Minggu, 23 Juli 2017

KAMU JUGA PURA-PURA

Suatu kali rumah Jokowi kedatangan seorang pengemis. Ketika dilihat ada yang aneh dari pengemis itu, maka ditegurlah pengemis itu oleh Jokowi: "Kamu pura-pura lemas, ya, biar dikasihani orang?"

Maka menjawablah pengemis itu: "Benar, pak, saya pura-pura sakit, pura-pura lemas, sebab kalau sakit atau lemas beneran, bagaimana saya bisa berjalan-jalan dan mendapatkan uang?! Mengapa bapak suka melihat saya sakit dan lemas benaran?! Mengapa bapak baru memberi uang kalau orang sudah sakit dan sudah lemas benaran?! Memangnya orang sehat tidak butuh uang, tidak butuh uang, pak?! Memangnya kalau saya jujur, tidak pura-pura lemas dan tidak pura-pura sakit, bapak mau kasih saya?! Jadi, pengemis juga harus menguasai trik dan managemen pemasaran, pak, yaitu apa yang diminati pasar. Jika pasar mintanya dibohongi baru mau memberi uang pada pengemis, sedangkan jika jujur hancur, maka apa boleh buat saya terpaksa harus mengikuti selera pasar, seperti promosi produk makanan dan minuman: "Tidak mengandung bahan pengawet!"

"Bapak sendiri juga pura-pura prorakyat, pura-pura berkemeja kotak-kotak, pura-pura blusukan, pura-pura naik mobil Esemka, pura-pura tidak mau naik pesawat kepresidenan, pura-pura tidak mau naik mobil kepresidenan, pura-pura tidak akan menaikkan BBM, dan pura-pura yang lainnya, sehingga bapak berhasil mendapatkan simpati masyarakat dan berhasil menjadi presiden."

"Ketua DPR, Setya Novanto, juga mendirikan perusahaan pura-pura di Amerika Serikat untuk menampung uang 500 milyar dari anggaran e-KTP. Beliau juga pura-pura mewakili rakyat ketika berkata kepada PT. Freeport: "Papa minta saham". Dimas Kanjeng juga pura-pura sakti, bisa menggandakan uang ketika mempedayai ratusan orang dengan kerugian milyaran rupiah. Polisi juga pura-pura menilang ketika ada motor yang melanggar, padahal ketika dikasih uang cepek urusan bisa selesai. Anggota DPR juga banyak yang menggunakan ijasah S2 pura-pura. Para pengusaha juga banyak yang pura-pura usahanya bagus, padahal curang. Para pelamar pekerjaan juga banyak yang pura-pura pintar, pura-pura jujur. Orang kaya banyak yang pura-pura miskin untuk mendapatkan kartu KIP, BPJS dan KIS, mendapatkan gas LPG subsidi dan bensin subsidi. Habib Rizieq Shihab pura-pura suci, para pendeta pura-pura saleh. Orang miskin pura-pura kaya dengan banyak utang, motor kreditan, rumah kreditan, tahunya tak sanggup membayar angsurannya. Orang perempuan juga suka pura-pura wangi dengan minyak wanginya, pura-pura cantik dengan bedak dan lipstiknya, maka antrilah perjaka dan duda. Artis cantik pura-pura menjadi pembantu rumahtangga, padahal itu dilakukannya demi mendapatkan honorarium jutaan. Para penyanyi pura-puranya menyanyi, padahal itu dilakukannya demi honorarium jutaan dan popularitas."

"Pengemis itu akting hanya untuk uang recehan, untuk sesuap nasi dan untuk istri dan anak-anaknya. Tak mungkin pengemis itu mengharapkan jutaan. Mengapa ini bapak masalahkan? Ada tertulis bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, untuk hidup di tengah-tengah serigala buas."

Mat. 10:16"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Begitulah percakapan Jokowi dengan seorang pengemis di hari itu. Esok harinya datang seorang pengemis lainnya lagi. Karena dilihat masih muda, maka Jokowi menganjurkan supaya pengemis itu bekerja, tidak meminta-minta begitu; "Ayo, kerja, kerja, kerja. Ini zaman rezim Kabinet Kerja."

Pengemis itu mengerutkan keningnya: "Kerja? Kerja apaan? Di saat orang sedang berjalan melamar kerjaan, saya mengemis sudah mendapatkan Rp. 10.000,- Di saat orang itu menunggu jawaban lamarannya, saya mengemis sudah bisa menghidupi keluarga selama seminggu. Di saat orang itu menerima jawaban ditolak, kepalanya pening, saya sedang menghisap sebatang rokok. Setahun, dua tahun, tiga tahunpun orang itu hanya mondar-mandir menenteng map tak membawa uang sepeserpun, anak saya sudah berumur 3 tahun. Orang itu bukan mencari uang, melainkan mencari pekerjaan. Tapi saya mencari uang, bukan mencari pekerjaan. Karena itu kerja apa saja saya jalankan, sekalipun mengemis".

Kata Jokowi: "Saya ada pabrik meuble. Kerjalah di sana saja. Tapi karena pabrik baru operasi, saya belum sanggup menggaji besar". Berkatalah pengemis itu: "Oh, gaji ala kadarnya, ya pak?! Baik, nggak apa-apa, asalkan hidup ini juga bisa dibuat ala kadarnya. Jika makan bisa sesendok saja, sekeluarga makan seorang saja, listrik bayar ala kadarnya, sewa rumah bayar ala kadarnya, bensin bayar ala kadarnya, maka gaji ala kadarnya nggak masalah."

"Asal kerja, tak memperhitungkan penghasilannya, kapan hidup ini bisa tenang, kapan perut ini bisa kenyang, kapan duit bisa segudang, kapan bisa bebas dari utang? Kalau mengemis pusing, bekerja juga pusing, mengemis tidak dibentak-bentak majikan, tidak diperintah-perintah majikan, saya pilih mengemis".

Di zaman Soeharto. pegawai negeri, polisi dan tentara digaji kecil sekali. Gaji tidak realistis dengan standart kehidupan, maka akibatnya pegawai negeri, polisi dan tentara korupsi, belat-belit surat perijinan, main tilang, dan memeras pengusaha. Naik bus nggak mau bayar, ditugaskan komandan sangunya minta ke toko-toko China. Ya, semua orang pasti mencari jalan keluar, donk.

Itu sebabnya banyak orang memilih bekerja di luar negeri. Sebab sekalipun cuma menjadi sopir atau pembantu rumahtangga, tapi pulang kampung bisa kayaraya. Di sini, mana ada buruh yang bisa kayaraya sekalipun bekerja seabad. Di sini masih lebih bagus nasibnya anjing daripada nasibnya fakir miskin.

