalui se­­buah pohon jarak yang tum­buh dalam satu malam, na­mun keesokan ha­ri­nya la­­yu. Tuhan ber­ka­­ta, “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuk­nya sedikitpun eng­kau tidak ber jerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, …, bagaimana ti­dak Aku akan sa­yang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpen duduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”
Selanjutnya, terdapat beberapa prinsip yang dapat kita pelajari dari kisah Yunus: 1). Allah sangat konsern terhadap apa yang kita lakukan ketika kita mendengar perintah Tuhan dan mu­lai menanggap inya secara positif. Melakukan perintah Tuhan merupakan the highest thing (se­suatu yang sangat tinggi nilainya), yang menem patkan manusia menjadi manusia. Di dalam Kitab Kejadian dikata kan, Allah memerintahkan supaya manusia me­menuhi isi bumi dan me nahklukkan semuanya. Dan setelah semuanya selesai, maka Allah me­nutupnya dengan mengatakan bahwa sung­guh semua itu amat baik ada nya. Dengan kata lain ke­tika Adam dan Hawa mendengar pe­rin­­tah ter sebut, mereka taat melakukan berdasarkan apa yang Tuhan mau dan semua tatanan alam semesta berjalan sesuai dengan perintah Tuhan di dalam keteraturan yang ada. Ma­nusia mem­­­­­punyai nilai di hadapan Tuhan pada saat ia mau tunduk di hadapan Tuhan. Allah mem­be­ri­kan perintah kepada manusia semata-mata adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. Yunus me­no­­­lak karena ia tidak mau Allah mengubah ko ta Niniwe. Seringkali kita merasa bahwa perintah Allah itu begitu berat karena kita tidak mau memberikan kesempatan bagi iman kita yang sejati un­­­tuk berkembang (1 Yoh 5:3-5). Iman yang sejati, yg berpaut pada pegangan yang sejati akan me­­lihat perintah Allah itu ti­dak berat. Kalau mau jujur, apa yang dapat kita harapkan dengan ha­nya meng­andalkan firman di hari ming­gu (kebaktian) dalam gereja dan saat teduh kita setiap hari­nya? Apakah dengan demikian kita akan mampu mengatasi semua pergumulan kita dalam kehi­dup­­an di du nia? Ini merupakan tan­tang­an kita masing-masing, karena sesung guhnya kita lebih mem­­­buka pin­tu terlalu lebar bagi semua penga jaran dan sistem dunia yang mem­pe­nga­ruhi otak dan pikiran ki­ta da ripada filsafat Alkitab!
2). Orang yang lari dari Tuhan tidak akan pernah sampai ke tujuan wa­lau mem­ba­yar be­­­rapapun, namun orang yang taat pada kehendakNya akan sampai pada tu­­ju­an dan Tuhan yang membayarnya. Itulah sebab nya orang yang menolak terus perintah Tuhan wa­­­laupun ia ber­u­sa­­ha untuk menenangkan hati, ia tetap tidak akan sampai ke tujuan kare na ia akan ru­gi besar. Yunus berusaha lari sejauh-jauhnya dari ha dapan Tuhan oleh ka­­­­rena su­dah ada tumpukan ke­ke­ce­waan yang amat sangat, dengan kata lain ia ingin me­nga­­ta­kan bahwa ia menolak me layani Tuhan khusus untuk pergi Niniwe. Kita tidak akan mung­kin lari dari ha­dapan Tuhan, sekalipun se­per­ti Yunus yang bersembunyi di tempat pa­ling ba­wah, lari dari ma­salah dengan tidur nye­nyak. Ter­­tidur dengan nyenyak dalam ba­ha­sa tek­nis Ibrani meng­gu­na­kan bentuk nifal (tidur se­perti orang mati). Mungkin kita ingin me­nutupi kegelisahan, ke­ke­ce­waan ter­ha­dap orang tertentu, ki­ta me­­­­­ra­sa capek dan ti­dak mau per­caya Tuhan se­hing­ga ak­hir­nya kita ingin pergi jauh me­ning­gal­kan Tuhan, tetapi ingatlah bahwa Tuhan da­lam ke­dau­­lat­anNya mung­kin akan mengirim ikan-ikan yang besar untuk mencari saudara.
3). Pelayanan itu adalah anugerah yang Tuhan beri. Ketika Tuhan mengutus Yunus per­­­­­­gi ke Niniwe dan ia menolaknya, maka pada saat itu Yunus telah kehilangan bagaimana me­nger­­ti ca­ra Tuhan bekerja di dalam dan melalui dia. Bagaimana melihat ada orang-orang ber tobat di da­lam pelayanannya. Tuhan tidak pernah salah memilih, wa laupun Yunus lari dari hadapanNya na­­­­mun Yunus adalah salah satu nabi yang penting yang Tuhan pernah pakai untuk me­nya­ta­kan be­­­­­­tapa mulia dan agungnya Tuhan itu. Disini paling tidak melalui cerita Yunus orang me­nger­­ti si­fat-sifat Tuhan di dalam point: betapa Tu han panjang sabar, berlimpah kasih setia dan ti­dak se­la­ma-la­manya Ia mendendam dan membenci, dan itulah hal terindah yang di­si­­sa­kan da­ri ce­rita nabi Yunus untuk kita pelajari, yang menjadi warisan dalam PB. Da­lam PB, Tuhan Yesus me­­min­jam cerita tentang nabi Yu nus untuk menceritakan bahwa Ia akan ber­ada di da­lam pe­rut bu­­mi tiga ha­ri tiga malam (Mat 12:40). Walaupun ia adalah nabi yang me­ la­ri­kan diri na­mun ki­sah­nya ada da­­lam satu rangkaian rencana kese lamatan Allah untuk ma­nu­sia. Apa yang Yesus alami se­­lama tiga ha ri tiga malam dalam perut bumi sudah digambarkan da­­­lam PL. Tetapi orang yang tidak per­ca­ya mem­berikan satu argumen bahwa Yesus se­sungguhnya tidak per­nah mati di dalam perut bu­­­mi ka­rena Yunus pun tidak mati. Kita ha­rus ta­hu bahwa ayat ini ti­dak ber­­­bi­ca­ra menge nai kua­li­tas ke­matian. Jikalau Yesus benar-benar bang­kit ma­ka Ia ha­rus be­­nar-be­nar mati dan ayat terse­but jus­­tru berbicara menge nai gambaran apa yang akan Yesus alami yang su­dah di­ka­ta­kan da­lam PL (Tipologi).
Suatu kali saya membaca tulisan Pdt. Yohan C. yang mengatakan, “Dulu ke­­tika masuk Se­­­mi­­­na­ri, waktu diberi kesempatan ber­saksi, sa ya ber­usaha membuktikan pa­da banyak orang bah­­­­wa saya sudah mengor bankan masa depan dan banyak hal untuk mau ta­at kepada pang­­gil­an Tuhan dan menjadi hambaNya, namun se­iring dengan pengalaman pela yanan, saya baru sa­dar bah­wa itu semua terbalik. Se­be­nar­nya bukan saya yang berkorban ba­nyak untuk Tuhan teta­pi jus­­tru Tuhan yang meresikokan diri le­bih besar dengan mem­per­cayakan pe­layanan yang mulia ke­­pada kita.” Se­ga­la sesuatu dapat Tuhan lakukan sendiri de­ ngan sem­pur­na tanpa bantuan kita, na­mun Tuhan ajak kita bersa ma-sama untuk melakukannya. Itu sebab se­ti­ap pelayanan yang ada bi ar­lah kita me­lihat sebagai sebuah anugerah, apapun itu, ki­ta me­laku­kan­nya seperti untuk Tuhan dan bukan un­tuk manusia ataupun ge reja sehingga engkau ti­dak akan per­nah kecewa. Ma­­­rilah kita be­nar-benar men­dengar dan melakukan apa yang Tuhan mau, maka Tuhan akan mem­berkati pe­layanan kita, dan orang lain­pun akan men­­dapat­kan berkat dari pelayanan yang ada. Saya ber­ha­rap cerita Yunus ini men­ja­di berkat ba­gi kita ma­sing-masing. Amin.?


   Gerakan Reformed Injili dalam sejarah

Reformasi yang terjadi pada abad ke- 16 merupakan gerakan yang unik dan tidak tertandingi karena motivasi reformasi adalah kembali kepada Kitab Suci dan mengaku segala sesuatu berdasarkan anugerah, serta hanya mela lui iman dan bukan jasa manusia kaum pilihan dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan di dalam dunia ini.
Gereja dipanggil bukan hanya untuk mengabarkan lnjil dan mengabarkan ke benaran, gereja juga dipanggil untuk melaksanakan mandat-budaya melalui pencerahan dari Firman Tuhan untuk mencerahkan dunia ini, dengan prin sip-prinsip Firman Tuhan ke dalam segala aspek kebudayaan.
Dalam segala segi kehidupan manusia, khususnya dalam Calvinisme, seja rah telah membuktikan kontribusinya dari hidup pribadi sampai lfidup ma syarakat dan pendidikan, bahkan menjadi perintis demokrasi di seluruh dunia.
Pada saat pengaruh Liberalisme makin meluas dan menggerogoti iman Kris ten dalam abad ke-19, teolog-teolog Reformed dengan gigih berdiri di front (garis depan yang paling depan untuk melawan ajaran-ajaran yang tidak setia kepada Kitab Suci.
Sehingga baik di Eropa maupun di Amerika, buku-buku yang paling berbo bot memerangi ajaran-ajaran yang liberal kebanyakan adalah hasil dari tangan-tangan teolog Reformed. Semangat teologi Reformed inilah yang te lah memelihara Kekristenan dari segala penyelewengan dan perselingkuhan gereja sebagai mempelai perempuan Kristus yang tidak setia kepada Tu han.
Tokoh-tokoh seperti Abraham Kuyper, Herman Bavinck, Hendrik Kramer di Belanda dan Charles Hodge, Archibald Hodge, B.B. Warfield. Gresham Machen, Cornelius Van Til, John Murray, dsb. telah membuktikan semangat mereka yang tanpa berkompromi yang diturunkan dari Johannes Calvin.
Penemuan common grace (anugerah umum) dan keunikan pengertian wahyu umum telah menjadi keunggulan dan ciri khas Reformed Injili dalam mena ngani masalah-masalah kebudayaan serta memberi pencerahan dan bimbingan kepada segala penemuan ilmiah yang paling modem, juga perubahan arus pi kiran sampai pada zaman New Age dan Postmodern.
Tidak ada seorang pun bisa mengabaikan apa yang telah dikerjakan oleh teologi Reformed sepanjang sejarah. Teologi Reformed mempakan salah sa tu teologi yang paling bertahan uji dan paling unggul untuk memimpin orang Kristen melalui peperangan iman dan memberi petunjuk untuk hari depan umat manusia.

Pelayanan yang Mempermuliakan Tuhan
Nats : Yohanes 13: 31-35

Yoh 13:31-16:33 seringkali diungkapkan di mimbar sebagai the Exclusive Teaching of Christ dan ditutup dengan the Exclusive Prayer of Christ (Yoh 17). Khotbah kali ini akan membahas bagian awal pengajaran tersebut. Yoh 13:31 dimulai dengan “Sesudah Yudas pergi” sebagai turning point (titik balik). Titik putar semacam itu seharusnya diperhatikan karena terdapat perubahan essensial, khususnya dalam pembahasan Yohanes dan Paulus yang sangat mene kankan aspek Teologis. Peristiwa dalam Yoh 13:21-35 sangat unik karena tak terbahas oleh Matius, Markus dan Lukas. Padahal peris tiwa tersebut bukan sekedar kronologis sejarah tetapi mengandung aspek Teologis yang sangat mendalam.
Ketika sedang mengadakan perjamuan, Tuhan Yesus dengan sangat ‘terharu’ menyatakan fakta yang segera terjadi (Yoh 13:21). Sebenar nya, istilah ‘terharu’ akan lebih tepat jika diganti de ngan ‘disturbed’ (terganggu dalam roh). Artinya, ada sesuatu yang membe bani hingga membuatNya sangat susah dan tak tenang. Maka Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara ka mu akan menyerahkan Aku” (Yoh 13:21). Tuhan memiliki 12 murid ter dekat (the closest ring) yang selalu bersamaNya dan mendengarkan ajaranNya yang mungkin belum dimengerti oleh jemaat pada umumnya. Tapi, justru satu di antaranya, yaitu Yudas Iskariot, bukan murid sejati melainkan pengkhianat karena tega menjual Gurunya pada orang Farisi seharga 30 keping perak. Padahal ia adalah orang kepercayaanNya hingga kas diserahkan padanya. Namun ia malah mempermainkan, memanipulasi dan menyalahgunakannya.
Lalu Yoh 13:24 mencatat, “Kepada murid itu (Yohanes) Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!” Yohanes adalah murid yang sangat dikasihi oleh Tuhan Yesus. Maka ia bertanya, “Tuhan, siapakah itu?” (Yoh 13:25). Kemudian Yoh 13: 26-27 mencatat, “Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Akuakan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil  roti, mencelupkannya dan memberikannya kepa da Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Dengan demikian, Yu das adalah pengkhianat sejati dengan kesombongan hati dan ego yang membuatnya tak mau bertobat, tunduk dan mengaku dosa di hadapan Tuhan. Maka ia tidak berhak mendengarkan pengajaran Kristus ter tinggi dalam Yoh 13:31 dan seterusnya yang sulit diterima oleh akal manusia berdosa, kecuali ia bersedia kembali kepadaNya, ber ubah total dan mulai memandang segala sesuatu dalam sudut pandang Allah.  
Yudas berbeda dengan Petrus. Yoh 13:36-38 menceritakan bagaimana Petrus berusaha untuk setia kepada Tuhan, “Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?”  Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku.” Kata Petrus kepadaNya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau seka rang? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagiKu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Itulah per ingatanNya pada Petrus. Dan ketika menjadi kenyataan, Petrus sung guh menyesal dan langsung bertobat.
Kali ini akan dibahas pengajaran Kristus dimana essensi keberadaan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus diungkapkan. Selain itu, juga termasuk ajaran tentang prinsip hidup Kristen, kesela matan kekal dan panggilan pelayanan. Yoh 13:31 dan seterusnya ber bicara tentang bagaimana Tuhan mengarahkan Diri pada keselamatan kekal. Kemudian da­lam Yoh 14 Ia mulai membicarakan tentang Surga dan ayat yang paling sering dibahas adalah Yoh 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Selain itu, juga dibahas bagaimana Roh Kudus datang dan berkarya dalam kehidupan manusia. Selanjutnya, Yoh 15 membahas Union with Christ (dipersatukan de ngan Kristus) dan hubungan antara Allah, Kristus dan manusia. Sela in itu, juga tentang bagaimana Ia memanggil umatNya untuk melayani serta menjadi sahabat dan kawan sekerjaNya. Dan bagian terakhir membicarakan tentang bagaimana anak Tuhan menghadapi kesulitan, penderitaan serta tantangan sehingga kelak berhasil mencapai titik kemenangan. Lalu Yoh 16 menjelaskan tugas dan peranan Roh Kudus. Setelah itu, Tuhan Yesus memberikan ajaran yang sangat solid pada perjamuan malam terakhir. Kemudian Ia berdoa bagi para muridNya sebelum disalibkan.
Tuhan Yesus tidak memperkenankan Yudas ikut dalam ring orang yang layak untuk mendengarkan ajaranNya dan didoakan. Dalam Yoh 17 ter dapat 2 statement yang menyatakan bahwa Ia tidak berdoa syafaat bagi semua orang melainkan hanya para murid dan umat pilihanNya yaitu orang percaya atau Kristen sejati. Inilah eksklusif.
Sesudah Yudas pergi, dalam 2 kalimat pertama Tuhan Yesus terdapat 1 kata yang berulangkali dicantumkan yaitu ‘dipermuliakan’ dan ‘mempermuliakan’ (glorify). Maka Yoh 13:31-32 menjadi centre point (inti) iman Kristen, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” Mendengar pernyataan ini, para murid langsung berpikir bahwa segera tiba saatnya bagi Tuhan Yesus untuk menjadi raja di Yerusalem dengan kekuasaan be sar. Tapi, pemikiran seperti ini dipatahkan oleh Kristus, “Hai, anak-anakKu, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, de mikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu” (Yoh 13: 33). Akibatnya, terjadilah confusion (kebingungan) dalam pemikiran para murid yang berbeda total dengan pandangan Kristus.
Sebenarnya, Yoh 13:31-32 berpusat hanya pada salib. Dengan kata lain, Kristus dipermuliakan dengan cara yang terhina. Inilah kon sep the Paradox of the Cross. Padahal menurut dunia, salib adalah penghukuman yang paling kejam dan menakutkan. Sedangkan orang yang disalibkan akan memiliki citra terendah. Justru, penyaliban Kris tus merupakan cara yang paling terbuka dan jelas untuk mempermu liakan Allah. Dengan membuat banyak mukjizat, Ia malah tak dipermu liakan. Itu disebabkan oleh sikap manusia berdosa yang tak pernah puas serta selalu menuntut dan memanipulasi Kristus demi kepen tingan sendiri. Mereka tak pernah memandang mukjizat sebagai kea gungan Kristus, Anak Allah yang berinkarnasi. Sebaliknya malah berpikir bahwa Tuhan Yesus sedang mengumpulkan pengikut. Padahal Ia tak pernah bermaksud seperti itu.
Yoh 13:31-32 mengingatkan pada Yoh 3 mengenai percakapan Kristus dengan Nikodemus,  “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di pa dang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14). Ketika disalibkan, kalimat pertama yang diucapkan oleh Tu han Yesus terkesan sangat agung, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mere ka perbuat” (Luk 23:34). Ungkapan tersebut ditujukan bagi mereka yang telah meludahi, menyalibkan dan membunuhNya. Ini menunjukkan betapa pentingnya menggumulkan keselamatan orang lain serta betapa serius dan relanya Tuhan meng ampuni mereka yang telah menyengsarakanNya. Perkataan manusia akan lebih agung ketika ia berada dalam situasi sulit. Kalau kalimat tersebut diucapkan dalam situasi biasa maka kuasanya tidaklah be sar. Padahal Luk 23:35 mencatat, “Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyela matkan diriNya sendiri.”  Ungkapan tersebut terlalu merendahkan dan menggambarkan betapa egoisnya manusia. Let Christ be glorified . Biarlah Kristus dipermuliakan. Semua orang ketika membaca Injil terutama penyaliban Kristus, harus mengakui bahwa Yesus memang terlalu agung dan mulia. Tak ada satu kalimat pun mampu mematahkan tindakan Kristus tersebut karena telah melampaui cara berpikir ma nusia.
Kristus dipermuliakan ketika disalibkan dimana Ia menyelesaikan seluruh tugas penebusan yang dibebankan Allah kepadaNya dan itulah saat bagiNya untuk kembali ke Kerajaan Bapa. Itulah titik final seluruh penggenapan pekerjaan Bapa. Pdt. Stephen Tong pernah meng ungkapkan bahwa jikalau Kristus pernah melakukan secuil dosa pun di sepanjang hidupNya maka tertutuplah kesempatanNya untuk kembali ke Surga. Seluruh nilai penyaliban tak lagi berarti dan hidupNya akan berakhir dengan kematian karena upah dosa adalah maut. Ketika Ia mampu menyelesaikan semua tugasNya hingga titik terakhir, itu lah puncak glorification. Sebenarnya, Tuhan mencanangkan peristiwa ini untuk Adam pertama namun ia telah gagal dalam ujiannya. Maka diperlukan Adam kedua yaitu Kristus yang akhirnya berhasil dalam segala macam ujian yang diperuntukkan bagiNya dan mengakhirinya dengan mengatakan, “Sudah selesai” (Yoh 19:30). Kalimat pendek tersebut merupakan penggenapan totalitas seluruh karyaNya dalam kemurnian pelayananNya.
Ketika Kristus telah mencapai kemuliaan, itulah titik balik keno sis yang disebutkan dalam Flp 2. Kenosis adalah pengosongan diri. Kristus yang adalah Allah semesta alam harus mengosongkan diri lalu turun ke dunia membawa beban besar yaitu menggenapkan peker jaan Bapa. Pencipta dan Pemilik alam semesta harus menjadi bayi yang tak mampu melakukan apapun karena terbatas ruang dan waktu. Selain itu, Ia juga harus menjadi hamba yang diperlakukan dengan sangat hina hingga kematianNya. Namun Flp 2:9-11 mengatakan, “Itu lah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepa daNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa!” Kesimpulannya, salib adalah the final point to glorification (titik akhir untuk menuju kemu liaan terbesar). Dengan kata lain, jalan kemuliaan harus melalui penderitaan, kesulitan dan kesusahan. Glorification by the suffering servant. Amin.