Di dunia ini tak ada yang buruk, sebab semuanya berasal dari ELOHIM YAHWEH. Asal semuanya digunakan secara bijaksana, tidak secara berlebih-lebihan. Air putih; kekurangan maupun kelebihan air putih sama-sama tak baiknya. Nasi, bagi orang diabetes juga jahat. Pisau bisa untuk membunuh orang tapi juga bisa untuk hal-hal yang berguna. Tahi sekalipun menjijikkan, nyatanya bisa untuk pupuk. Sampah, nyatanya bisa didaur ulang. Ganja, morpin, dan lain-lainnya, jika digunakan secara tepat juga berkhasiat untuk kedokteran dan kesehatan anti kanker.

Fakta Ganja: Obat Kanker Masa Depan!


 
Demikian halnya dengan pekerjaan mengemis, tidaklah selalu buruk asalkan kita mau keluar dari kerangkeng kepicikan. Mengemis bisa menghidupi keluarga masih lebih baik daripada pengangguran yang menyengsarakan keluarganya.


Kisah Gadis Pemulung Yang Menjadi Dokter
http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2016/02/kisah-gadis-pemulung-yang-menjadi-dokter.html


Tapi karena yang memberinya nasehat seorang presiden, maka pengemis muda itu mencoba menurutinya. Dia harus mendukung rezim "Ayo, kerja, kerja, kerja!" Sekalipun tak jelas mau kerja apa, modalnya dari mana dan berapa gajinya. Pengemis muda itu membuka tabungannya, ada sekian juta, maka berdaganglah dia menjadi pedagang sayur kelilingan. Dia masuk ke komplek-komplek perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya.

Ketika mantan pengemis itu sedang duduk-duduk di bawah sebatang pohon, sedang beristirahat, lewatlah mobil kepresidenan dan berhenti di depan pedagang sayuran itu. Menyapalah Jokowi dari balik jendela mobilnya: "Hai, bagus, sekarang sudah bekerja jualan sayur, ya?! Bagus, bagus!" Tapi pedagang sayuran itu menggeleng-gelengkan kepalanya: "Apanya yang bagus, pak? Tambah parah keadaan perekonomian saya, pak. Saingan banyak, sepi pembeli dan terlalunya ibu-ibu kalau menawar dagangan saya. Dagangan ditawar murah-murahan, di bawah modalnya. Memangnya saya disuruh menyumbang dapurnya ibu-ibu itukah?! Mengemis disuruh kerja. Setelah kerja ditekan-tekan supaya rugi, supaya bangkrut. Pedagang sayur nggak boleh untung, nggak boleh kaya. Jualan sayur malah tambah pusing, pak".

Hasil gambar untuk gambar mobil jokowi

Fakta Ganja: Obat Kanker Masa Depan!

https://indocropcircles.wordpress.com/2012/12/08/ganja-obat-kanker/

cannabis_header

Fakta bukanlah Dunia Khayalan, karena hanya Elite Dunia yang telah merekayasa dan menciptakan semua khayalan itu agar masuk ke dalam otak mereka yang minim ilmu pengetahuan, supaya para Elit Dunia dapat selalu mempertahankan bisnis multi trilyun dollar melalui industri-industri farmasi raksasa milik mereka, agar tetap dapat mengontrol penyakit dan obat yang dikonsumsi oleh tiap insan manusia sejagad.

laboratory laboratorium banner
Tanaman ganja memang sangat unik karena memiliki efek yang berseberangan. Di satu sisi, tanaman tersebut dapat menyedapkan makanan yang dimasak. Tapi di sisi lain juga memberikan efek negatif karena masuk dalam salah satu jenis narkotika.
Keadaan itu sangat kontras dengan konsidi di dunia belahan Barat yang selalu mengedepankan riset atau penelitian. Di sana, masyarakat mengenal ganja sebagai bahan pembunuh sel kanker dan di legalkan alias diperbolehkan. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pernah menyatakan pendapatnya mengenai legalisasi ganja ini.
“Bahan apapun kalau dia jadi obat, itu sih boleh. Morphin itu kan enggak legal, tapi kalau dia jadi obat ‘kan boleh. Kalau segala sesuatu jadi obat, ya boleh. Asal bukan dilegalkan untuk hal-hal negatif,” paparnya.
Ganja Hentikan Penyebaran Sel Kanker
Ganja yang penjualan dan pemakaiannya dilarang, terbukti dapat menjadi obat alternatif kanker. Sebuah senyawa dalam ganja yang ditemukan oleh peneliti di  California Pasific Medical Centre, San Fransisco, dapat berpotensi mematikan sel-sel kanker. “Butuh waktu sekitar 20 tahun untuk penelitian ini, dan hasilnya sangat menggembirakan” ujat Pierre Despres, seorang peneliti pada Huffington Post.

Desprezm seorang ahli biologi molekuler, menghabiskan waktu tahunan untuk mempelajari gen penyebaran kanker.
Sedangkan, Sean McAllister mempelajari efek Cannabidiol, atau CBD, senyawa kimia yang berada dalam ganja.
Akhirnya, pasangan ini pun mencoba memadukan dua penelitian yang telah mereka lakukan. Menggabungkan CBD dengan sel kanker dalam sebuah cawan petri.
“Kami menemukan Cannabidiol memiliki sifat dasar ‘mematikan’, dan ini terjadi pada sel kanker,” sambungnya. Meski telah berhasil pada hewan uji laboratorium. Penelitian ini belum dapat diterapkan pada manusia. Para ahli masih menunggu izin untuk uji klinik pada manusia.
Pengobatan Ganja (Medical Marijuana) Bukanlah Narkotika
Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia.

Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu.
Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir.
Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya.
Untuk itulah maka ganja tak bisa dijadikan obat untuk semua manusia, apalagi yang tak suka mabuk. Maka ilmuwan akan membuat efek mabuk itu menjadi hilang agar semua orang dapat menggunakannya sebagai penyembuh dan pengobatan berbagai penyakit.
Astroglia (Astrocytes)