Mengapa Perlu Belajar
Teologi & Doktrin?
-- meskipun bukan pendeta atau pastor--

Majalah Pillar No.11/Juni/04 Singapore

Di arus zaman yang meninggalkan nilai-nilai kebenaran Firman, bahkan menindas dan melawan,hidup sebagai orang percaya tidaklah nikmat. Kita mengalami ben trokan, gesekan dengan nilai-nilai zaman sekarang ini. Tidaklah mudah menjadi ikan laut yang asin namun hidup di danau tawar.
PERTANYAAN DI ATAS muncul di benak saya seusai acara SPIK (Seminar Pembinaan Iman Kristen-red) 2004 lalu yang menegaskan dan mengajak orang percaya untuk hidup kembali ke Firman, kepada kebenaran. SPIK 2004 membawa suatu pertanyaan kepada saya: Perlukah kita juga perlu belajar Teologi dan doktrin yang biasa nya dihindari karena dianggap porsinya pendeta/mahasiswa seminari saja? Kalau perlu, sampai di mana kita harus belajar, bagaimana kita tahu bahwa kita sudah mengerti teologi?
Sebagai profesional Kristen di tempat kerja, terkadang kita mendapat pertanya an dari colleagues mengenai kekristenan,terutama setelah mereka tahu kita orang Kristen karena kita berdoa dulu sebelum lunch. Apakah kita merespon per tanyaan itu dengan baik dan bijak? Saat kita melakukan suatu pekerjaan dengan benar, apakah ada bedanya dengan mereka yang juga bisa melakukan tugas mereka, bahkan mungkin lebih baik dari kita? Sebagai mahasiswa Kristen, apakah kita ha nya berjuang memperoleh nilai setinggi-tingginya atau apakah dalam proses kita belajar Kristus juga dimuliakan? Sebagai orang tua, apakah kita mampu mendidik anak secara berbeda dari orang tua yang berorientasi pada ‘kesuksesan hidup’ dan materialisme (teologi sukses)?
Sebagai orang yang mengaku Kristen, siapa pun kita, kita semua perlu belajar dan menguasai teologi. Tanpa teologi yang benar (theo=Tuhan, logos=ilmu), kita tidak mengerti relasi antara profesi kita dengan keberadaan Tuhan. Tanpa teolo gi yang utuh, kita sulit membedakan yang benar dari yang salah, yang memulia kan Tuhan dan tidak. Tanpa teologi yang konsisten, tongkat estafet pengajaran dan pendidikan kristiani tidak dapat dilanjutkan ke tangan generasi penerus untuk setia pada rel pengertian Firman Tuhan yang sejati. Tanpa teologi yang berakar kokoh pada Alkitab, kita bisa terbawa arus dan kehilangan ‘rasa asin’ karena hidup di dalam air tawar.
Terakhir, bagaimana kita dapat melawan arus, bahkan menantang zaman, bila kita tidak menguasai teologi yang benar?

Bagaimana kita dapat berperang tanpa mengetahui bagaimana menggunakan senjata perang?

Apakah motivasi kita mempelajari ini semua dengan serius?

Paling tidak ada lima poin dalam menjawab pertanyaan: Mengapa kita perlu bela jar teologi/ doktrin meskipun cuma orang Kristen awam???

Jawaban ke-1
Doktrin memang bukan segalanya, tetapi tetap diperlukan. Untuk menghasilkan pembakarandiperlukan sejumlah zat kimia termasuk oksigen yang cukup. Di antara itu semua, oksigen itu bukanlah yang terpenting tetapi tanpa oksigen yang cu kup pembakaran tidak akan sempurna dan menghasilkan karbon monooksida (CO) yg amat beracun. Sedangkan dengan oksigen yang cukup pembakaran berlangsung sem purna dan zat yang dihasilkan adalah karbon dioksida alias CO2 yang diperlukan oleh tanaman untuk proses fotosintesis karbohidrat (Ref: Essential Truths of the Christian Faith: 100 Key Doctrines in Plain Language by RC Sproul dan si tus kimia Indonesia www.chem-is-try.org).
Demikian pula, doktrin dan teologi memang bukan yang terutama namun tetap per lu karena tanpa pengajaran yang benar pemahaman kita akan apa yang kita perca yai dalam Kristus dan kehidupan kekristenan kita secara keseluruhan bisa melen ceng dari kebenaran Firman Allah yang diinspirasi oleh Roh Kudus.
Jawaban ke-2
Karena aliran-aliran sesat seperti Mormon, Saksi Yehova, Unitarianism, Unifica tion Church (Dr Moon) dll saja sangat menekankan dan menyebarkan ajaran mereka dengan berani melalui media massa, mengapa kita orang Kristen dan mengerti pe mahaman Firman yang benar yang seharusnya ikut serta menegakkan kebenaran Fir man Tuhan malah tidak mementingkan dan melalaikan doktrin?
Jawaban ke-3
Dengan mempelajari doktrin, maka kita dapat mengerti teologi secara sistema tis, bukan sembarang pilih kitab, pilih perikop, dan pilih ayat. Ibarat orang pergi ke hutan belantara bertemu pohon duren, pohon cempedak, pohon nangka, po hon mangga, dsb bercampur baur menjadi satu. Bingung, karena di sana pohon, di sini pohon. Mau yang mana?
Dengan kita belajar teologi secara sistematis (Systematic Theology), maka kita menjadi lebih mengerti dan menangkap gambaran secara komprehensif alias ‘the big picture’ karena semua buah yang sejenis disatukan. Pohon duren bangkok, du ren petruk, duren mongol disatukan di suatu tempat. Pohon mangga harumanis, mangga dermayu, mangga mengkel juga dikumpulkan pada area yang sama.
Jawaban ke-4
Kita jadi bisa mempertanggungjawabkan iman kita di hadapan orang lain (both nonbelievers & believers) secara logis dan intelektual. Saya beberapa kali men dengar cerita dari teman yang sudah lama jadi Kristen bahwa dia sering menda pat pertanyaan dari kolega/kenalannya mengenai kekristenan dan dia tidak bisa menjawab dengan baik. Cuma bisa jawab:
“Hmm, ya gua sih tahunya begitu, ngak jelas juga ya. Yang penting elo beriman aja.”
Memang tidak salah tapi alangkah lebih baiknya kalau kita yang mengaku sebagai Kristen juga bisa memberikan dasar-dasar kekristenan tanpa berusaha menghindar dari pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya dan hanya menawarkan ‘solusi iman’ sebagai jalan keluar. In fact, dengan relajar teologi dan mendalami Fir man Tuhan kita juga dimampukan untuk memberitakan Injil dengan lebih efektif dan confident (meskipun tidak semua pendekatan PI melibatkan penguasaan teolo gi).
Jawaban ke-5
Kenapa kita harus belajar Firman Tuhan dengan baik dan mendalam adalah: Wong Tuhan Yesus sendiri yang adalah Anak Allah sewaktu di bumi juga belajar dan mendalami kitab suci kok. Masak kita yang cuma manusia biasa, begitu sombong nya tidak mau mempelajari Firman dengan sebaik-baiknya??? Tuhan Yesus juga belajar Firman dan rajin membaca buku dan kitab, mau buktinya? Lihat Matius
12:3 & 5, 19:4, 21:16, 21:42, 22:31, Markus 2:25, 12:10, 12:26, Lukas 6:3.
Kalau kita sungguh-sungguh mau belajar Firman Tuhan dan menangkap the message of the whole Bible dari Kejadian sampai Wahyu, maka kita tidak akan terjebak pada khotbah atau interpretasi Alkitab yang cuma comot ayat dari sana sini tapi tidak ada basisnya sama sekali.
Belajar teologi yang benar adalah karunia dan kesempatan bagi kita selama hi dup. Mereka yang lulusan S3 Teologi dengan predikat Summa Cum Laude pun masih perlu belajar karena kekayaan Firman Tuhan begitu melimpah dan masih dapat te rus digali selama kita masih bernapas. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, ka mu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenar an itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31b-32)

(Jerry Kurniawan dan Emil Jayaputra)

MOTIVASI MEMBERITAKAN INJIL
                       ===========================
                       Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong
 