Para peneliti mempelajari bagaimana reaksi tikus terhadap komponen aktif ganja dan beberapa unsur kimia lain yang mirip. Perhatian difokuskan kepada reseptor pada sel-sel otak yang bereaksi terhadap zat kimia yang bernama cannabinoid, sebuah senyawa yang mirip dengan komponen aktif pada ganja, yaitu Tetrahydrocannabinol (THC). Reseptor otak yang bereaksi terdapat pada neuron (sel syaraf) dan astroglia atau disebut juga astrocytes.
Para peneliti tersebut melakukan rekayasa terhadap tikus untuk melakukan percobaan. Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 3 kelompok:
  1. Kelompok pertama tidak mempunyai reseptor cannabinoid di otaknya
  2. Kelompok kedua hanya mempunyai reseptor pada neuron (sel syaraf)
  3. Kelompok terakhir hanya mempunyai reseptor pada astroglia.
Astroglia astrocytesTikus-tikus tersebut diajarkan untuk melewati sebuah labirin. Setelah dianggap menguasai labirin, tikus-tikus tersebut lalu diberikan sejumlah dosis THC atau senyawa lain yang mirip dengan cannabinoid untuk mengetes kemampuan mereka dalam mengingat labirin.
Kelompok tikus yang dengan reseptor cannabinoid pada astroglia (kelompok-1) ternyata bermasalah dalam mengingat arah. Kelompok lain yang hanya memiliki reseptor pada neuron (kelompok-2) tanpa masalah berhasil melewati labirin.
Hal tersebut menunjukkan bahwa THC tidak mempengaruhi memori melalui neuron (sel syaraf), namun melalui astroglia. Para peneliti juga memperhatikan sel-sel astroglial pada bagian potongan otak yang berasal dari hippocampus (bagian otak yang berkaitan dengan pembentukan memori).
cannabis and tobbacoSetelah terkena cannabinoid, astroglia melepaskan senyawa yang mengganggu pengiriman sinyal antar neuron. Hal tersebut bisa menjelaskan mengapa ganja bisa memengaruhi memori.
Efek lain dari ganja yang bisa dikatakan bermanfaat adalah dalam mengobati rasa sakit, kejang, dan beberapa penyakit lainnya terjadi melalui neuron.
Jika zat cannabinoid bisa didesain hanya untuk memengaruhi neuron, pengaruh buruk ganja pada memori tentu bisa dihindari dan tentu saja pengobatan menggunakan ganja dimasa depan untuk banyak penyakit akan bisa dilakukan.
Untuk Obat, Ilmuwan Ciptakan Ganja Tidak Memabukkan
Ilmuwan Israel berhasil menciptakan ganja sintetis yang bentuk, bau, dan rasanya menyerupai daun ganja asli. Satu-satunya yang menjadi yang pembeda adalah, ganja sintetis ini tidak menimbulkan efek memabukkan selayaknya ganja sungguhan. Dan karena memiliki bau, bentuk dan rasa menyerupai ganja asli, produk ini berhasil menipu pasien.
cannabis legal cancer Free
Ganja sudah dikenal sebagai tanaman obat dan pemulih kesehatan sejak ribuan tahun yang lampau.
Tikkun Olam, perusahaan yang mengembangkan ganja sintetis ini memang sengaja tidak membuat efek tersebut. Sebab, mereka memang berniat membuat hanya mirip secara bentuk, namun kandungan yang berbeda.
“Setelah mencoba ganja sintetis ini, banyak pasien kami kembali dan mengaku tertipu. Mereka mengira kami memberi semacam plasebo pada mereka,” kata Tzahi Klein, kepala bagian pengembangan Tikkun Olam, seperti dikutip Daily Mail, Jumat 1 Juni 2012.
Efek mati rasa yang biasa didapat seseorang saat mengonsumsi ganja, berasal dari zat THC atau tetra-hydro-cannabinol yang terkandung di dalamnya.
Para ilmuwan Israel lebih memilih untuk meningkatkan efek zat yang lebih ringan, yaitu cannabidiol, yang seringkali digunakan untuk meringankan efek gangguan mental. Di Israel, ganja digolongkan ke dalam obat-obatan kelas B.
Di negara ini, ilegal bagi warganya untuk memiliki dan menghisap ganja. Penggunaan daun ini diperbolehkan di Israel untuk tujuan medis. Tikun Olam adalah salah satu perusahaan Israel yang menumbuhkan ganja untuk keperluan ini.
Kanker Pankreas hakim kenamaan asal New York ini berhasil sembuh total berkat ganja
https://indocropcircles.files.wordpress.com/2012/12/aad8e-image.jpg
Gustin L. Reichbach
Gustin L. Reichbach, adalah seorang hakim kenamaan dari New York State Supreme Court, yang juga adalah pengidap kanker.
Beberapa saat lalu, tulisannya di New York Times tentang pengakuannya menggunakan ganja medis kontan sedikit membuat gempar kota yang konon katanya tak pernah tidur itu.
Kisah ini merasa perlu diangkat sebagai sebuah artikel berdasarkan pertimbangan; penyakit, kelainan dan wabah bisa terjadi kepada siapapun, lintas profesi ataupun usia.
Menyikapi pernyataan-pernyataan yang sang hakim beberkan terkait profesinya juga keterlibatannya dengan tindak kriminal, dalam hal ini penggunaan ganja, harusnya bisa sedikit menghapuskan stigma-stigma buruk tentang pengguna ganja, yang umum diketahui berperilaku buruk dan tidak menyenangkan.
Juga secara lantang (harusnya) membantah undang-undang yang mengklasifikasikan ganja sebagai narkotika berbahaya, tanpa nilai medis sedikitpun.
ganja cannabis vs alcohol alkohol
Perbandingan bahaya alkohol dengan ganja.
Pernyataan dari Gustin L. Reichbach ini diutarakannya dalam sebuah artikel di New York Times setelah menerima vonis kanker pankreas 3 setengah tahun lalu, ketika dia baru saja berulang tahun ke-62.
Kanker stadium 3 dinyatakan dokternya bersamaan dengan vonis sisa usia yang maksimal hanya bisa bertahan 6 bulan saja!
Pada 16 Mei 2012, 3 setengah tahun setelah divonis, sang hakim angkat bicara. Bukan tanpa risiko, tentunya.
Dia bisa saja kehilangan pekerjaannya dan mendapatkan masalah dengan hukum yang berlaku, mengingat hukum negara bagiannya dimana segala bentuk penggunaan ganja adalah ilegal.
Menurutnya, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan jika faktanya, ganja yang pemerintah federalnya larang sepenuh hati ini, ternyata sangat bermanfaat untuk kanker yang dideritanya.
“My survival has demanded an enormous price, including months of chemotherapy, radiation hell and brutal surgery.”
Segala perawatan yang dia jalani setelah diagnosis bagaimanapun telah memperpanjang usianya.
Illuminati Card Game Agenda - Rewriting History
Illuminati Card Game Agenda – Rewriting History
Meskipun, lanjutnya lagi, biaya yang dikeluarkan, efek samping chemoteraphy, dan puluhan obat-obatan yang hanya bersifat menenangkan sementara dengan efek-efek samping yang tak kalah mengganggu, seperti mual, hilangnya selera makan dan susah tidur.
Setiap obat pabrikan yang dokternya sarankan untuk meringankan satu gejala selalu berujung kepada pengkonsumsian obat-obatan lainnya untuk sekedar meredakan efek samping dari obat tersebut.
Obat penghilang rasa sakit contohnya, selalu berujung kepada hilangnya nafsu makan dan sembelit.
Juga obat anti-mual, ungkapnya, malah mengakibatkan masalah lain seperti melangitnya kadar gula dalam tubuh rentannya.
Begitu seterusnya, dan bisa dibayangkan nominal uang yang harus disediakan untuk sekedar berusaha mempertahankan keberlangsungan hidup belaka.
Selepas setahun perawatan yang menyengsarakan, kanker pankreas Gustin akhirnya hilang, meskipun dia sadar bahwa kanker itu hilang hanya untuk kembali merongrong nyawanya.
https://i2.wp.com/www.rnw.nl/data/files/imagecache/must_carry/images/lead/article/2012/05/ganja.jpg
Mual dan nyeri adalah kesetiaan yang senantiasa menemani kapanpun selepas perawatan “IV Booster of Chemoteraphy“. Bahkan “makan”, salah satu hal paling menyenangkan dalam hidup, kini baginya adalah peperangan yang menyengsarakan setiap harinya, dimana setiap suapan sendok adalah sebuah kemenangan.
Juga tidur, satu aspek paling vital untuk membantu proses recovery dan hiburan untuk kesengsaraan sehari-harinya, kini menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dimiliki.
“This is not a law-and-order issue; it’s a medical and human rights issue.“
“Menghisap ganja adalah satu-satunya cara untukku meredakan mual, meningkatkan nafsu makan dan memudahkan kantuk untuk datang di akhir hari.”
Beruntunglah beberapa temannya, yang tentunya tak tega melihat kesengsaraan sang hakim rela (dengan risiko pribadi) menyediakan akses untuk ketersediaan ganja medisnya.

Jumat, 21 Juli 2017

PEREKONOMIAN HARI LIBUR

Presiden Jokowi yang bersemboyan: "Ayo, kerja, kerja, kerja!" ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya sebagai presiden yang paling gemar membuat hari libur nasional. Dan sebagai presiden yang berlatar belakang pengusaha meubel, patut disayangkan jika segala kebijaksanaannya tidak memperhitungkan dampaknya secara teliti, terutama yang menyangkut keekonomian rakyat.

Tanpa adanya hari besar nasional, liburan kantor pada hari Sabtu dan Minggu saja sudah berjumlah 100 hari pertahun. Kini ada 20 hari libur nasional, sehingga berjumlah 120 hari dibandingkan dengan 365 hari pertahun. Itu artinya orang harus bisa menutup target kebutuhan setahun dalam waktu 240 hari kerja. Kalau bagi orang yang bergaji bulanan tak masalah. Tak ada yang kurang dengan penghasilannya, malah hari libur mungkin bisa lebih irit. Tapi bagi warung-warung, pedagang bakso, pedagang siomay, pedagang batagor, pedagang rujak buah, pedagang es cendol, toko-toko, kios-kios rokok, tukang becak, tukang ojek, sopir Angkot, pedagang asongan, pedagang koran, dan lain-lainnya, tentu saja harus gigit jari dan siap-siap puasa. Sebab penghasilan mereka harian dan amat bergantung dari aktifitas kantoran.

Cobalah melihat ke jalan-jalan protokol yang dihuni oleh gedung-gedung perkantoran. Di hari kerja hitunglah ada berapa banyak pedagang yang menggantungkan rejekinya di sekitaran jalan itu. Bandingkan dengan sunyi-sepinya jalanan itu di saat hari libur. Tak ada satu warungpun yang berani buka. Bukan karena takut dengan Satpol PP atau preman, tapi takut dagangannya tak laku kalau hari liburan. Jadi, setiap hari para pedagang fakir miskin itu dihantui ketakutan dan kekuatiran. Kalau hari kerja takut dengan Satpol PP, kalau hari libur takut dagangannya tak laku.

Padahal di hari kerja, setiap hari mereka hanya mempunyai waktu sekitar 8 jam kerja kantoran, dari pagi sampai sore, harus bersaing dengan sesama pedagang. Sebab jika orang sudah kenyang dengan siomay tak mungkin dia akan membeli bakso juga. Praktis ketika si siomay untung, si bakso buntung. Beberapa juta dari sangu uang makan para pegawai itu diperebutkan oleh para pedagang itu untuk menafkahi keluarga mereka.

Menurut data ada 130 juta orang bekerja. Jika setiap orang setiap hari membelanjakan uang makannya sebesar Rp. 20.000,- maka nilai perputaran uang yang diperebutkan oleh para pedagang itu setiap harinya adalah Rp. 2,6 trilyun?! Dan jika dalam setahun ada 120 hari libur x Rp. 2,6 trilyun, coba hitung berapa nilai ekonomi yang hilang dalam setahun.

Oh, mereka setiap hari harus bersaing dengan sesama pedagang, mereka harus makan dan menanggung biaya hidup setiap hari sekalipun hari libur, mereka harus membayar rekening listrik yang semakin mahal, biaya sekolah atau kuliah anak, bayar utang sana-sini, dan lain-lainnya. Jika hari kerja saja belum tentu untung banyak, betapa pahitnya jika ditambah dengan hari libur. Pening, deh!

Zaman makin maju masakan hidup semakin sulit? Banyak ahli, banyak pakar, masakan makin sengsara? Gedung-gedung berdiri megah, jalan-jalan padat dengan mobil, masakan fakir miskin semakin banyak?

Orangpun mengecam saya: "Kamu bisanya cuma mengkritik." Saya jawab: "Itu sebabnya saya tak berani mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi Jokowi bilangnya bisa menjadi presiden, tapi lha koq seperti ini hasil kerjanya????"

Soto nggak ada garamnya masak saya bilang enak? Soto enak masakan saya muntah-muntah?

Hasil gambar untuk gambar warung-warung di perkantoran

Kamis, 20 Juli 2017

DOSA JOKOWI DARI AWALNYA

EKONOMI LESU! Lihat! Saya bukan mengajak anda melihat setan yang tidak kelihatan mata, tapi melihat sesuatu yang ada di sekitar kita yang dengan mudah sekali untuk kita lihat. Satpol PP dengan bangga menyebutkan telah menangkap ribuan gelandangan, pengemis dan pengamen, hingga Panti Rehabilitasi Sosial kelebihan kapasitas. Itu berita Satpol PP di seluruh kota di Indonesia ini. Namun koran di seluruh kota juga memberitakan tentang membludaknya para gelandangan dan pengamen. Jadi, lihat saja di kota anda apakah anda menyaksikan banyaknya gelandangan dan pengamen?