Kita harus terlebih dahulu mengerti dengan jelas tentang istilah motivasi. Mo tivasi bukanlah tujuan, dan tujuan bukan motivasi. Motivasi adalah penyebab yang menghasilkan suatu tindakan, sedangkantujuan adalah hasil yang diharap kan dapat tercapai melalui tindakan itu. Seringkali kita sudah mencampuraduk
kan kedua istilah tersebut. Misalnya, orang yang percaya kepada Yesus mempero leh hidup yang kekal. Hidup yang kekal adalah istilah hasil dari percaya, bu
kan motivasi dari untuk percaya. Motivasinya adalah: karena kasih karunia 
Allah telah dicurahkan kepada kita, Kristus telah mati bagi kita dan telah me nebus kita supaya kita menjadi milik-Nya, maka terdorong oleh kasihNya itulah kita mau kembali kepadaNya. Itulah motivasi untuk percaya. Sedangkan masuk sur ga merupakan akibatnya atau hasilnya, bukan motivasinya.
Demikian pula motivasi dan tujuan pemberitaan Injil berbeda. Jika seseorang memiliki motivasi yang murni maka ia pasti memiliki jiwa yang lurus, baik anta ra Allah dan manusia, maupun antara langit dan bumi. Sebaliknya jika seseorang tak memiliki motivasi yang murni, betapapun banyaknya bakat dan talenta yang ia miliki, ia tidak akan dapat mencapai hasil yang positif menyeluruh. Motiva si memang sangat penting. Allah tidak akan menerima pelayanan yang bermotivasi
campuran, oleh karena itu kita harus meniadakan unsur-unsur campuran dalam mo tivasi pelayanan kita.
Di dalam dunia kekristenan, banyak orang berbakat yang tidak mencapai hasil pe layanan yang seharusnya dicapainya. Salah satu penyebab utama ialah motivasi yang tidak murni. Paulus berkata, "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus" (2Korintus 11:2). Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita mela yani. Motivasi yang paling dasar dan paling minimal ini haruslah kita pertahan kan.
Seorang yang bermotivasi murni tidak mudah mengalami depresi pada saat putus asa, tidak mudah berkompromi pada saat menghadapi musuh yang kuat, tidak mudah goyah pada saat menghadapi banyak godaan. Sebaliknya motivasi yang benar membe ri kekuatan yang besar pada saat  yang paling melelahkan, dan memberi keteguh an pada waktu penganiayaan menimpa, memberi suka cita pada waktu sengsara mene kan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita. Kalau begitu, apakah  sebenarnya motivasi yang murni dalam penginjilan?
1. KEHENDAK ALLAH
   -----------------
Kehendak Allah adalah unsur yang menentukan eksistensi dari segala sesuatu. Se lain Allah sendiri, tidak ada hal lain yang lebih besar dari kehendak-Nya. Apa kah kehendak Allah? Yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan di dalam hati Allah. Allah adalah Allah yang kekal,  yang melampaui sejarah, yang mencipta kan waktu dan ruang. Segala sesuatu yang telah direncanakan dan ditetapkan da lam hati Allah melampaui waktu dan ruang adalah hal-hal yang berhubung dengan
kekekalan. Kehendak Allah tidak perlu dirundingkan dengan manusia, terlaksana nyapun tidak perlu tergantung pada kerja sama manusia dengan-Nya. Dia adalah Allah yang melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri. Sebagaimana pe rintah Raja harus dilaksanakan, terlebih lagi kehendak Allah pasti Dia genapi.
Orang Tionghoa menyebut perintah Raja sebagai perintah atau kehendak kudus. Karena itu ketika utusan raja membawa perintah raja dan memasuki sebuah kota, begitu juga menyebut perintah kudus, maka berlututlah kepala daerah dan semua orang kepadanya. Bolehlah mereka berkata, "Perintah raja yang bagaimana? Dapat kah kita mendiskusikannya sebentar, supaya kita tahu apakah perintah itu dapat dilaksanakan atau tidak?" Tentu tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Yang a da hanya kewajiban untuk mematuhi, rakyat tidak diberi kesempatan untuk berdis kusi. Jika raja dunia yang salah berbuat demikian, lalu bagaimanakan sikap ki ta terhadap Allah yang tidak mungkin berbuat salah?
Saya tidak terlalu sering menggunakan istilah "kehendak", karena banyak orang Kristen yang ceroboh memakai istilah "kehendak Allah" atau "pimpinan Roh Ku dus". "Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melaku kan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yohanes 2:17). Sebab itu kita harus membedakan dengan tegas antara kehendak dan pimpinan.
Kehendak Allah berbeda dengan pimpinan Roh Kudus, namun keduanya mempunyai hu bungan. Pimpinan Roh Kudus akan membawa manusia memasuki kehendak Allah yang kekal; pimpinan adalah proses, sedangkan kehendak adalah ketetapan. Segala se suatu yang direncanakan Allah dalam kekekalan merupakan keputusan yang tidak dapat diubah, tetapi bagaimana mungkin manusia yang berdosa dapat masuk ke da lam kehendak Allah? Untuk itu perlu pimpinan Roh Kudus. Siapakah yang dapat di pimpin oleh Roh Kudus kecuali anak-anak Allah? (Roma 8:14) Roh bukan saja mem peranakkan kita, Ia juga memimpin kita yang diperanakkan-Nya masuk ke dalam ke hendak Allah untuk disempurnakanNya.
Karena memberitakan Injil adalah hal yang sudah Allah tetapkan dalam kekekalan dan dipercayakan kepada kita untuk melaksanakannya, maka orang-orang yang di predestinasikan oleh Allah akan menerima Injil dan menjadi anak-anak Allah. A pakah doktrin ini menghambat pemberitaan Injil? Tidak! Sebab predistinasi Allahlah yang menjamin kita berhasil dalam pemberitaan Injil. Jika kita sung guh-sungguh tahu bahwa penginjilan adalah menjalankan kehendak Allah, maka ki ta tidak terpengaruh oleh hasil kita. Bukankah Nuh sudah menjadi contoh bagi kita? Setelah 120 tahun memberitakan firman, yang menerima hanya keluarganya sendiri. Itu sebabnya saya anggap Nuh penginjil yang teragung sepanjang seja rah, karena dia memberitakan berdasarkan kehendak Allah, bukan terpengaruh oleh hasil pemberitaannya. Sekalipun demikian, faktanya pada saat kita memberi takan Injil tidak mungkin tanpa ada hasil.
2. PENGUTUSAN KRISTUS
   ---------------------
Setelah Tuhan Yesus menang atas kuasa maut, Dia lalu mengutus gereja-Nya untuk memberitakan Injil. Jadi kita memberitakan Injil karena Raja di atas segala ra ja dan Tuan di atas segala tuan telah mempercayakan tugas penginjilan kepada kita. Paulus berkata, "Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sen diri, ...pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepa daku" (1Korintus 9:17). Tuhan mempercayakan tugas itu pada diri kita, betapa mulia hal ini dan menakutkan! Siapakah yang telah menyerahkan tugas ini kepada kita? Pencipta semesta alam, Tuhan yang telah menyelamatkan saya, yang akan menghakimi saya bahkan menghakimi seluruh dunia! Tuhan yang begitu terhormat dan mulia  menyerahkan tugas itu kepada kita, maka kita pun patut memiliki ra sa tanggung jawab yang serius terhadapnya.
Gerakan penginjilan sepanjang sejarah merupakan kepatuhan anak-anak Tuhan kepa da pengutusan Kristus ini. Sejak saat rasul-rasul menerima Amanat Agung di bu kit Galilea sampai sekarang kita melihat dalil yang tidak pernah berubah, yai tu barang siapa mematuhi pengutusan ini, mereka menerima pertolongan Roh Ku dus. Mereka menikmati penyertaan Allah dan mereka menjadi rekan Allah untuk memberitakan Injil kepada umat manusia.
3. DORONGAN KASIH KRISTUS
   -------------------------
Paulus menyebutkan dengan jelas, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepa da kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Di sini terlihat bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supa ya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2Korintus 5:15).
Ketika kasih hadir dalam hidup seseorang, dia akan menemukan bahwa hidupnya di lingkungi, dipegang dan diliputi oleh kasih. Kasih telah menguasai kebebasan nya, juga telah menentukan arah langkahnya. Oleh sebab itu dirinya sendiri re la ia serahkan kepada Tuhan, dan segenap potensi yang ada pada dirinya ia se rahkan sepenuhnya. Dengan kasih Allah inilah beribu-ribu misionaris rela me ninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, dan menuju tempat yang jauh untuk
memberitakan Injil.
Pada tahun 1969 saya pertama kali melintasi benua Asia menuju Eropa. Pada saat melewati Turki, karena terdorong oleh rasa ingin tahu, saya melihat keadaan di bawah melalui jendela pesawat terbang. Di situ terbentang propinsi Galatia, Atalia dan daerah-daerah lain, yang pernah dijelajahi oleh Paulus. Baru saya tahu daerah itu begitu tandus, begitu luas, begitu kering. Di daerah padang belantara yang kering kerontang semacam ini, bisakah kita membayangkan bagai mana Paulus telah pergi dengan kaki sebagai kendaraannya untuk memberitakan Injil. Jika bukan kasih Kristus yang mendorongnya, mungkinkah Paulus rela ber korban seperti ini?
Dalam hati para rasul terdapat suatu tekad yang agung yaitu pergi, pergi! Pau lus pergi, Petrus pergi, Yohanes pergi, Thomas pergi. Pergi ke Afrika Utara, ke Arab, ke Eropa, ke India, ke Asia kecil. Baik di padang belantara, di hutan rimba mereka hanya tahu pergi, tanpa bertanya kemana mereka harus pergi, kapan mereka kembali, apakah dijamin dapat kembali. Asalkan bisa pergi, hati mereka sudah cukup puas. Bagi orang yang rela mati di tangan Tuhan, adakah tempat
yang tak dapat dikunjunginya? Manusia semacam ini semakin berat jatuhnya, sema kin besar aniaya yang dideritanya, justru mendesak dia untuk menyelinap ke da lam lengan Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan. Itulah sebabnya mereka rela pergi.
Di sinilah letak rahasia rohani: berapa besar kasih seseorang terhadap Tuhan tergantung sampai berapa dalam dia menyelami kasih dan pengorbanan Tuhan di bu kit Golgota. Bila seseorang sudah mengalami kasih itu dan menyelaminya dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya dia dapat mengasihi Tuhan dengan lebih men dalam.
Paulus mengalami pelbagai mara bahaya, baik yang berasal dari banjir, penya mun, saudara-saudara palsu, di darat, di laut, dari orang Yahudi dan bukan Ya hudi; dalam keadaan telanjang, dihina, sengsara, kedinginan, diadili dan dipu kul, mengalami penganiayaan dan penderitaan, tetapi dia tetap memberitakan In jil. Apakah sebabnya dia rela menanggung semua itu? Gilakah dia? Bodohkah dia?
Sama sekali tidak! sebaliknya, Paulus tergolong kaum intelektual agung pada za man itu. Sampai hari ini dia tetap termasuk salah seorang dari puluhan pemikir yang paling besar pengaruhnya terhadap umat manusia dalam sejarah. Tokoh yang demikian besar, ternyata telah melalui suatu kehidupan yang amat sangat mende rita -- dia dipukuli, dicaci-maki, dan dianiaya. Apakah sebabnya dia mau men derita penganiayaan dunia yang sementara ini? Paulus sendiri pasti merasa he ran, sehingga dia menjawab, "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami ...." (2Korintus 5:14; dalam terjemahan lain: menggerakkan dan mendorong). Sebagaima na seorang ibu yang melahirkantidak lagi bisa tahan ketika saatnya sudah tiba, demikian juga orang yang didorong oleh kasih Tuhan tak mungkin menahan diri untuk memberitakan Injil. Itulah arti dari "menggerakkan dan mendorong."
4. PERASAAN BERHUTANG
   ---------------------
Orang Kristen adalah orang yang menuju kesempurnaan melalui perasaan berhu tang. Dalam Alkitab kita melihat hutang kemuliaan kita terhadap Allah, hutang kasih kita terhadap sesama, dan lebih dari itu kita masih mempunyai hutang ter hadap dunia, yaitu hutang Injil. Bila gereja hari ini tidak maju, itu adalah karena gereja tidak memiliki perasaan berhutang. Paulus berkata, "Aku berhu tang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14). Perasaan berhutang semacam inilah yang selalu mendesak Paulus memberitakan Injil kepada manusia dari lapisan mana saja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita juga me nuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang ini, atau merasa diri sudah kaya sehingga menuju kepada kemiskinan rohani kita? Bukankah kita yang seharusnya menginjili dunia, tidak peduli siapa mereka, baik kaum miskin, kaum kaya, orang intelektual, maupun rakyat jelata, yang sama-sama membutuhkan Injil? Bu kankah perasaan berhutang ini harus diikuti oleh pembayarannya, yakni melaksa nakan penginjilan? Apakah kita sudah memperlengkapi diri untuk mengisi kebutuh an setiap lapisan masyarakat dengan Injil secara relevan?
5. PENGHARAPAN MANUSIA
   ----------------------
Alkitab dengan jelas memberitakan bahwa, "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Matius 24:14). Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengharapkan kedatangan Tuhan kembali? Ada dua hal yang harus kita lakukan: yang pertama, menyucikan diri, dan yang kedua, menyelesaikan pekerja an-Nya melalui pemberitaan Injil.
Bagaimanakah kita harus menyambut kedatangan Tuhan kembali? Bukankah dengan hati yang bersih dan tangan yang suci? Maka kita harus meniadakan kejahatan dari hati kita dan menghapus tipu daya dari tangan kita, menghapus segala ke najisan dan hati yang bercabang, supaya kita dapat menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali dengan tulus, dengan tekad yang bulat, dengan hati nurani yang bersih, dengan kehidupan yang suci. Alkitab hampir tidak menyinggung berdasar kan apakah kita dipakai oleh Tuhan, kecuali menjadi kudus.
"Jika orang menyucikan dirinya dengan hal-hal yang jahat, ia akan menjadi pera bot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipa kai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia" (2Timotius2:21). Taat kepada Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, dengan itulah baru kita dapat mempunyai kehidupan yang kudus dan menghasilkan buah-buah Roh Kudus.
Hal yang kedua yaitu memberitakan Injil sampai Kristus datang kembali. Karena kedatangan Kristus yang kedua kali itu bukan dengan status Juruselamat, bukan lagi sebagai utusan perdamaian, melainkan sebagai Hakim yang terakhir, pengha kiman dari yang Maha Kuasa. Itu sebabnya kita harus memberitakan firman Tuhan dengan serius, menasehati orang agar bertobat kembali kepada Kristus.
 