Dari mana mereka itu jika tidak mungkin dilahirkan dalam waktu semalam? Orang-orang gila baru dan orang-orang stress baru. Saya bedakan antara orang gila dengan orang stress, antara orang baru dengan orang lama. Itu banyak sekali! Hampir setiap hari ada saja yang baru. Barusan saya ketemu dengan seorang ibu, perawakan agak gemuk, pakaian masih bersih, membawa 2 tas kresek berat, berjalan ke sana ke mari menawarkan jasanya memijat dengan bayaran suka-suka kita. "Pijat, pak, murah, pak, sepuluh ribu saja setengah jam." Saya bilang saya nggak biasa pijat, ibu itu menurunkan taripnya: "Jika bapak tak ada sepuluh ribu, lima ribu juga nggak apa." Dengan hati hancur saya serahkan uang jatah ke warnet malam ini, Rp. 20.000,- Saya pikir hari ini saya libur ke warnet. Tapi TUHAN tidak ijinkan saya libur menulis, TUHAN membuat saya menemukan uang Rp. 50.000,- Puji TUHAN YESHUA!

Bagaimana dengan pemulung? Wouh, justru para pemulung baru inilah yang lebih besar, terlihat dari pakaian dan karungnya yang masih bersih, serta masih mengenakan sepatu. Bahkan banyak juga orang-orang China yang sampai memulung. Saya lihat mereka memulung bapak-anak berboncengan motor butut, mengorek-ngorek tong sampah. Uuh, sedih sekali hati ini. Padahal banyak saingannya sehingga hasilnya sedikit sekali, masih ditambah dengan larangan-larangan memulung di pasar-pasar atau di kampung-kampung: "Pemulung dilarang masuk!" Keren sekali kampung yang menuliskan kata-kata itu, ya?! Saya bergumam geram: "Bukan pemulung yang akan masuk ke kampungmu, tapi penyakit atau perampok atau celaka di jalan."

Anak-anak pada lulus sekolahan. Ke mana saja mereka? Pengangguran lama belum habis sudah ditambahi dari korban PHK dan para lulusan sekolah. Jumlah pengangguran di Indonesia 7,5 juta orang. Apakah angka itu valid? Saya tak yakin sedikitpun!

Sekarang coba lihat pada mobil-mobil angkutan umum dan tanyailah para sopirnya, seperti apakah sulitnya mencari penumpang sekarang ini? Orang-orang yang berdiri di jalan saja nggak ada, apalagi menumpang mobilnya?! Kalau ada orang yang berdiri di jalan, pastikan bahwa itu saya. Yah, tinggal saya saja yang belum mampu membeli motor. Bagaimana dengan toko-toko dan warung-warung di sekitar rumahmu? Saya yakin hanya Alfamart dan Indomart saja yang dijubeli pembeli. Penghasilan tukang parkirnya saja paling sepi Rp. 200.000,- perhari.

Kalau ada toko yang diantri pembeli saat ini yang saya lihat adalah toko sparepart motor dan grosir Sembako. Selain itu tak ada toko yang sampai diantri pembeli.

Dan kondisi lalulintas jalan raya yang selalu padat setidaknya menyiratkan ke mana dan kepada siapa pemerintah berpihak, jika becak disingkirkan dari Jakarta dan di berbagai kota besar dilarang melewati jalan protokol, maka untuk siapakah pemerintah membangun jalan-jalan? Bahkan untuk masuk ke jalan toll harus membayar mahal, maka jelas becak dan motor tidak mampu lewat jalan toll yang mulus itu. Itu bukan jalan untuk fakir miskin. Fakir miskin jalannya di trotoar saja, yang licin, yang sering membuat orang jatuh, yang tidak rata, yang membuat orang tersandung.

Alasannya untuk mengurangi kemacetan. Tapi mengapa becak yang dipersalahkan? Mengapa becak tidak boleh ikut serta dalam kemacetan itu? Mengapa hanya orang-orang kaya saja yang dibangunkan jalan yang mulus-mulus, sampai membengkakkan utang negara? Memangnya tukang becak bukan termasuk rakyat Indonesia, sehingga rakyat dibeda-bedakan dari profesinya, dari mata pencariannya?! Tapi giliran masa kampanye pemilihan umum, mengapa para calon pejabat itu ramai-ramai mendatangi tukang becak, becaknya dirias indah, tukang becaknya dikasih duit. Dan ketika menang pemilihan, saat pelantikannya naik becak, seolah-olah sayang sama tukang becak.

Dasar badut!

Jokowi Sendiri Yang Memukul Daya Beli Masyarakat

http://ekbis.rmol.co/read/2017/07/15/299171/Jokowi-Sendiri-Yang-Memukul-Daya-Beli-Masyarakat-

RMOL. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia menghadapi dua masalah yang serius dan sulit ditemukan jalan keluarnya. Yaitu, inflasi yang tinggi dan daya beli masyarakat yang turun.

Padahal, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi. Konsumsi menyumbang 53 persen PDB. Kalau daya beli jatuh maka otomatis pajak jatuh.

"Siapa yang memukul daya beli masyarakat ? Jokowi sendiri. Pertama, Presiden dengan tanpa ragu ragu dan penuh keberanian menaikkan harga bahan bakar minyak tepat di awal pemerintahanya," kata analis ekonomi, Salamuddin Daeng, lewat pesan elektronik.

Menurut dia, itu adalah tindakan super konyol karena pada saat itu harga minyak mentah sedang jatuh. Justru negara-negara lain menggunakan kesempatan itu untuk menekan biaya produksi, menekan harga, sekaligus mengangkat daya beli yang tengah jatuh, yang merupakan masalah ekonomi yang dihadapi oleh sebagian besar negara.

"Lebih dungu lagi pemerintah menaikkan harga listrik hampir setiap bulan sementara harga energi primer jatuh. Kebijakan ini telah memukul daya beli dan sekaligus melipatgandakan inflasi yang terus ditutup-tutupi dengan manipulasi statistik," jelasnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terjadi sekarang hanya ditopang oleh tambahan utang pemerintah yang bernilai lebih dari Rp 1000 triliun dalam 2,5 tahun terakhir, dan kemungkinan Rp 1500 triliun dalam 3 tahun anggaran. Sandaran ekonomi pada utang tidak akan berdampak pada penerimaan pajak uang yang berarti. Pada tahap selanjutnya utang akan menjadi beban fiskal.

Sementara, utang tidak digunakan sebagai belanja dalam kegiatan yang menciptakan multiplier effect terhadap ekonomi dalam negeri. Utang sebagian besar digunakan untuk membeli barang-barang impor yang menciptakan dampak berganda bagi keuntungan bagi negara lain.