   Sumber:
   Judul Buku   : Konsultasi Pelayanan
   Judul Artikel: Motivasi Memberitakan Injil
   Penulis      : Pdt. DR. Stephen Tong
   Penerbit     : LPMI dan Gereja-gereja Mitra
   Halaman      : 21 - 26
Visi Gerakan Reformed Injili
Oleh Pdt. Dr. Stephen Tong

Gerakan Reformed Injili telah memasuki dekade yang ketiga. Gerakan ini dimulai pada tahun 1984 dengan SPIK I. Mengapa SPIK menjadi perintis ge rakan ini? Bagaimana dengan tahap selanjutnya? Mengapa akhir-akhir ini kita mengadakan NREYC dan NREWC selama lima tahun berturut-turut? Apa kah sebabnya gerakan Reformed Injili? Menggabungkan Reformed dan Injili bukan merupakan sesuatu yang dianggap perlu oleh orang-orang yang menge nal kedua istilah ini, karena banyak gereja Reformed menganggap diri me reka telah Injili sejak awal dan orang-orang Injili menganggap mereka telah mengadopsi tradisi Protestan melalui reformasi. Jadi mengapa ha rus menggabungkan Reformed dengan Injili? Suatu kali saya pernah ber khotbah di Singapura untuk Global Consultation on Evangelism. Seorang pemimpin gereja Presbyterian dari Korea Selatan memperkenalkan saya de ngan berkata, ”Malam ini Firman Tuhan akan disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong dari Gereja Reformed Injili Indonesia. Saya tidak mengerti mengapa Reformed Injili. Reformed adalah Injili dan Injili semestinya juga Reformed. Sekarang saya persilahkan Dr. Tong untuk berbicara.” Kemudian saya mulai berkhotbah dan pada akhir khotbah, saya berkata, ”Ini adalah satu-satunya jalan bagi abad ke-21 yaitu gereja dibangkit kan kembali (revival). Banyak sekali gereja Injili yang kehilangan se mangat untuk menginjili dan telah kehilangan tulang punggung iman yang mula-mula. Teologi tanpa penginjilan adalah mati dan penginjilan tanpa teologi adalah lemah. Tidak ada jalan selain menggabungkan keduanya.” Pendeta dari Korea itu akhirnya berkata, ”Sekarang saya mengerti.”
Mengapa gereja Protestan menjadi mati? Kita melihat satu demi satu gere ja yang menurunkan tradisi secara organisasi dari reformasi memudar, ke hilangan api dan arah, dan akhirnya menjadi kocar-kacir dan disimpang siurkan oleh ajaran yang tidak bertanggung jawab. Semestinya hal ini membuat kita menangis dan berteriak di hadapan Allah, ”Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Tetapi kita tidak merasakan kesedihan ataupun beban yang membuat kita seharusnya menderita.
Banyak pemuda yang memiliki cara pandang asalkan dia bisa dipakai, su dah diangkat menjadi ketua pemuda atau semacamnya, sudah merasa puas. Apakah yang kamu lakukan telah sesuai dengan Firman Tuhan dan kehendak Allah? Ada tiga macam orang dalam gerakan Reformed Injiili: pertama, orang yang benar-benar mengerti visi; kedua, orang-orang yang sekedar mencari aktifitas; dan ketiga adalah orang-orang yang ikut-ikutan saja. Orang yang mengerti visi akan meletakkan segala keuntungan, angan-angan, dan cita-citanya untuk mengikut Tuhan dan berkata, ”Hidup mati berjalan dalam kehendak Allah.” Orang yang ingin beraktifitas saja ba gaikan orang yang tidak ada kegiatan yang penting, cukup puas dengan dilibatkan dalam berbagai kegiatan dan dapat menyatakan kebolehannya. Orang yang ikut-ikutan adalah orang yang sekedar mengikuti arus yang ba ru, apabila ada arus yang lain maka dia akan mengikuti arus itu karena hanya sekedar ikut-ikutan.
Saya tahu siapa diri saya dan saya tahu mengapa saya mendirikan gerakan Reformed Injili, mengapa Indonesia memerlukan gerakan Reformed Injili, siapa saja yang mampu bekerja di dalam gerakan Reformed Injili, dan apa bahaya gerakan Reformed Injili. Kita sedang berperang dan hal ini telah menjadi prinsip saya sejak 48,5 tahun pelayanan saya. Setiap kali naik mimbar, melayani, menginjili, berpidato, berceramah ataupun bertanya ja wab, saya tahu bahwa saya sedang berperang. Konsep ini jarang ada di da lam pikiran pendeta yang tidak mau maju, atau dengan kata lain yang ha nya berprinsip bahwa saya sedang menjalankan rutinitas pekerjaan yang seharusnya saya lakukan sesuai dengan tradisi gereja. Jadi di pikiran nya tidak ada konsep dan mentalitas bahwa dia sedang berada dalam medan laga peperangan rohani.
Mengapa sejak dari permulaan saya dapat berpikir bahwa saya sedang ber perang? Karena saya sedang merebut seseorang keluar dari tangan Iblis agar orang itu berada di dalam tangan Tuhan. Hal ini pasti menimbulkan pemberontakan dari setan yang luar biasa. Siapakah saya? Mungkinkah sa ya mengalahkan setan? Tidak mungkin, setan telah berpengalaman beribu-ribu tahun menipu manusia. Orang yang berada di dalam tangan setan te lah merasakan keamanan dan kenikmatan melalui rayuannya.
Lalu, alasan apa yang cukup bagi saya untuk merebut mereka keluar? Apa bila mereka telah direbut keluar,apakah mereka akan merasa telah menda patkan jaminan yang lebih baik dengan mengikuti apa yang telah saya ta warkan? Tidak. Jangan lupa bagaimana Musa berjuang mati-matian sampai umat Israel dapat keluar dari tanah Mesir, setelah dengan terpaksa di lepaskan oleh Firaun. Sewaktu mereka tiba di padang gurun, mereka tidak merayakannya ataupun mengucap syukur kepada Tuhan karena mereka telah dilepaskan dari perbudakan, tetapi mereka berkeluh kesah dan mengenang kenikmatan dan kecukupan hidup mereka sebagai budak, serta mempersalah kan Musa karena telah membawa mereka ke padang gurun. Mereka tidak pu as, bersungut-sungut, dan marah kepada Tuhan. Itulah yang dialami Musa sebagai orang yang menjalankan visi Tuhan. Sejak awal saya tahu bahwa saat menjalankan gerakan ini, saya akan menjadi salah satu orang yang paling kesepian di dunia. Bahkan orang-orang yang sangat dekat dengan saya tidak mudah mengerti apa yang saya kerjakan, kecuali apabila pada suatu hari mereka mengerti bahwa itu merupakan visi dari Tuhan dan bu kan ambisi manusia.
Setiap orang pasti mempunyai cita-cita untuk melakukan sesuatu yang be sar, kemudian meminta kepada Tuhan untuk melebarkan tendanya dan member katinya dengan memakai doa Yabez. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berdoa seperti demikian, ”... Dipermuliakanlah nama-Mu, datanglah kera jaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. ... karena Eng kaulah yang mempunyai kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”
Di dalam Doa Bapa Kami tidak terdapat ambisi manusia, hanya meminta ke pada Tuhan untuk memberikan makanan secukupnya pada hari ini yaitu kebu tuhan dasar dari tubuh jasmani. Meminta kepada Tuhan untuk memenuhi ke butuhan, tetapi tidak ada penggenapan ambisi, aspirasi, dan rencana di ri yang besar. Yang menjadi pusat pemintaan adalah nama, kerajaan, ke hendak, kuasa, dan kemuliaan Allah nyata di bumi. Soli Deo Gloria.
Orang Israel tidak mengetahui hal itu, mereka hanya mengetahui hidup berkecukupan dan nyaman, walaupun dalam status sebagai budak. Zaman se karang, banyak orang bersedia menjadi budak bagi orang kaya asalkan men dapat gaji yang besar, tetapi tidak mau melayani Tuhan. Siapakah yang engkau layani? Siapakah tuanmu? Siapakah pemilikmu dan siapakah yang berhak memakai bakat dan talenta yang telah Tuhan berikan kepadamu? Ka lau menjadi pendeta hanya mendapatkan gaji yang kecil, tetapi kalau be kerja di bank bisa mendapatkan gaji yang besar. Orang yang mengerti vi si akan meninggalkan keuntungan, ambisi, dan kemauan diri untuk  menu ruti kehendak Allah.
Saya tetap tidak puas apabila yang datang menghadiri kebaktian yang sa ya pimpin mencapai 100.000 orang, karena tidak ada sedikit pun ambisi untuk menjadi pendeta yang besar dengan menarik jumlah massa yang be sar, kemudian bermegah diri dan sombong. Masih sangat banyak orang yang belum mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Walaupun 1 juta orang meng hadiri kebaktian yang saya pimpin, saya tetap merasa tidak puas karena masih begitu banyak orang yang belum kembali kepada Tuhan. Datanglah ke rajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.
Mengapa menggabungkan gerakan Reformed dan Injili? Manusiamemerlukan tu lang punggung untuk dapat berdiri tegak. Tanpa tulang punggung tidak akan ada struktur postur tubuh. Demikian juga halnya dengan gereja. Ge reja tidak mungkin tanpa teologia dan tidak boleh tanpa keyakinan serta tidak berpendirian, karena gereja berdiri di tengah angin topan yang me nakutkan. Tetapi jika hanya memiliki kerangka yang dapat berdiri seko koh beton saja tidaklah cukup. Akan sangat menyeramkan jika pacar kita datang menemui kita hanya dalam bentuk kerangkanya saja. Apakah kita mau? Tidakkah kita takut? Struktur yang di dalam adalah penting untuk
membuat kita dapat berdiri tegak, berkonstruksi dan menopang kita.
Itulah teologia. Teologia membentuk kepercayaan yang bertanggung jawab, keyakinan yang mandiri,  memberikan kepastian yang tidak berkompromi, dan membuat kita dapat berdiri tegak di tengah angin topan kesimpang siuran ajaran yang tidak bertanggung jawab. Teologia Reformed memberi kan tulang punggung bagi iman kita, menjadikan sistematis ajaran dalam Alkitab, dan membuat kita berdiri kokoh dalam menghadapi segala macam masalah. Tanpa teologia Reformed, gereja tidak akan mungkin kuat.Banyak gereja pada saat-saat tertentu berkompromi, tertidur, terantuk, dan mengikut arus karena tidak dapat menjawab tantangan-tantangan dunia, tantangan-tantangan yang muncul dari pemikir-pemikir yang sangat mu takhir dan tajam di bidang filsafat. Apakah pemimpin-pemimpin Kristen telah membaca setiap buku filsafat yang paling canggih dan paling mela wan kekristenan? Apabila telah membacanya, apakah memiliki jawabannya? Terkadang pemimpin gereja adalah orangorang yang paling tidak mengerti cara Tuhan bekerja. Mereka hanya menghafalkan ayatayat Alkitab dan mem bacanya seperti orang Farisi, tetapi tidak mengerti bagaimana menerap kan ayat-ayat itu.
Saat membaca buku Musa, kita dapat melihat bahwa dia mengerti. Setidak nya ada dua belas macam batu yang boleh dipasang pada dada para imam be sar dan kedua belas macam batu itu adalah batu yang paling mahal. Musa juga mengetahui dan dapat membedakan da ging binatang apa yang boleh di makan dan yang tidak, yang mana bila dimakan dagingnya akan membuat ku lit bersih dan yang mana dapat mengotori darah ma nusia. Saat membaca ki tab Ayub, kita juga melihat bahwa dia mengetahui berba gai macam bintang di langit. Meskipun hal-hal tersebut merupakan wahyu dari Tuhan, namun Tuhan mewahyukannya kepada orang-orang yang mempunyai pikiran yang se hat, bukan kepada orang yang berpi kiran kabur. Bila kita membaca kitab Da niel dan Yesaya, kita dapat melihat bah wa mereka adalah orang-orang yang sa ngat terpelajar. Namun sekarang ini, ba nyak pemimpin gereja yang hanya mengha falkan ayat-ayat yang mereka baca seca ra fragmental, yang apabila dikhotbah kan akan mampu menghasilkan banyak uang dari persem bahan dan menyenangkan jema atnya. Mandat budaya, yaitu bagaimana mempengaruhi intelektualitas dan kemampuan untuk menggugah orang pen ting, sudah tidak ada. Yang ada hanyalah usaha menipu orang-orang dan mengum pulkan banyak orang agar gereja kelihatan besar.  Kita bersyukur bahwa selama 450 tahun teologia Reformed telah menjadi mercusuar untuk mengarahkan gereja, manantang filsafat-filsafat yang pa ling kejam me nentang kekristenan, dan mempertahankan kekristenan agar tidak jatuh ke dalam arus apapun. Ini adalah tantangan pertama, tan tangan dari filsuf -filsuf intelek dan para pemikir-pemikir. Pada waktu mereka memikirkan pertanyaanpertanyaan yang tajam yang mencoba meroboh kan fondasi kita, dengan harapan bahwa bila fondasi telah dihancurkan maka dengan mudah seluruh ide akan dapat dirobohkan, pada saat itulah mereka akan menge tahui bahwa fondasi kekristenan bukanlah terbuat dari kayu, tetapi dari beton. Fondasi yang begitu kuat, yang melebihi kekuat an alat yang mere ka pakai untuk merobohkannya. Teologia Reformed telah menghasilkan orang-orang seperti John Calvin.Bahkan 500 tahun setelah bukunya ditu lis, kita masih belum dapat menemukan kalimat-kalimat yang bertentangan satu sama lain. Tulisannya begitu konsisten, kuat, dan menyatu dari ka limat pertama sampai kalimat terakhir. John Calvin adalah salah satu pemikir paling konsisten sepanjang sejarah kekristenan.
Tidak hanya pikiran dari luar yang menyerang, bidat juga menyerang ke kristenan dari dalam. Banyak orang tidak menyadari bahwa terkadang ke hancuran bukan hanya diakibatkan oleh musuh dari luar, tetapi dari ajar an dalam kekristenan sendiri. Pada tahun 1920, Will Durant menulis sebu ah buku yang menjadi buku filsafat bestseller pertama sepanjang sejarah yaitu ‘The Story of Philosophy’. Di dalam bukunya, Will Durant mengata kan bahwa kerajaan Romawi tidak dirobohkan oleh kekuatan militer dari luar, tetapi oleh sistemdari dalam yang keropos karena ketidakdisiplin an.  Kekr i s t enan mungki n dirobohkan dari luar, tetapi lebih sering dirobohkan dari dalam. Diri kita adalah musuh yang paling  besar. Dan yang paling menakutkan adalah diri kitalah yang merobohkan diri kita sendiri. Bidat-bidat, ajaran-ajaran yang salah, dan penyimpangan makna sesungguhnya dari Alkitab merupakan hal-hal yang merobohkan kekristen an.
Siapa yang betul-betul mengerti kekuatan yang ada dalam diri kekristen an sehingga mempunyai kekuatan dalam diri sendiri dan tidak dirobohkan di dalam, itulah mereka yang sungguh-sungguh mengenal Firman Tuhan. Aga ma lain tidak berani seperti kekristenan. Agama lain berusaha menyimpan semacam mistik agar kepercayaan mereka terlindungi. The more you don’t understand, the more you believe. Itulah agama lain. Jadi kalau menga ji, apa yang dikajikan? Tidak tahu. Mengapa begitu? Ini Firman Tuhan, pokoknya kita percaya. Jadi mereka believe because they don’t understand. Tetapi agama Kristen seperti yang dikatakan sanctus augustinus, “I believe in order to understand, and I understand for more understanding, for more believing.” Ini menjadi dasar kekristenan, jadi Firman Tuhan dapat dikhotbahkan dengan sejelas mungkin, dipertang gungjawabkan dengan serasional mungkin, diberi pengertian sampai seinte lektual mungkin, tidak usah takut karena di sini mengandung konsistensi dan kekekalan dari Firman Tuhan sendiri. Firman Tuhan adalah sumber ke benaran. Firman Tuhan tidak takut diselidiki orang-orang pintar. Orang yang makin pintar, makin menyelidiki Firman Tuhan, makin takluk. Sema kin hebat pikiranmu, semakin engkau akan meyakini kebenaran yang lebih tinggi dan lebih hebat.