Jadi, ambruknya penerimaan pemerintah sekarang yang menimbulkan defisit hingga 2,92 persen PDB, dugaan saya lebih dari 3 persen PDB, adalah karena ulah pemerintah sendiri, yakni membongi rakyat dan menipu diri sendiri setiap hari. Kalau mau keadaan membaik cobalah bersikap jujur dan jangan suka menipu," kata Salamuddin.

Cara pemerintah dalam menggunakan anggaran pun membabi buta seakan menganggap anggarannya masih besar. Padahal, akan timpang jika dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya dengan penerimaan pajak Rp 1000 triliun dengan nilai tukar rupiah terhadap USD rata-rata Rp 8000. Sekarang, penerimaan pajak hanya berkisar Rp 1000 triliun sampai Rp 1100 triliun, tetapi kurs Rp 13500/USD. Dengan demikian, kualitas anggaran pemerintahan Jokowi menurun hampir separuh.

"Anggaran Jokowi berdasarkan selisih kurs tersebut secara riil hanya 60 persen dari anggaran yang dimiliki pemerintahan sebelumnya. Bagaimana mungkin pemerintahan ini dengan gagah berani membangun infrastruktur dengan menyandarkan pada bahan baku dan barang modal impor," terangnya.

Cara semacam itu, pungkas Salamuddin, hanya akan menguntungkan penerimaan pajak di negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai pasar. Haluan ekonomi semacam ini akan menyebabkan defisit anggaran tahun 2018 semakin parah. [ald]

Faisal Basri: Jokowi Terlalu Memanjakan Kelas Menengah, Abaikan Petani

http://ekbis.rmol.co/read/2017/03/14/283721/Faisal-Basri:-Jokowi-Terlalu-Memanjakan-Kelas-Menengah,-Abaikan-Petani-

RMOL. Indonesia memiliki 78 persen orang miskin yang mayoritas tinggal di desa dan bertani.

Di masa kini, nilai tukar petani (NTP) terus melorot hingga Februari 2017. Akibatnya, buruh tani dan juga petani gurem hidup miskin jauh dari kesejahteraan.

"Pemerintah ini ngomongnya selangit. Ada duit 70 triliun, tapi petani sengsara semua. Ini duit jangan-jangan buat dibagi-bagi orang tertentu saja," cetus pengamat ekonomi politik, Faisal Basri di Forum Diskusi Ekonomi Politik, Menteng, Jakarta, Selasa, (14/3).

Petani Indonesia juga memiliki upah paling rendah dengan jam kerja tertinggi, peringkat tiga di dunia. 

"Jam kerjanya berat, tapi dapetnya sedikit. Makanya biasanya nyari lagi kerja sampingan," imbuhnya.

Salah satu bukti kesejahteraan petani menurun, menurut Faisal, bisa dilihat dari penjualan motor terus menurun selama dua tahun terakhir. Sementara, penjualan mobil naik. 

Faisal menilai pemerintah terlalu memanjakan kaum menengah dengan membangun infrastruktur bagi mobilitas kaum menengah ke atas. Sementara, sektor pertanian tidak dibangun agar petani tersejahterakan. 

"Kelas menengah ini dimanja Jokowi. Bangun MRT, bangun tol buat mudik. Yang dipikirin mudik, bukan menyelesaikan persoalan petani yang gak selesai hanya dengan dibagi bibit gratis," kritiknya.[wid]

Jembatan Layang Simpang Susun Semanggi

Rabu, 19 Juli 2017

PEMERINTAHAN-PEMERINTAHAN YANG JAHAT

Kalau anda kesulitan melihat pemerintahan Soeharto, Megawati, SBY dan Jokowi, para gubernur, para walikota, anggota DPR dan DPRD, plus ketua DPR RI saat ini; Setya Novanto yang sudah ditetapkan sebagai tersangka korupsi e-KTP oleh KPK, sebagai pemerintahan yang brengsek, tetapi anda berpikir bahwa pemerintahan adalah suci dan tak mungkin salah, sehingga anda merasa menjadi pahlawan jika melaksanakan perintah-perintahnya yang jahat, maka berikut ini anda saya ajak berkeliling dunia, menyaksikan catatan sejarah tentang pemerintahan yang jahat;

Apa pendapat anda tentang pemerintahan Belanda yang bercokol selama 360 tahun di negeri ini? Apakah raja Willem III yang memerintah kerajaan Belanda saat itu yang datang dan menjajah bangsa Indonesia? Tidak! Bukan! Raja Willem III di negeri Belanda sedang santai, sedang duduk atau sedang tidur, ketika pasukannya mendatangi Indonesia dan melakukan kejahatan di negeri ini. Raja Willem III baik-baik dan tenang-tenang seakan tak berdosa, tapi pasukannya kita nilai kejam dan tak berperikemanusiaan. Tapi tahukah anda bahwa pasukan Belanda itu takkan menjajah Indonesia jika tak ada perintah dari raja Willem III? Nah, jika anda menilai pasukan Belanda itu jahat dan kejam, maka seperti itulah para pedagang asongan, pedagang kakilima, gelandangan dan pengemis itu menilai anda, pasukan Satpol PP. Anda melakukan perintah boss yang salah, perintah yang error, perintah yang jahat, perintah yang melanggar Pancasila dan UUD 1945. Bahwa peraturan-peraturan yang dibuat oleh walikota atau bupati atau gubernur anda itu bertentangan dengan konstitusi negara kita.

Dan sama sebagaimana peperangan kita tidak disasarkan ke raja Willem III, melainkan ke pasukan Belandanya yang kita buru dan tembaki, demikianlah masyarakat fakir miskin tidak menjangkau gubernur/walikota/bupati anda, tetapi memaki-maki dan melawan anda. Masyarakat sebenci apapun terhadap gubernur/walikota/bupatinya tak mungkin bisa masuk ke kantor maupun rumahnya, sebab anda menjaga keamanannya. Anda melindungi orang yang salah oleh sebab anda menerima bayaran darinya. Coba, seandainya anda tidak melindungi boss anda, pasti masyarakat akan mendatangi boss anda dan memenggal kepalanya.

Anda berdiri di atas upah, bukan di atas kebenaran! Oleh sebab upah anda tidak peduli seperti apa boss anda. Salahpun anda bela mati-matian. Apakah anda pikir bisa mendapatkan pahala dari TUHAN oleh sebab melindungi kesalahan? Tak mungkin itu!

Pemimpin anda manusia biasa. Karena manusia biasa maka hukum umum yang akan menghakiminya. Jika dia korupsi, maka KPK akan menangkapnya sekalipun dia ketua DPR maupun ketua partai Golkar. Jika dia pembunuh apakah dia tidak berdosa oleh sebab jabatannya jendral? Mari mulai memikirkannya.