Waktu saya membaca tentang Nietzsche yang melawan Alkitab, saya membaca betapa dia salah mengerti tentang Kejadian 3. Dia adalah orang terpin tar dalam abad ke-19, mempunyai filsafat paling tinggi, dan paling me nyerang kekristenan. Waktu saya membaca tulisannya, saya baru mengerti kalau dia adalah seorang idiot yang intelek, orang pintar yang begitu tolol. Dia mengartikan bahwa Tuhan tidak mau manusia mengetahui akan pe ngetahuan, maka Tuhan melarang manusia makan dari pohon itu. Namun po hon itu bukanlah pohon pengetahuan, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Mengetahui baik dan jahat, baik tidak? Boleh ti dak? Apakah Allah mau manusia mengetahui baik dan jahat? Kenapa Dia me larang manusia untuk memakan buah itu? Allah bukan  mengatakan, “Aku me larang kamu memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat.” Kalau Allah tidak memperbolehkan manusia makan dari pohon yang mempunyai buah yang dapat membedakan baik dan jahat, kalau Allah tidak mau manusia menge tahui baik dan jahat, kenapa seluruh Kitab Suci penuh dengan ajaran apa itu baik dan jahat? Jadi Allah mau manusia tahu, tetapi tidak boleh ta hu sebelum mempunyai hidup dari Tuhan. Boleh tidak orang yang akan me nikah tahu tentang rahasia seks? Boleh tahu apa fungsi organ seks? Cara nya sexual activity? Boleh, kenapa tidak? Tetapi kalau belum waktunya tidak boleh. Kalau baru umur 13 tidak boleh tahu. Dan kalau saatnya ta hu, dia harus tahu dari sumber yang benar, bukan dari orang yang tidak menghargai hidup atau mempermainkan anak kecil.
Jadi Tuhan ingin manusia mengetahui the tree of knowledge of good and evil through the authority God himself, according to the time set by Him. Itulah yang manusia tidak mengerti. Jadi ahli filsafat yang mela wan kita, orang yang mengaku pendeta, sebelum mengerti Alkitab telah di pendetakan, lalu khotbahnya salah, tidak karuan, membuat roboh kekris tenan karena dalamnya keropos. Teologi Reformed telah berperan secara diam-diam selama 450 tahun membuktikan bahwa teologi ini dapat bertang gungjawab, sanggupmenantang semua tantangan dari luar, sanggup membatas i racun dan kerusakan dari dalam. Kira-kira tahun 1965, saat baru lulus dari sekolah teologi, saya memperhatikan perbedaan antara bukubuku Libe ral dan Reformed. Liberal menggunakan istilah-istilah yang dalam seka li, kelihatan akademis, tetapi keropos dan tidak ada imannya. Di lain pihak, buku Reformed mempunyai keyakinan penuh dan juga mempunyai isti lah-istilah yang sangat kental. Di situ saya melihat bedanya. Saya mene mukan buku-buku Liberal menyebut Yesus hanya Yesus, di depannya hampir tidak pernah memakai istilah Tuhan Yesus, karena mereka tidak percaya. They reduced the lordship of Christ and increased the importance of the morality of Christ. Karena tidak beriman, maka mereka tidak mungkin me miliki keyakinan yang sungguh-sungguh.