Beberapa waktu yang lalu, paus Fransiskus, Vatikan, meminta maaf kepada kaum Protestan, oleh sebab di zaman pertengahan(538-1798 Tarikh Masehi), para paus yang berkuasa di Vatikan melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Paus, seorang kepala agama Katolik bisa sampai sejahat itu, lebih-lebih cuma gubernur/walikota/bupati yang politikus. Orang-orang Kristen yang tidak mau masuk Katolik dikejar-kejar, seperti anda mengejar-ngejar pedagang asongan dan pengamen. Mereka dipukul, ditendang, hingga dimasukkan ke kandang singa, sama seperti yang anda lakukan terhadap fakir miskin dan rakyat terlantar, yang kemudian anda lemparkan ke Panti Rehabilitasi Sosial. Mungkin masih mending yang dimangsakan singa, mereka bisa mati, bisa bebas dari penderitaan. Tapi orang-orang yang dimasukkan ke Panti Rehabilitasi Sosial menikmati penderitaan disepanjang umurnya. Anda lebih jahat dari pasukan paus Vatikan, lebih-lebih untuk negara merdeka Indonesia. Zaman damai bisa lebih jahat dari zaman perang, ini aneh sekali!

Negara Jerman pernah mempunyai sejarah buruk di tahun 1933-1945, yakni di zaman pemerintahan Adolf Hitler. Hitler memerintahkan pasukannya menangkapi orang-orang Yahudi dan memasukkan ke kamp-kamp konsentrasi. Sebagian mereka dimasukkan ke kamar-kamar gas yang setiap harinya membunuh 12.000 orang. Sama seperti anda yang diperintahkan untuk menangkapi gelandangan dan pengemis yang kemudian anda masukkan ke Panti Rehabilitasi Sosial yang penghuninya melebihi daya tampungnya, sehingga mereka berdesak-desakan dan membuat pengap ruangan. Anda benar-benar kejam tak berperasaan sama sekali.

Tak lama lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-72 tahun. Masakan kita masih terus begini; menjajah sesama bangsa sendiri hanya oleh sebab mereka fakir miskin dan rakyat terlantar? Hanya oleh sebab upah beberapa juta, anda begitu mata gelap?!

Isi Pembukaan UUD 1945
Republik Indonesia

Pembukaan UUD 1945
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : 

Ketuhanan Yang Maha Esa,

kemanusiaan yang adil dan beradab,

persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,

serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."
Hasil gambar untuk gambar kemerdekaan ke-72

Selasa, 18 Juli 2017

MEMBUNUH TUBUH DENGAN MEMBUNUH PIKIRAN

Rumus manusia menjadi makhluk yang hidup itu: Tubuh + Roh = Jiwa, sedangkan rumus manusia yang mati, sebaliknya: Jiwa - Roh = Tubuh.

Kejadian 2:7ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Tubuh dikasih roh, dikasih napas hidup(Oksigen), maka berdetaklah jantung. Jantung memompa darah ke otak, timbullah kesadaran. Sadar artinya akal pikirannya bekerja. Lawan katanya adalah tidur, yaitu ketika akal pikirannya beristirahat. Jadi, yang dimaksud dengan jiwa adalah akal pikiran atau pemikiran kita. Di sinilah manusia dibedakan antara satu dengan yang lainnya, sebab karakter atau pemikiran orang yang berbeda-beda.

Antara anda dengan saya, ada 2 hal yang membedakannya;

1. Rupa/wajah; menunjuk pada tubuh/jasmani/fisik, suatu alam yang kelihatan.

2. Jiwa/karakter/pemikiran; menunjuk pada roh/rohaniah, suatu alam yang tak kelihatan.

Abaikanlah ajaran takhyul yang mengatakan roh sebagai sesuatu yang bergentayangan, sebab roh yang dimaksud di sini adalah tentang napas hidup atau bahasa ilmiahnya: Oksigen(O2). Roh di sini tak bisa apa-apa selain dari memberikan daya hidup, seperti baterai yang dimasukkan ke mesin jam, membuat mesin jam itu mulai berputar. Berputarnya mesin jam itulah yang merupakan detak kehidupan kita.

Jika Kejadian 2:7 berbicara tentang proses manusia menjadi hidup, ayat di bawah ini menerangkan bagaimana proses manusia mati;

Kej. 35:18Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin.

Yang pertama ELOHIM YAHWEH menghembuskan nafas, memasukkan nafas ke Adam, yang kedua Rahel, istri Yakub mengeluarkan nafas untuk mati. Artinya nafas yang terakhir, bukan tentang roh-roh yang bergentayangan. Jadi, kematian itu seperti jam yang dicabut baterainya, mesinnya berhenti berputar.

Tentang tubuh dan jiwa itu ELOHIM YESHUA menerangkan;

Mat. 10:28Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Orang bisa membunuh tubuh tapi tak berkuasa membunuh jiwa. Jiwa atau pikiran kita inilah kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh TUHAN. Seperti apa jiwa atau pikiran atau yang biasa disebut dengan iman kita itulah yang menentukan nasib kita kelak. ELOHIM YAHWEH melihat jiwa kita, bukan melihat tubuh kita. Seganteng atau secantik apapun kita itu tak mempengaruhi keselamatan kita.

1Sa. 16:7Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Sebagai penginjil yang berinteraksi dengan kalangan Muslim, tentu saja saya sering menghadapi ancaman pembunuhan, baik secara langsung maupun melalui media internet. Kata mereka: "Darah Rudyanto, halal!" Mereka pikir dengan membunuh saya, maka ajaran saya akan selesai. Tentu saja mereka salah pikir. Sebab ajaran saya yang saya sampaikan ke forum umum telah membuat jiwa saya berlipat ganda. Setiap orang yang menerima ajaran saya adalah penjelmaan saya, seperti konsepnya "copypaste", mati satu tumbuh seribu. Saya boleh mati tapi jiwa saya masih bergentayangan di antara masyarakat. Dan itu akan berganda jika orang membagi-bagikannya ke orang lainnya lagi. Jiwa saya menjadi beranak cucu selama-lamanya.

Soekarno boleh mati, tapi ajaran Marhaenismenya hingga kini masih dihidupkan banyak orang di negeri ini. Jadi, membunuh tubuh belum tentu membunuh jiwa. Tapi jika kita membunuh jiwa, maka selesailah ajaran itu. Kita patah-patahkan dalil atau argumentasi orang, maka ajaran itu sudah tak mungkin diikuti orang, sudah tak laku lagi. Melalui forum diskusi kita habisi ajarannya.

Demikian pula dengan drama perseteruan Ahok dengan habib Rizieq Shihab. Habib Rizieq Shihab memang berhasil memenjarakan Ahok, tapi nama Ahok masih tetap harum semerbak, masih didukung banyak orang, sebab citra dirinya bersih. Di dalam penjara ada satu Ahok, tapi di luar penjara ada ribuan Ahok. Berbeda dengan kasus chat porno habib Rizieq Shihab. Jika tuduhan polisi itu benar, maka logikanya habislah kariernya sebagai ulama, sebab yang hancur adalah reputasinya. Logisnya dia akan ditinggalkan oleh umatnya dan takkan ada lagi yang mempercayai dakwahnya.

Hasil gambar untuk gambar ahok dengan habib rizieq

Senin, 17 Juli 2017

MEMERIKSA HATI NURANI

Ketika ada maling yang dihajar babak belur, maka timbullah pro dan kontra. Ada yang setuju maling itu dihajar babak belur dan ada juga yang tidak setuju. Kedua pendapat yang saling bertentangan tersebut tidak boleh dibiarkan mengambang sehingga tidak menjelaskan kebenarannya, mana yang salah dengan mana yang benar, juga jangan diselesaikan secara voting, suara terbanyak. Sebab suara terbanyak itu berkaitan dengan selera orang, bukan suatu kebenaran.

Untuk negara Indonesia, kita mempunyai perangkat kebenaran yaitu Pancasila dan UUD 1945, plus kitab-kitab suci berbagai agama. Kita yang mengagung-agungkan Pancasila dan UUD 1945 harusnya mempunyai keyakinan bahwa falsafah dan dasar negara itu sudah dibuat berdasarkan pertimbangan hati nurani bangsa Indonesia. Tapi bilamana suatu masalah tidak tersediakan di Pancasila dan UUD 1945, kita harusnya menengok pada kitab-kitab suci yang kita akui keabsahannya sebagai petunjuk hidup.

Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, manakah yang berperikemanusiaan, manakah yang adil dan manakah yang beradab antara menghajar maling hingga babak belur dengan menyerahkannya ke pihak yang berwajib? Lebih-lebih ada lembaga kepolisian yang disebut sebagai pihak yang berkewajiban menyelesaikan secara hukum, maka bagaimanakah kita mengijinkan main hakim sendiri?

Dalam undang-undang penyelesaian hukum atas orang yang bersalah adalah hukuman penjara dan denda, bukan hukuman fisik seperti pada syariah Islam. Dan seorang maling yang dihajar babak belur diberikan hak untuk menuntut balik orang-orang yang menganiayanya. Itulah hukum hati nurani bangsa Indonesia. Karena itu orang-orang yang setuju pada model hukuman menghajar maling, maka mereka inilah yang bersalah, yang tidak memiliki hati nurani.

Antara orang-orang yang menghajar maling dengan penonton yang memberikan penilaian, itu harus kita bedakan. Untuk orang-orang yang menghajar maling, mereka melakukannya secara emosional. Itu manusiawi sekalipun melanggar hukum dan terkena konsekwensi hukum. Disebut manusiawi, sebab emosional itu bisa terjadi pada siapa saja. Bisa jadi kita emosi terhadap istri atau anak-anak kita sendiri, bukan hanya terhadap maling saja. Termasuk perilaku maling itu juga manusiawi, artinya kitapun suatu kali bisa mata gelap dan melakukan maling. Tapi penonton adalah juri. Penonton adalah hakim. Bahwa tontonan orang memukul orang itu juga merupakan ujian bagi kita yang menonton. Justru hukum itu ada di tangan kita, penonton. Kita adalah hakim di hadapan TUHAN, bukan hakim bertoga di gedung pengadilan. Apa penilaian kita tentang fenomena orang memukul orang itu akan dinilai oleh TUHAN. Kalau hakim bertoga keputusannya akan dinilai oleh masyarakat, apakah hakim itu bijaksana atau zalim, tapi penilaian kita akan dinilai oleh TUHAN.

Kesalahan menilai menjadi dosa, kebenaran menilai akan menjadi kebenarannya. Nah, sekarang kita mencoba memikirkan sebuah ayat dalam sebuah kitab suci;

Im. 19:18Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Ayat itu berbunyi kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Itu artinya kita perlu mengambil posisi sebagai maling itu, bahwa seandainya maling itu adalah kita sendiri. Maukah kita dipukuli orang seperti itu?

Untuk penjabaran perbuatan maling itu mari kita lihat ayat yang lain;

Yohanes 8:4

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Mungkin kita bukan maling, tapi korupsi. Mungkin bukan korupsi tapi menipu orang. Mungkin bukan menipu orang tapi berzinah dengan istri orang. Mungkin bukan berzinah tapi motor kita menabrak orang. Mungkin bukan menabrak orang, tapi berkata-kata kasar yang membuat orang marah. Mungkin bukan berkata-kata kasar tapi dianggap menghina agama FPI. Mungkin bukan menghina agama FPI, tapi tak bisa membayar utang, dan lain-lainnya. Bukankah ada banyak perbuatan yang selain maling yang bisa membuat orang emosional pada kita? Nah, dari sini kedapatanlah bahwa orang-orang yang menyetujui main hakim sendiri itu tidak benar dan terlihat bodoh, kurang berpikir secara luas.

Lebih jauh lagi akan terlihat sebagai orang yang tidak bertuhan. Sebab orang yang bertuhan akan berkaitan erat dengan masalah ampun-mengampuni. Di mana ketika dirinya berdosa pada TUHAN, tidakkah dia sangat mengharapkan kemurahan hati TUHAN?! Maukah dirinya tidak diampuni dan dihajar TUHAN babak belur?!

Matius 18:21

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Jadi, orang yang setuju dengan main kekerasan adalah orang yang jiwanya sangat jahat, bukan berasal dari TUHAN, tidak memiliki belas kasihan, egoisme, merasa benar sendiri, tidak berperikemanusiaan, tidak berkeadilan dan tidak beradab. Inilah orang-orang yang memberatkan dan bikin repot Indonesia. Terhadap orang demikian justru TUHAN mengambil tindakan pemusnahan. Maling dan orang-orang yang emosional bisa diampuni dosanya, tapi penonton yang menyetujui hukum kekerasan tidak bisa diampuni dosanya. Sebab dia itulah pecundang bangsa.

TUHAN saja benci dengan orang-orang yang seperti itu, maka kita juga harus membenci orang-orang yang seperti itu. Jika TUHAN melemparkan orang itu ke api neraka, maka dalam budaya Yahudi orang-orang seperti itu akan dikucilkan, sebab itu wabah penyakit masyarakat. Dari dia menilai sesuatu kita bisa mengenali jati dirinya;

Matius 7:15

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
7:16Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
7:19Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
7:20Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Mat. 12:37Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Hasil gambar untuk gambar melihat orang dihajar orang