Di dalam perkembangan saya melayani Tuhan, saya melihat dua hal yang me nggerogoti kekristenan, yaitu Liberalisme dan Kharismatik. Liberalisme menggerogoti kekristenan dari “tidak beriman”, Kharismatik menggerogoti kekristenan dari “beriman kepada hal-hal yang tidak penting yang radi kal dan salah”. Pada waktu permulaan gerakan Pantekosta, mereka ingin membangunkan kekristenan, mereka melihat bahwa mereka harus kembali kepada iman rasuli, tetapi iman rasuli yang mereka anggap adalah karu nia lidah, kesembuhan, mujizat dan tanda ajaib (mengusir setan). Inilah yang dianggap menjadi iman rasuli karena zaman saat para rasul masih berada di dunia, para rasul melakukan hal-hal di atas. Ini beberapa hal supranatural yang dianggap sebagai iman dari para rasul.
Tetapi bagi orang Protestan, iman rasuli bukanlah gejala-gejala itu, me lainkan pengakuan iman rasuli yang kita baca setiap minggu, “Aku perca ya kepada Allah, Bapa yang Maha Kuasa ....” Jadi yang ditekankan bukan lah semacam gejala pelayanan tetapi mutu dan inti dari kepercayaan ber dasarkan Kitab Suci.
Dari situlah mulai perpecahan. Selama beberapa puluh tahun kemudian me reka menekankan hal itu terusmenerus, hingga sampai pada waktu Kharis matik muncul, kemampuan ber-glossolalia sebagai satu-satunya bukti bah wa orang itu telah dipenuhi oleh Roh Kudus dan dibaptis oleh Roh Kudus. Loncatan dari karunia menjadi tanda, karunia Roh Kudus menjadi tanda su dah dibaptiskan Roh Kudus. Dengan berjuang ke situ maka mereka sebenar nya bukan mencari Roh Kudus, melainkan mencari karunia untuk membukti kan mereka ada Roh Kudus dan iman kepercayaan mulai dibuang.
Tahun 1950-an di Indonesia masih banyak orang Pantekosta yang memen tingkan Injil, tetapi memasuki tahun 1990, Injil tidak lagi dikabarkan, yang dikabarkan adalah teologi kemakmuran. Penggeseran semakin lama se makin nyata, semakin lama semakin menyeleweng. Sehingga saya meneguh kan, “Liberalism ca nnot represent true Christianity; Charismatic movement cannot represent true Christianity, either.” Lalu saya berta nya, “Kalau begitu di Indonesia perlu apa?” Perlu satu kubu kekristenan yang sungguh-sungguh berdiri di tengah arus yang begitu simpang siur. Di sini adalah satu kota benteng, mari semua kembali ke sini, mulai la gi mengikut kepada Tuhan, maka gerakan Reformed Injili didirikan.
Ini bukanlah suatu kesempatan untuk menonjolkan diri, bukan suatu kesem patan untuk mengisi waktu luang, bukan suatu tempat untuk kamu melatih aktifitas supaya giat. Ini adalah tempat di mana kita sama-sama memba ngun kota benteng, mendirikan kubu yang bisa menantang arus yang meng hancurkan kekristenan, dan kita bertanggung jawab menjadi terang dan ga ram dunia. This is a veryglorious invitation. Saya menantang dan mengun dang kalian untuk sama-sama mengerjakan hal yang penting. Visi adalah pembagian Allah tentang rencana-Nya yang kekal kepada orang yang Dia pilih. The sharing of God’s eternal plan to His chosen people. Dia mem beri tahu, “Lihat, inilah rencana-Ku” Barangsiapa yang berbagian di da lam Allah yang telah men-sharing isi hati dan rencana kekal-Nya kepada nya, orang itu adalah orang yang mengerti visi. Tidak ada satu orang pun yang menjalani visi Allah lepas dari definisi ini. Yesaya, Musa, Elia, Daniel, Yehezkiel, Yeremia, semua nabi-nabi yang menjalankan vi si, mereka tahu apa yang menjadi rencana Allah dan rencana Allah harus dikerjakan di zaman itu, saat mereka menerima panggilan.
Indonesia sangat memerlukan gerakan Refor med Injili. Pada saat saya me ngatakan saya akan mendirikan gerakan Reformed Injili, dan kalau Tuhan pimpin, saya mendirikan Gereja Reformed Injili, langsung pemimpin-pemim pin yang dulu teman akrab saya, yang paling mendukung saya, satu persa tu marah dan mulai meninggalkan saya. Saya tahu karena saya memiliki ji wa kenabian. Dari dulu saya tahu bahwa saya akan menjadi orang yang ter sendiri. Ini adalah suatu saringan agar saya tahu siapa yang Tuhan ki rim yang betul-betul kawan,
betul-betul mau mendukung dengan sungguh-sungguh. Di situ mereka tulis surat, marah-marah pada saya, “Pak Tong yang saya hormati berpuluh-pu luh tahun, sekarang saya baru tahu kalau engkau punya ambisi sendiri, mau buat gereja sendiri untuk melawan semua gereja.” Kalau saya membaca surat semacam ini, saya tidak berkata, “Kalau begini saya perlu berto bat.” Saya cuma mengatakan, “Tuhan ampunilah dia, karena dia tidak tahu apa yang dia tulis.”
Saya tidak mendirikan gereja untuk saya. Kalau saya mau jadi pendeta bi sa saja, karena New York, Tokyo, dan Hongkong mengundang saya menjadi uskup sejak tahun 1975. Mengapa saya harus menunggu sampai tahun 1984 baru mendirikan gereja? Begitu mendirikan suatu gereja Reformed, saya harus berhenti berkhotbah di luar negeri yang mengundang saya. Bagi sa ya itu bukan suatu keuntungan. Indonesia negara apa? Kalau saya berada di lndonesia, orang akan bertanya engkau dari mana? Dari Amerika? Wah hebat. Dari mana? Malang. Di mana Malang? Indonesia. Oh.... Buat saya itu kerugian. Saya bukan orang biasa. Saya terkenal di dunia. Saya su dah berkhotbah di 1.500 gereja. Saya sudah menjadi anggota konsultan In ternasional dari Lausanne Committee. Saya sudah bisa menjadi uskup pada tahun 1975. Saya sudah diundang ke LA untuk menjadi Ketua menggantikan Andrew Gih. Lalu buat apa saya di Indonesia mendirikan GRII, sinodenya tidak ada dan uang tidak ada. Selama dua tahun saya tidak mendapatkan honor yang cukup untuk menanggung 9 orang keluarga saya. Makan dari ma na pun saya tidak tahu. Itulah awalnya gerakan Reformed Injili. Kenapa? Bukan ambisi dan kemauan manusia. Ini semua adalah suatu perjuangan yg sengit dan sulit luar biasa. Untuk apa? Untuk kemuliaan Tuhan, untuk ke rajaan Tuhan, agar iman Kristen bisa tetap tegak di dalam dunia ini.
Beberapa tahun yang lalu setelah kita mengadakan NRC/NYC, saya merasa sasarannya belum tercapai. Saya terlalu mengira rekan-rekan saya sudah mengerti. Semua yang telah dikerjakan sangat baik tetapi belum menuju kepada sasaran. Belum menuju sasaran bagi orang biasa berarti belum men capai sesuatu yang baik. Bagi saya itu adalah dosa. Perhatikan, you miss the target, kamu bilang it does not yet come, we have not yet make our target become true. Bagi saya it is sin, hamartia, tidak mencapai sasaran Tuhan—itu berbuat dosa. Karena itu NRC/NYC berhenti beberapa ta hun lalu dan mulai lagi dengan sasaran asli, dari visi asli yang Tuhan berikan, kembali ke original, yaitu mendekatkan doktrin, mengajarkan prinsip-prinsip dan arah gerakan ini. Maka  mulai tahun lalu, selama lima tahun berturut-turut kita akan membentuk kembali sekelompok pemuda dan hamba Tuhan yang mau berjuang untuk menegakkan kubu Reformed ini. Saudara tidak mau di gereja ini, tidak apa-apa, silakan kembali ke gere jamu masing-masing. Tetapi berjuanglah sampai gerejamu menjadi Reformed Injili, kalau tidak bisa dan malah dianiaya, maka mungkin engkau harus membuat gereja sendiri, tetapi pakailah teologi Reformed dan pakailah semangat Injili untuk merombak dunia ini. Tidak ada jalan lain.
Gerakan Reformed Injili adalah suatu ge rakan yang dibutuhkan secara urgent, ti dak bisa ditunda. Gerakan Reformed Injili adalah satu-satunya jalan yang kuat dan lincah sehingga membuat gereja Tuhan yang asli dapat hidup kembali. Gerakan Refor med Injili adalah satu-satunya gerakan yang menantang agama dari luar, filsafat dari orang intelektual, dan bidat dari dalam yang paling ampuh. Tidak ada jalan lain. Kita bersyukur kepada Tuhan kalau selama 450 tahun gerakan ini telah menya takan kebolehannya dan menyatakan pernyer taan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tetapi memasuki abad ke-21, kita mempunyai tan tangan yang berbeda. Dulu tidak ada New AgeMovement, yang ada hanya Rasionalisme, ideologi-ideologi, evolusi, logical positivism, dan komunisme. Tetapi mulai dari relativism Einstein sampai sekarang kemutlakan itu ditolak. Orang sekuler akan mengatakan the only absolute thing is that there is nothing absolute. Inilah pemikiran zaman sekarang.
Maka sewaktu engkau melihat orang-orang yang setuju gereja jangan ditu tup, mereka itu kawan kita kan? Mereka tidak mau gereja ditutup kan? Te tapi lihatlah ada orang Islam yang berkata bahwa gereja harus ditutup karena ini gereja-gereja liar. Sebenarnya yang mau gereja itu ditutup itu semangatnya sama dengan kita. Yang tidak mau tutup itu melawan ki ta. Kenapa begitu? Yang tidak setuju menutup gereja, setuju bahwa tidak ada kemutlakan. Yang mengatakan harus ditutup, mempercayai Islam itu mutlak dan kita percaya bahwa Reformed Injili memegang kemutlakan. Kita tidak percaya bahwa ada juruselamat ke-dua, tidak ada jalan lain ke-dua, kita percaya ada yang mutlak. Mutlak kita kepada Kristus, mutlak mereka tidak di dalam Kristus, tetapi sama-sama percaya mutlak. Jadi orang yang memusuhi kita, kebanyakan pada saat tertentu jiwanya adalah sama seperti kita. Kita lebih setuju kepada orang yang tidak setuju ge reja ditutup, karena kalau gereja tidak ditutup kita juga tidak ditutup kan? Lebih baik buat kita. Tetapi kalau gereja tidak ditutup, itu arti nya semua boleh, artinya tidak mutlak, artinya relatif. Pada waktu Viet nam jatuh ke tangan komunis, orang yang takut dengan komunis adalah orang yang lari terlebih dahulu. Bagi saya merekalah yang paling setuju komunis. Mengapa? Kalau mereka menyetujui komunis secara tidak sadar me reka pergi karena mereka berpikiran bahwa Vietnam harus dikuasai komu nis, sehingga mereka pergi untuk membiarkan komunis datang. Karena itu saya berpikir bahwa saya tidak boleh keluar dari Indonesia. Karena saya juga tidak setuju, maka saya harus mendirikan gereja walaupun saya le bih dihormati di luar, mendapat profit di luar. Saya tetap di sini, sam pai mati menggarap gerakan Reformed Injili. Yang mengerti ini, silakan ikut; yang tidak, tidak usah datang.

Bagaimana pun sulitnya, tetapkan kebenaran yang engkau percayai itu mutlak. Tetapi orang yang menganggap diri percaya kepada yang mutlak, mungkin dia sedang mempercayai hal yang sebenarnya tidak mutlak. Per caya ini mutlak, mungkin percaya yang itu tidak mutlak. Tapi kamu salah percaya, sehingga yang tidak mutlak kamu mutlakkan. Itu namanya memutlakkan yang tidak mutlak, artinya mutlak salah. Tetapi salah pun mutlak karena dia setuju yang mutlak. Tetapi jika yang mutlak tidak eng kau mutlakkan, engkau juga mutlak salah, karena engkau tidak percaya terhadap mutlak yang sejati. Jadi, jika engkau memutlakkan yang tidak mutlak, itu mutlak salah; engkau tidak memutlakkan yang mutlak, engkau juga salah. Kita perlu menegakkan iman gerakan ini. Yang mutlak jangan tidak dimutlakkan, yang tidak mutlak, jangan dimutlakkan. Saya tahu ca ra saya menjadi manusia seperti itu. Sebenarnya saya ingin damai dengan semua orang. Saya hampir tidak pernah sembarangan cekcok dengan orang. Siapa mau menang silakan dia menang. Tapi saya menjadi orang bagaimana orang telah damai pun saya tetap memegang percaya kepada iman keperca yaan keyakinan yang tidak mau saya kompromikan.
Gerakan Reformed Injili diperlukan. Gerakan Reformed tidak cukup, maka digabungkan dengan Injili. Reformed Injili menjadi satu-satunya yang bertulang punggung dan berdarah daging. Reformed Injili menjadi satu-satunya yang mempunyai pendirian tidak berkompromi dan terus mempunyai gairah untuk membawa
manusia kembali kepada Tuhan. Without evangelization, there is no growth of the church. Without theology, there is no strength of belief. NREC akan diadakan untuk tahun kedua, dan tahun pertama saya mulai mera sa banyak yang mulai sadar kenapa gerakan ini penting. Siapa yang ikut tahun lalu dan berasa tidak berbeda? Kita dengan terang-terangan dan gamblang menjelaskan mengapa harus gerakan Reformed Injili. Ini pertama kalinya saya mengadakan kebaktian kecil seperti ini, supaya saya berte mu dengan orang-orang yang penting, the coming important leaders of the future. Engkau sudah mendengar kalimat yang penting sekali. What are you going to do? What are you going to sacrifice? Are you going to involve yourself ? And what is the purpose?














Tidak ada komentar:

Posting Komentar